Bagaimana Kita Mengetahui Bahwa Suatu Informasi Layak Dipercaya?

Mengabdi pada Negara, Kanwil Ditjen Imigrasi Jatim sebagai Penelaah Teknis Kebijakan
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Suhendi bin Suparlan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belajar dari Ilmu Hadis untuk Memahami Informasi di Era AI
Hari ini kita hidup dalam keadaan yang agak unik. Informasi semakin mudah diperoleh, tetapi menentukan apakah informasi itu benar justru semakin sulit.
Kita cukup mengetik beberapa kata di mesin pencari atau bertanya kepada AI. Dalam hitungan detik, jawaban sudah tersedia. AI bahkan dapat membaca banyak dokumen, membandingkan data, merangkum informasi, dan menjelaskan persoalan yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam.
Kemampuan seperti ini tentu membantu.
Namun muncul pertanyaan yang jauh lebih penting.
Bagaimana kita mengetahui bahwa informasi yang diberikan itu layak dipercaya?
Pertanyaan tersebut sebenarnya bukan persoalan baru.
Lebih dari seribu tahun sebelum komputer, internet, dan kecerdasan buatan dikenal manusia, para ulama hadis telah menghadapi persoalan yang pada dasarnya hampir sama. Informasi beredar dari satu orang kepada orang lain. Jarak tempat berbeda. Waktu terus berjalan. Orang yang menyampaikan informasi juga berbeda kemampuan, ingatan, ketelitian, dan integritasnya.
Karena itu, sebuah hadis tidak diterima hanya karena kalimatnya terdengar baik atau sesuai dengan apa yang ingin didengar.
Informasinya diperiksa.
Siapa yang meriwayatkannya?
Dari siapa ia menerima informasi tersebut?
Apakah jalur periwayatannya bersambung?
Bagaimana kualitas orang yang menyampaikannya?
Apakah ada riwayat lain yang mendukung?
Apakah terdapat kejanggalan?
Apakah terdapat cacat yang tidak langsung terlihat?
Bagaimana isi riwayat tersebut jika dibandingkan dengan sumber lain yang lebih kuat?
Dari proses seperti inilah berkembang ilmu hadis dengan perangkat pemeriksaan sanad, perawi, matan, serta berbagai metode untuk menilai kualitas suatu riwayat.
Teknologinya tentu sangat berbeda dengan AI.
Namun persoalan dasarnya menarik untuk dibandingkan.
Masalah Lama dalam Teknologi Baru
AI bekerja dengan jumlah informasi yang sangat besar. Ia dapat menerima data dari dokumen, basis data, internet, aplikasi, dan berbagai sumber lainnya.
Kemudian AI memproses informasi tersebut untuk menghasilkan jawaban.
Masalahnya, jawaban yang terdengar masuk akal belum tentu benar.
Sebuah informasi bisa berasal dari sumber yang kurang baik. Data bisa tidak lengkap. Dua sumber dapat saling bertentangan. Informasi lama bisa dianggap masih berlaku. Kesalahan kecil pada sumber awal juga dapat menghasilkan kesimpulan yang berbeda.
Hal yang sama berlaku pada manusia.
Karena itu, persoalan utama sebenarnya bukan apakah informasi tersebut dibuat oleh manusia atau AI.
Persoalannya adalah:
dapatkah informasi tersebut diperiksa kembali?
Di sinilah ilmu hadis memberikan cara berpikir yang menarik bagi teknologi informasi modern.
Dari Sanad ke Traceability
Dalam ilmu hadis terdapat sanad, yaitu jalur orang-orang yang menyampaikan suatu riwayat.
Sanad memungkinkan informasi ditelusuri kembali.
Konsep teknologi sekarang mengenal istilah **traceability** dan **data provenance**.
Prinsipnya hampir serupa dalam konteks metodologis.
Ketika AI memberikan informasi, seharusnya kita dapat mengetahui sumber yang digunakannya.
Bukan sekadar:
> “Menurut beberapa sumber.”
Tetapi lebih jelas:
Dari dokumen mana informasi tersebut berasal?
Kapan dokumen diterbitkan?
Siapa yang menerbitkannya?
Apakah dokumen tersebut masih berlaku?
Apakah informasi itu berasal dari sumber pertama atau hanya mengutip sumber lain?
Dengan demikian, pengguna tidak hanya menerima jawaban. Pengguna mempunyai kesempatan untuk memeriksanya.
Sumber Juga Harus Dinilai
Mengetahui sumber belum cukup.
