Konten dari Pengguna

Saat Harga Naik dan Gaji Tak Bertambah: Bagaimana Membiayai Pendidikan Anak?

Chitra Laksmi Rithmaya, S.E., M.M

Chitra Laksmi Rithmaya, S.E., M.M

Dosen Manajemen Keuangan dan Perbankan Universitas Hayam Wuruk Perbannas yang gemar menulis dan berbagi pengalaman praktis seputar manajemen dalam kehidupan sehari-hari

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Chitra Laksmi Rithmaya, S.E., M.M tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi gaji. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gaji. Foto: Shutterstock

Di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan, banyak keluarga menghadapi persoalan yang sama: biaya hidup terus meningkat, sementara pendapatan tidak selalu bertambah secepat kebutuhan. Harga bahan pokok naik, biaya transportasi meningkat, tagihan rumah tangga bertambah, dan pada saat yang sama, biaya pendidikan anak juga terus mengalami kenaikan.

Bagi sebagian orang tua, kondisi ini menjadi dilema yang tidak mudah. Di satu sisi, mereka ingin memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Di sisi lain, kemampuan finansial keluarga memiliki batas yang harus dikelola dengan bijak. Tidak sedikit orang tua yang rela mengurangi kebutuhan pribadi, mengambil pekerjaan tambahan, atau menunda berbagai hal demi memastikan pendidikan anak tetap berjalan dengan baik.

Namun, di tengah tekanan ekonomi saat ini, semangat saja tidak cukup. Diperlukan perencanaan keuangan yang matang agar pendidikan anak tetap menjadi prioritas tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi keluarga.

Pendidikan Bukan Pengeluaran, melainkan Investasi

Banyak ahli keuangan menyebutkan pendidikan sebagai salah satu investasi jangka panjang yang paling berharga. Pendidikan tidak hanya meningkatkan peluang kerja dan pendapatan di masa depan, tetapi juga membentuk karakter, keterampilan, serta kemampuan seseorang dalam menghadapi perubahan zaman.

Safir Senduk dalam bukunya Mengelola Keuangan Keluarga menjelaskan bahwa salah satu tujuan keluarga yang paling penting adalah mempersiapkan dana pendidikan anak sejak dini. Semakin awal perencanaan dilakukan, semakin ringan beban yang harus ditanggung keluarga di masa mendatang.

Ilustrasi mengatur keuangan. Foto: Shutterstock

Sayangnya, masih banyak keluarga yang baru memikirkan biaya pendidikan ketika tahun ajaran baru tiba. Akibatnya, kebutuhan pendidikan terasa sangat berat karena harus dipenuhi dalam waktu yang bersamaan dengan berbagai kebutuhan lainnya.

Padahal, prinsip dasar perencanaan keuangan adalah mengubah pengeluaran besar menjadi setoran kecil yang dilakukan secara rutin. Menyisihkan dana pendidikan setiap bulan akan jauh lebih ringan dibandingkan mencari dana dalam jumlah besar secara mendadak.

Membedakan Kebutuhan dan Keinginan

Di era digital saat ini, tantangan keluarga bukan hanya terbatas pada besarnya pendapatan, melainkan juga pada pola konsumtif yang semakin kompleks. Berbagai promosi belanja online, tren gaya hidup, dan pengaruh media sosial sering kali membuat masyarakat mengeluarkan uang untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu mendesak.

Morgan Housel dalam bukunya The Psychology of Money menekan bahwa keberhasilan keuangan lebih banyak ditentukan oleh perilaku daripada tingkat kecerdasan seseorang. Kemampuan mengendalikan pengeluaran sering kali lebih penting dibandingkan kemampuan memperoleh penghasilan yang besar.

Dalam konteks pendidikan anak, orang tua perlu berani membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Pendidikan merupakan kebutuhan jangka panjang yang akan memberikan manfaat berkelanjutan, sedangkan banyak pengeluaran konsumtif hanya memberikan kepuasan sesaat.

Ilustrasi pendidikan anak investasi masa depan. Foto: Generated by AI

Bukan berarti keluarga tidak boleh menikmati hasil kerja kerasnya. Namun, keseimbangan perlu dijaga agar tujuan pendidikan anak tidak terganggu oleh gaya hidup yang berlebihan.

Mengajarkan Literasi Keuangan kepada Anak

Pendidikan sejatinya tidak hanya diperoleh di sekolah. Rumah adalah tempat pertama anak belajar mengenai nilai, tanggung jawab, dan pengelolaan keuangan.

Anak perlu memahami bahwa setiap fasilitas yang mereka nikmati merupakan hasil dari kerja keras orang tua. Dengan pemahaman tersebut, mereka akan lebih menghargai proses belajar dan lebih bijak dalam menggunakan uang.

