Squishy dan Stress Toys Kembali Viral: Mengapa Mainan Ini Diburu Lagi?

Mahasiswa Aktif Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Bunda Mulia
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Rachel White tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena stress toys dan squishy belakangan ini kembali merajai linimasa media sosial hingga etalase pertokoan offline. Jika beberapa tahun lalu keberadaannya sempat meredup, kini squishy dan berbagai bentuk stress toys justru kembali naik daun dan diburu oleh kelompok anak-anak hingga dewasa muda. Berbagai bentuk unik mulai dari bentuk keju, kubus, hingga miniatur roti-rotian tidak hanya membanjiri siaran langsung di TikTok, tetapi juga mulai masuk ke offline store resmi di berbagai pusat perbelanjaan. Kembalinya tren stress toys ini tidak terlepas dari fenomena global di media sosial, ketika konten visual dan sensorik (ASMR) meremas objek elastis terbukti mampu memberikan efek ketenangan instan. Secara ilmiah, aktivitas stimulasi taktil (sentuhan) seperti meremas atau memilin objek lentur dapat membantu mengalihkan pikiran dari rasa cemas, meredakan ketegangan otot ringan, serta merangsang pelepasan hormon endorfin. Dalam dunia psikologi, interaksi fisik yang sederhana ini sering kali dimanfaatkan sebagai bentuk sarana pelepas stres yang praktis di tengah kesibukan harian. Kreativitas produsen dalam mengolah variasi isian mulai dari tekstur yang padat, lembut, hingga sensasi renyah membuat hmasa kini tidak lagi dipandang sebagai mainan biasa. Kombinasi antara estetika visual yang menggemaskan dan fungsinya sebagai alat pertolongan pertama saat stres menjadikan fenomena ini lebih dari sekadar tren musiman. Pada akhirnya, meroketnya kembali popularitas squishy mencerminkan kebutuhan masyarakat modern akan media pelepas stres yang sederhana, terjangkau, dan menyenangkan.
