Konten dari Pengguna

Diplomasi Budaya Desa Gilangharjo: Petilasan Gilanglipuro dan Kirab Budaya

Sabrina Aurellia Widani

Sabrina Aurellia Widani

Mahasiswa S1 Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret Surakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sabrina Aurellia Widani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Era globalisasi menyebabkan penyebaran informasi dan budaya dapat dilakukan dengan sangat mudah dan dengan jangkauan yang sangat luas, tidak terbatas ruang dan waktu. Penyebaran budaya yang dapat dilakukan dengan cepat dan luas dapat memberi banyak keuntungan. Tidak hanya mempromosikan budaya itu sendiri, namun juga dapat menjadi salah satu cara berdiplomasi.

Dalam era globalisasi saat ini, hubungan internasional tidak hanya terbatas pada bidang politik dan ekonomi, tetapi juga mencakup bidang budaya. Budaya telah menjadi salah satu aspek penting dalam hubungan internasional, karena dapat menjadi alat untuk mempromosikan citra negara. Diplomasi budaya ini dapat dilakukan oleh berbagai pihak, bukan hanya dari pemerintah nasional saja.

Salah satu pihak yang dapat memiliki peran dalam diplomasi budaya adalah pemerintah desa. Desa Gilangharjo merupakan sebuah desa yang berada di Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa Gilangharjo telah mendapat gelar sebagai Desa Pariwisata sejak tahun 2022 dan Desa Mandiri Budaya sejak tahun 2023 dibawah pimpinan kepala desa Drs. H. Pardiyono. Sehingga, tidak perlu diragukan lagi bahwa desa ini memang memiliki berbagai kekayaan warisan budaya yang masih sangat dilestarikan.

Salah satu situs warisan yang ada di Desa Gilangharjo adalah Petilasan Gilanglipuro yang berada di Pedukuhan Kauman, Desa Gilangharjo. Petilasan ini terdiri dari sebuah batu andesit hitam berbentuk persegi panjang berukuran sekitar 1x1,75meter, yang diyakini sebagai singgasana Panembahan Senopati. Situs ini memiliki sejarah yang sangat kuat yang menjadikannya salah satu destinasi wisata budaya yang ada di Desa Gilangharjo. Oleh karena itu, situs ini banyak dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara untuk mempelajari sejarahnya.

Siraman Petilasan Gilanglipuro

Situs ini memiliki nilai sejarah dan budaya yang penting bagi masyarakat setempat. Situs ini merupakan simbol asal usul peradaban Mataram Islam yang dijaga serta dilestarikan sebagai warisan budaya. Karena sejarahnya tersebut, banyak wisatawan yang mengunjungi situs ini untuk mendalami sejarahnya dan untuk berziarah. Pemerintah Desa Gilangharjo melakukan tugasnya dengan sangat baik untuk menjaga, melestarikan, serta mempromosikan situs ini sebagai situs warisan budaya.

Selain Petilasan Gilanglipuro, Pemerintah desa Gilangharjo juga seringkali menyelenggarakan pertunjukan budaya yang dibuka untuk umum. Salah satu agenda pertunjukan budaya tersebut adalah Kirab Budaya yang diadakan tiap tahun untuk memperingati hari jadi Desa Gilangharjo pada bulan Oktober. Kirab budaya ini diadakan untuk melestarikan dan mempromosikan budaya yang masih terjaga di Desa Gilangharjo. Kirab ini diikuti oleh seluruh komponen masyarakat Desa Gilangharjo yang menampilkan berbagai atraksi kesenian budaya, busana adat, serta kesenian musik tradisional seperti gamelan. Pemerintah Desa Gilangharjo juga mengundang mahasiswa KKN Desa Gilangharjo serta mahasiswa internasional untuk melihat dan mengikuti kirab tersebut. Selain tamu undangan, kirab budaya ini juga menarik banyak perhatian wisatawan mancanegara untuk menyaksikan dan berpartisipasi dalam kirab ini.

Kirab budaya hari jadi Desa Gilangharjo diikuti oleh partisipan mancanegara

Dengan berbagai warisan budaya yang beragam, Pemerintah Desa Gilangharjo memiliki peran yang sangat penting dalam melestarikan dan mempromosikan kekayaan warisan budaya yang ada di wilayahnya. Dengan promosi yang baik, banyak wisatawan domestik maupun mancanegara yang tertarik untuk mengetahui dan mempelajari sejarah serta budaya Desa Gilangharjo. Hal ini menjadikan Pemerintah Desa Gilangharjo sebagai aktor internasional yang cukup baik dalam melakukan diplomasi budaya.