Konten dari Pengguna

Kembali ke Pelukan Belitung: Mengobati Rindu di Negeri Laskar Pelangi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari JONATHAN HESKHI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

foto Bandara Pulau Belitung diambil oleh penulis
zoom-in-whitePerbesar
foto Bandara Pulau Belitung diambil oleh penulis

Menginjakkan kaki kembali di Bandara H.A.S. Hanandjoeddin, ada kelegaan luar biasa yang menyelimuti dada. Udara tropis yang hangat dan aroma laut yang samar-samar terbawa angin seolah menyambut kepulangan seorang kawan lama. Bertahun-tahun sejak kunjungan pertama, kerinduan terhadap Belitung negeri tempat pelangi seakan tak pernah pudar semakin memuncak. Kepulauan ini selalu memiliki cara magis untuk menarik siapa saja kembali ke pelukannya, menjanjikan pelarian dan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk beton kota besar.

Berbeda dari pantai lain yang umumnya hanya berhias pasir melandai atau ombak besar bergulung, pantai Belitung seperti Tanjung Tinggi menyuguhkan lanskap lanskap megalitikum yang eksotis. Pesisirnya dipenuhi tumpukan batu granit raksasa berumur ratusan juta tahun yang membentuk lorong dan labirin alami di tepi laut. Ombaknya sangat tenang karena benteng batu ini, membingkai air laut bergradasi pirus (turquoise) jernih hingga ke dasarnya. Menjejakkan kaki di atas pasir putihnya yang selembut dan dingin menyerupai tepung tapioka di celah bebatuan tempat Ikal dan kawan-kawan Laskar Pelangi dulu berlarian seketika meluruhkan seluruh penat di pundak.

foto Pantai Tanjung Tinggi diambil oleh penulis

Kerinduan pada Belitung pun makin lengkap saat menyusuri Manggar, sang Kota 1001 Warung Kopi. Di atas meja kayu kedai tua, aroma biji kopi robusta yang disaring berulang kali dengan kain kasa menyapa hangat. Secangkir kopi pekat berdampingan sempurna dengan seporsi Mie Belitung bertabur udang dan emping, disiram kuah kaldu udang kental yang gurih-manis. Di sinilah, lewat percakapan santai, tawa lepas, dan keramahan warga lokal yang jujur, pelipur lara yang sesungguhnya dapat dirasakan.

Ketika matahari mulai merendah di ufuk barat Pantai Tanjung Pendam dan memancarkan semburat jingga keemasan di atas permukaan laut yang tenang, saya menyadari satu hal. Belitung sungguh lebih dari sekadar destinasi wisata liburan; ia adalah rumah persinggahan bagi jiwa-jiwa yang lelah. Perjalanan kali ini bukanlah sekadar untuk liburan singkat lalu mengucapkan selamat tinggal, melainkan sebuah pelukan hangat untuk mengobati kerinduan sebelum akhirnya rindu itu memanggil saya kembali.