AI dan Mekatronika: Teknologi sebagai Alat untuk Memperluas Kemampuan Manusia

Mengabdi pada Negara, Kanwil Ditjen Imigrasi Jatim sebagai Penelaah Teknis Kebijakan
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Suhendi bin Suparlan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap perkembangan teknologi hampir selalu menghadirkan dua hal yang berjalan bersamaan. Di satu sisi ada harapan bahwa teknologi dapat membantu manusia bekerja lebih efektif. Di sisi lain muncul kekhawatiran bahwa teknologi akan mengambil sebagian peran manusia.
Hal ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru.
Ketika mesin mulai digunakan dalam industri, muncul kekhawatiran bahwa tenaga manusia akan tergantikan. Ketika robot dan sistem mekatronika berkembang, kekhawatiran yang sama kembali muncul. Namun setelah digunakan secara luas, manusia justru belajar menyesuaikan diri. Cara bekerja berubah. Jenis keahlian juga berubah.
Sekarang perdebatan yang mirip muncul pada Artificial Intelligence atau AI.
Yang menarik, banyak orang dapat menerima mesin, robot, sensor, dan sistem otomatis dalam industri. Namun ketika AI mulai digunakan untuk membantu menulis, menganalisis, membuat program, mengolah data, atau menyusun gagasan, penerimaannya tidak selalu sama.
Padahal jika dilihat dari prinsip dasarnya, AI dan mekatronika berada pada posisi yang hampir sama.
Keduanya adalah teknologi.
Keduanya adalah alat.
Keduanya dibuat manusia untuk membantu manusia.
Teknologi sebagai Alat dalam Filsafat Ilmu
Dalam filsafat ilmu, teknologi tidak berdiri sendiri sebagai tujuan. Teknologi merupakan hasil penerapan pengetahuan manusia untuk menyelesaikan persoalan tertentu.
Ilmu berusaha memahami.
Teknologi berusaha menggunakan pemahaman tersebut untuk menghasilkan sesuatu yang dapat digunakan.
Karena itu, teknologi pada dasarnya bersifat instrumental. Artinya, teknologi berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu.
Palu dapat digunakan untuk membangun rumah. Palu juga dapat digunakan untuk merusak sesuatu. Persoalannya bukan terletak pada palunya saja, tetapi pada siapa yang menggunakan, untuk apa digunakan, dan bagaimana penggunaannya.
Prinsip yang sama berlaku pada teknologi modern.
Robot industri tidak memiliki tujuan sendiri. Manusia yang menentukan tujuan penggunaannya.
AI juga demikian. AI tidak menentukan sendiri untuk apa ia digunakan. Manusia memberikan perintah, memilih informasi, memeriksa hasil, dan menentukan keputusan berikutnya.
Dari sini terlihat bahwa pembicaraan tentang teknologi seharusnya tidak hanya berhenti pada kemampuan alat.
Yang lebih penting adalah hubungan antara **manusia, alat, tujuan, dan tanggung jawab**.
Mekatronika Membantu Fisik, AI Membantu Kognitif
Mekatronika berkembang dengan menggabungkan mekanik, elektronika, sensor, sistem kontrol, dan komputasi.
Dalam praktiknya, teknologi ini banyak digunakan untuk membantu pekerjaan fisik.
Robot dapat mengangkat beban.
Mesin dapat melakukan pekerjaan berulang.
Sensor dapat mendeteksi suhu, tekanan, posisi, atau gerakan.
Sistem kontrol dapat menjaga mesin tetap bekerja dalam batas yang telah ditentukan.
Tidak banyak orang mempersoalkan hal tersebut. Bahkan penggunaan mesin sering dianggap sebagai tanda kemajuan teknologi.
AI melakukan hal yang serupa pada wilayah yang berbeda.
AI membantu manusia mengolah informasi.
AI dapat membantu mencari pola, membuat rangkuman, menyusun alternatif, membantu pemrograman, menganalisis data, atau menjelaskan informasi yang kompleks.
Jika mekatronika memperluas kemampuan fisik manusia, AI memperluas kemampuan manusia dalam mengolah informasi.
Perbedaannya berada pada objek yang dikerjakan.
Mekatronika banyak bekerja pada benda dan proses fisik.
AI banyak bekerja pada data, informasi, simbol, bahasa, dan pola.