Mengajak anak berdiskusi sederhana tentang pentingnya menabung, menyusun prioritas, atau mengelola uang saku dapat menjadi langkah awal membangun literasi keuangan sejak dini. Kebiasaan ini akan menjadi bekal berharga ketika mereka dewasa nanti.

Jangan Ragu Mencari Alternatif

Ilustrasi ekonomi. Foto: Pixabay

Kondisi ekonomi yang sulit bukan berarti menutup kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas. Saat ini tersedia banyak alternatif yang dapat dimanfaatkan keluarga untuk mengurangi beban biaya pendidikan.

Perkembangan teknologi telah membuka akses terhadap berbagai sumber belajar gratis, pelatihan daring, kursus bersertifikat, hingga program pengembangan keterampilan yang dapat diakses dari rumah.

Selain itu, orang tua juga dapat mencari peluang tambahan penghasilan melalui usaha sampingan, pekerjaan paruh waktu, atau pemanfaatan platform digital. Penghasilan tambahan tersebut dapat dialokasikan secara khusus untuk kebutuhan pendidikan anak.

Tidak kalah penting juga adalah membangun budaya hemat dan disiplin keuangan di lingkungan keluarga. Sering kali perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten memberikan hasil yang jauh lebih besar dibandingkan perubahan besar yang akan berlangsung sesaat.

Memanfaatkan Peluang Beasiswa yang Semakin Beragam

Ilustrasi penerima beasiswa. Foto: Kemenkeu RI

Masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa beasiswa hanya diperuntukkan bagi siswa dengan prestasi akademik luar biasa. Padahal, saat ini peluang perolehan bantuan pendidikan semakin luas dan beragam.

Pemerintah, perguruan tinggi, perusahaan swasta, yayasan pendidikan, hingga lembaga sosial menyediakan berbagai program bantuan pendidikan dengan kriteria yang berbeda-beda. Ada beasiswa prestasi akademik, prestasi non-akademik, bantuan berdasarkan kondisi ekonomi keluarga, hingga program khusus yang diberikan kepada kelompok masyarakat tertentu.

Banyak perguruan tinggi di Indonesia juga menyediakan skema pembiayaan pendidikan yang memungkinkan mahasiswa memperoleh potongan biaya kuliah, bahkan pendidikan pembiayaan penuh hingga lulus. Sayangnya peluang tersebut sering kali terlewat karena kurangnya informasi. Oleh sebab itu, orang tua dan siswa perlu lebih aktif mencari informasi melalui sekolah, perguruan tinggi, instansi pemerintah, maupun media sosial resmi penyelenggara program beasiswa.

Di era digital seperti sekarang, informasi tersedia dengan sangat mudah. Hal yang diperlukan adalah kemauan untuk mencari, mempersiapkan diri, dan berani mencoba mendaftar.

Literasi Keuangan Menjadi Kunci

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kemampuan mengelola keuangan memiliki hubungan erat dengan kesiapan keluarga dalam membiayai pendidikan anak.

Ilustrasi biaya pendidikan anak. Foto: Shutterstock

Penelitian yang dilakukan oleh Rio Rita dan Benny Santoso menemukan bahwa tingkat literasi keuangan yang baik berkontribusi terhadap perencanaan dana pendidikan anak yang lebih baik. Semakin baik pemahaman keluarga mengenal pengelolaan keuangan, semakin besar peluang mereka mempersiapkan kebutuhan pendidikan secara terencana.

Temuan serupa juga menunjukkan bahwa literasi keuangan dan tingkat pendapatan berpengaruh terhadap kemampuan keluarga dalam merencanakan biaya pendidikan anak. Hal ini menunjukkan bahwa membangun kebiasaan mengelola keuangan yang sehat sama pentingnya dengan meningkatkan pendapatan.

Menjaga Harapan di Tengah Tantangan

Membiayai pendidikan anak di tengah kondisi ekonomi yang tidak mudah memang menjadi tantangan tersendiri. Namun, tantangan tersebut bukan alasan untuk menyerah.

Dengan perencanaan yang matang, pengelolaan keuangan yang disiplin, pemanfaatan berbagai peluang beasiswa, serta komitmen seluruh anggota keluarga, pendidikan tetap dapat menjadi prioritas yang terjangkau. Pada akhirnya, anak tidak selalu membutuhkan fasilitas yang paling mahal. Mereka membutuhkan dukungan, perhatian dan keteladanan orang tua dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Karena sesungguhnya, pendidikan terbaik bukan hanya tentang berapa besar biaya yang dikeluarkan, melainkan juga tentang seberapa besar komitmen keluarga dalam memperjuangkan masa depan anak-anaknya.