Dalam ilmu hadis, keberadaan sanad tidak otomatis membuat sebuah riwayat diterima. Para perawi dalam sanad juga diperiksa.
Artinya, bukan hanya jalurnya yang penting. Kualitas sumbernya juga penting.
Prinsip ini sangat relevan dengan AI.
Bayangkan AI menemukan lima artikel di internet yang mengatakan hal yang sama. Secara jumlah terlihat meyakinkan.
Namun ternyata kelima artikel itu mengambil informasi dari satu sumber yang sama.
Lebih jauh lagi, sumber pertama tersebut ternyata keliru.
Jumlah sumber menjadi banyak, tetapi sumber informasinya sebenarnya hanya satu.
AI yang baik seharusnya tidak hanya mampu mencari banyak sumber. Sistem juga perlu membantu membedakan antara sumber primer, sumber sekunder, pendapat, hasil penelitian, dokumen resmi, berita, dan informasi yang hanya mengulang informasi sebelumnya.
Tidak Cukup Hanya Membaca Isi
Dalam ilmu hadis dikenal pula pemeriksaan terhadap matan atau isi riwayat.
Ini penting karena informasi tidak cukup diperiksa dari jalurnya saja.
Isi informasi juga perlu diperhatikan.
Apakah masuk dalam konteksnya?
Apakah terdapat kejanggalan?
Apakah pemahamannya sesuai?
Apakah terdapat informasi lain yang lebih kuat?
Dalam teknologi AI, prinsip yang sama dapat diterapkan melalui consistency checking.
AI seharusnya tidak hanya menemukan satu informasi kemudian berhenti.
Informasi tersebut perlu dibandingkan dengan data lain.
Jika satu sumber mengatakan A, sedangkan beberapa sumber yang lebih kuat mengatakan B, perbedaan tersebut seharusnya ditunjukkan kepada pengguna.
AI tidak seharusnya menyembunyikan ketidakpastian hanya demi memberikan jawaban yang terdengar pasti.
Ketika Informasi Saling Bertentangan
Ini salah satu bagian paling menarik.
Dalam kajian hadis, dua riwayat yang terlihat berbeda tidak selalu langsung dianggap saling meniadakan.
Konteks diperiksa.
Waktu kejadian diperhatikan.
Makna diperiksa kembali.
Kualitas masing-masing riwayat dibandingkan.
Ada kemungkinan keduanya berbicara mengenai kondisi yang berbeda.
Cara berpikir seperti ini penting dalam AI.
Saat menemukan dua informasi berbeda, AI seharusnya tidak buru-buru memilih salah satunya hanya karena lebih sering muncul di internet.
AI perlu menjelaskan:
Sumber pertama mengatakan apa.
Sumber kedua mengatakan apa.
Mengapa keduanya berbeda.
Sumber mana yang lebih dekat dengan data primer.
Apakah perbedaannya berasal dari waktu, metode, definisi, atau konteks.
Dengan demikian, AI tidak sekadar menjadi mesin pemberi jawaban. AI menjadi alat yang membantu manusia memahami struktur suatu informasi.
Al-Qur'an dan Hierarki Sumber
Dalam tradisi keilmuan Islam, hadis juga tidak ditempatkan tanpa hubungan dengan Al-Qur'an.
Jika terdapat sesuatu yang tampak bertentangan, persoalannya tidak diselesaikan secara sederhana. Ulama melakukan pemeriksaan terhadap sanad, matan, konteks, makna, dan cara memahami dalil tersebut.
Dari sini terdapat pelajaran penting bagi teknologi AI.
Tidak semua sumber meilustrasi gambar dr chatgptmiliki kedudukan yang sama.
Dalam pemerintahan, misalnya, undang-undang tidak sama kedudukannya dengan unggahan media sosial.
Dalam penelitian, artikel ilmiah yang telah melalui proses akademik tidak sama dengan pendapat anonim di internet.
Dalam laporan perusahaan, laporan keuangan resmi tidak sama dengan komentar pengguna di forum daring.
Karena itu AI juga membutuhkan kemampuan memahami hierarki sumber.
Bukan hanya mencari informasi paling banyak, tetapi mengetahui sumber mana yang mempunyai otoritas lebih kuat dalam konteks tertentu.
Mencari Celah, Bukan Hanya Membenarkan
Ada bagian lain dari ilmu hadis yang sangat relevan.
Proses pemeriksaan bukan hanya dilakukan untuk membuktikan bahwa suatu riwayat benar.
Pemeriksaan juga mencari kemungkinan adanya kelemahan.
Ada kejanggalan yang mungkin baru terlihat setelah dibandingkan dengan riwayat lain.