Namun sebagai teknologi, keduanya tetap merupakan alat.
Sensor dan Batas Sistem
Dalam mekatronika, sensor memiliki peran penting.
Sensor membaca kondisi yang terjadi.
Data dari sensor kemudian masuk ke sistem kontrol.
Sistem menentukan apakah kondisi masih berada dalam batas yang diperbolehkan.
Jika suhu terlalu tinggi, sistem dapat mengurangi kerja mesin.
Jika posisi tidak sesuai, sistem dapat melakukan koreksi.
Artinya, teknologi tidak selalu dibiarkan bekerja tanpa batas.
Justru sistem yang baik membutuhkan mekanisme pengendalian.
AI juga bekerja dengan prinsip pengendalian, meskipun mekanismenya berbeda.
AI memiliki model, parameter, aturan, data, instruksi, dan batas tertentu dalam menghasilkan keluaran.
Karena itu, keberadaan batas pada AI sebenarnya bukan sesuatu yang asing dalam dunia teknologi.
Mesin memiliki batas kerja.
Sensor memiliki rentang pengukuran.
Sistem kontrol memiliki parameter.
AI juga mempunyai batas kemampuan dan aturan penggunaan.
Dalam rekayasa teknologi, batas bukan selalu kelemahan.
Batas justru menjadi bagian dari desain sistem.
Ontologi: Apa Sebenarnya AI dan Mekatronika?
Dalam filsafat ilmu, ontologi membahas tentang hakikat sesuatu.
Jika pertanyaannya adalah apa sebenarnya AI dan mekatronika, jawabannya cukup jelas.
Keduanya bukan manusia.
Keduanya adalah sistem teknologi yang dibuat manusia.
Mekatronika tidak memiliki pengalaman seperti manusia meskipun mampu bergerak secara otomatis.
AI juga tidak menjadi manusia hanya karena mampu menghasilkan bahasa yang terlihat cerdas.
Keduanya tetap merupakan sistem yang bekerja berdasarkan rancangan, data, komponen, aturan, dan proses yang dibuat manusia.
Karena itu, AI tidak perlu ditempatkan sebagai pesaing manusia.
Posisinya lebih tepat sebagai alat yang memperluas kapasitas manusia.
Epistemologi: Bagaimana Pengetahuan Diperoleh?
Epistemologi membahas bagaimana manusia memperoleh dan memeriksa pengetahuan.
Di sinilah penggunaan AI perlu ditempatkan secara proporsional.
AI dapat membantu menemukan informasi.
AI dapat membantu menyusun hubungan antarinformasi.
AI dapat membantu memberikan alternatif jawaban.
Tetapi hasil AI tetap perlu diperiksa.
Hal ini sebenarnya tidak berbeda jauh dengan alat lain dalam ilmu pengetahuan.
Hasil pengukuran sensor harus dikalibrasi.
Hasil laboratorium harus diuji.
Hasil statistik harus diinterpretasikan.
Data dari perangkat lunak juga harus diperiksa.
Karena itu, keluaran AI seharusnya diperlakukan dengan prinsip yang sama.
Gunakan.
Periksa.
Bandingkan.
Validasi.
Kemudian manusia mengambil keputusan.
Dalam ilmu pengetahuan, alat tidak menggantikan proses verifikasi.
Alat justru membantu proses tersebut menjadi lebih cepat dan lebih luas.
Aksiologi: Untuk Apa Teknologi Digunakan?
Aksiologi membahas nilai dan tujuan penggunaan ilmu serta teknologi.
Pada bagian ini, AI dan mekatronika menghadapi persoalan yang sama.
Apakah teknologi digunakan untuk meningkatkan keselamatan?
Apakah digunakan untuk meningkatkan efisiensi?
Apakah digunakan untuk membantu pendidikan?
Apakah digunakan untuk meningkatkan kualitas pekerjaan?
Atau justru digunakan secara tidak bertanggung jawab?
Pertanyaan tersebut tidak hanya berlaku pada AI.
Robot industri juga dapat menimbulkan masalah jika digunakan tanpa mempertimbangkan keselamatan pekerja.
Sistem otomatis juga dapat menimbulkan kerugian jika dirancang tanpa pengawasan.
Teknologi apa pun memiliki manfaat dan risiko.