Ada persoalan pada jalur periwayatan.
Ada konteks yang berubah.
Ada cacat yang tidak langsung terlihat.
Prinsip ini penting dalam pengembangan AI.
AI jangan hanya dirancang untuk menemukan jawaban.
AI juga perlu membantu manusia menemukan celah dalam jawaban.
Misalnya:
data yang hilang,
angka yang tidak konsisten,
sumber yang bertentangan,
dokumen yang sudah tidak berlaku,
asumsi yang belum terbukti,
atau kesimpulan yang terlalu jauh dari data.
Dengan begitu, AI tidak hanya berkata:
“Ini jawabannya.”
AI juga dapat berkata:
“Ini jawabannya berdasarkan data yang tersedia, tetapi bagian ini masih perlu diperiksa.”
Justru kalimat kedua lebih dapat dipertanggungjawabkan.
Excel Memberikan Pelajaran yang Sama
Kita sebenarnya sudah menerima prinsip ini dalam teknologi lain.
Seorang akuntan dapat menggunakan Excel untuk menghitung ribuan transaksi.
Tidak ada yang meminta akuntan menghitung semuanya secara manual hanya karena komputer bekerja lebih cepat.
Kecepatan dianggap sebagai keuntungan.
Ketelitian dianggap sebagai keuntungan.
Namun ketika angka akhirnya terlihat janggal, kita dapat kembali memeriksa rumus, data sumber, sheet, transaksi, dan proses perhitungannya.
Dengan kata lain, Excel diterima bukan hanya karena cepat.
Ia juga memungkinkan proses kerja diperiksa.
Prinsip yang sama seharusnya semakin kuat pada AI.
Kita memang menginginkan AI mampu membaca ribuan halaman lebih cepat daripada manusia.
Kita ingin AI menemukan informasi dalam hitungan detik.
Kita ingin AI membantu menemukan pola yang mungkin luput dari perhatian.
Tetapi kemampuan tersebut perlu berjalan bersama traceability.
Cepat Saja Tidak Cukup
Karena itu ukuran AI yang baik seharusnya tidak hanya:
seberapa cepat ia menjawab.
Juga bukan hanya:
seberapa pintar jawabannya terdengar.
Ukuran yang lebih penting adalah:
seberapa tepat informasinya, seberapa jelas sumbernya, seberapa mudah diperiksa, dan seberapa jujur sistem tersebut menunjukkan bagian yang masih tidak pasti.**
Maka terdapat empat prinsip yang dapat menjadi dasar:
Cepat.
Tepat.
Dapat ditelusuri.
Dapat diuji kembali.
Jika terdapat pertentangan, AI harus mampu menunjukkannya.
Jika terdapat celah, AI harus memberi tanda.
Jika sumbernya lemah, pengguna perlu mengetahuinya.
Jika terdapat sumber dengan otoritas lebih tinggi, sumber tersebut perlu mendapat bobot yang sesuai.
Teknologi Baru, Pertanyaan Lama
Ilmu hadis tentu bukan asal-usul teknologi AI.
AI berkembang dari matematika, logika, statistika, ilmu komputer, dan berbagai disiplin ilmu modern.
Namun ilmu hadis memberikan sebuah pelajaran metodologis yang sangat relevan.
Teknologi berubah. Persoalan tentang kepercayaan terhadap informasi tetap ada.
Dahulu informasi berpindah melalui manusia.
Sekarang informasi bergerak melalui jaringan komputer, mesin pencari, basis data, algoritma, dan kecerdasan buatan.
Tetapi pertanyaannya masih sama:
Siapa yang mengatakan?
Dari mana informasi itu berasal?
Bagaimana jalurnya?
Apakah sumbernya dapat dipercaya?
Apakah ada informasi lain yang menguatkan atau membantahnya?
Apakah ada kejanggalan yang belum terlihat?
Dan akhirnya:
Bagaimana kita mengetahui bahwa suatu informasi memang layak dipercaya?
Mungkin di sinilah ilmu yang telah berkembang lebih dari seribu tahun lalu dapat memberi inspirasi bagi teknologi yang sedang berkembang hari ini.
Bukan untuk menjadikan AI sebagai penentu kebenaran.
Justru sebaliknya.
AI seharusnya membantu manusia menelusuri informasi, membandingkan sumber, menemukan celah, dan mengambil keputusan dengan dasar yang lebih jelas.
Karena teknologi yang semakin cepat seharusnya tidak membuat manusia semakin mudah percaya.
Teknologi yang semakin cepat justru membutuhkan cara verifikasi yang semakin kuat.