Karena itu, nilai suatu teknologi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihannya.
Nilainya juga ditentukan oleh tujuan dan cara manusia menggunakannya.
Mengapa AI Lebih Banyak Diperdebatkan?
Pertanyaannya kemudian menjadi menarik.
Mengapa mekatronika relatif mudah diterima, sedangkan AI masih sering dipersoalkan?
Salah satu penyebabnya adalah wilayah yang disentuh.
Mekatronika masuk ke wilayah kerja fisik.
AI masuk ke wilayah yang selama ini dianggap sangat dekat dengan identitas manusia, yaitu berpikir, menulis, menganalisis, membuat gagasan, dan mengambil keputusan.
Ketika mesin membantu tangan manusia, masyarakat sudah terbiasa.
Ketika mesin mulai membantu proses kognitif, muncul reaksi yang berbeda.
Padahal secara prinsip, pola perkembangannya hampir sama.
Manusia menciptakan alat karena memiliki keterbatasan.
Keterbatasan fisik dibantu mesin.
Keterbatasan perhitungan dibantu kalkulator.
Keterbatasan penyimpanan dibantu komputer.
Keterbatasan pengolahan data dibantu perangkat lunak.
Sekarang keterbatasan pengolahan informasi mulai dibantu AI.
Ini merupakan bagian dari perkembangan teknologi.
Penggunaan Alat Tidak Menghilangkan Kemampuan Manusia
Seorang insinyur tidak kehilangan keahlian hanya karena menggunakan perangkat lunak desain.
Seorang peneliti tidak kehilangan kemampuan statistik hanya karena menggunakan SPSS, R, atau perangkat lunak lainnya.
Seorang teknisi tidak kehilangan kemampuan karena menggunakan mesin otomatis.
Begitu juga seseorang tidak otomatis kehilangan kemampuan berpikir karena menggunakan AI.
Persoalannya muncul ketika manusia tidak lagi memahami apa yang dilakukan oleh alat tersebut.
Jika seseorang menerima hasil tanpa memeriksa, masalahnya bukan hanya pada teknologinya.
Masalahnya juga berada pada cara penggunaannya.
Karena itu, kemampuan manusia tetap menjadi bagian utama.
Manusia menentukan masalah.
Manusia memilih alat.
Manusia memberikan konteks.
Manusia memeriksa hasil.
Manusia mempertanggungjawabkan keputusan.
Bukan Persaingan antara Manusia dan Mesin
Melihat AI sebagai lawan manusia kurang membantu untuk memahami arah perkembangan teknologi.
Hubungan yang lebih tepat adalah manusia dengan alat.
Pada mekatronika, manusia menggunakan alat untuk memperbesar kemampuan fisiknya.
Pada AI, manusia menggunakan alat untuk memperbesar kemampuan dalam mengolah informasi.
Keduanya mempunyai prinsip yang sama.
Alat membantu manusia melakukan sesuatu yang sebelumnya membutuhkan waktu lebih lama, tenaga lebih besar, atau kapasitas yang lebih tinggi.
Karena itu, pertanyaan yang penting bukan apakah AI harus diterima atau ditolak.
Pertanyaannya adalah bagaimana AI digunakan secara tepat.
Siapa yang mengendalikan?
Siapa yang memeriksa?
Siapa yang bertanggung jawab?
Dan untuk tujuan apa teknologi digunakan?
Teknologi Tetaplah Teknologi
Pada akhirnya, mekatronika dan AI tidak perlu dipertentangkan.
Mekatronika bekerja lebih banyak pada wilayah fisik.
AI bekerja lebih banyak pada wilayah informasi dan kognitif.
Keduanya lahir dari ilmu pengetahuan.
Keduanya dikembangkan melalui teknologi.
Keduanya juga memiliki keterbatasan.
Dalam filsafat ilmu, teknologi memperoleh makna ketika digunakan dalam hubungan dengan manusia dan tujuan tertentu.
Karena itu, teknologi tidak seharusnya menggantikan tanggung jawab manusia.
Teknologi seharusnya memperkuat kemampuan manusia.
Mekatronika membantu manusia bekerja dengan tubuhnya.
AI membantu manusia bekerja dengan informasi dan pikirannya.
Keduanya adalah alat.
Dan alat tetap membutuhkan manusia untuk menentukan arah penggunaannya.
