Dulu Mesin Membantu Kita Bergerak, Kini AI Membantu Kita Berpikir

Mengabdi pada Negara, Kanwil Ditjen Imigrasi Jatim sebagai Penelaah Teknis Kebijakan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Suhendi bin Suparlan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ketika hendak pergi ke tempat yang belum kita kenal, banyak dari kita membuka Google Maps. Kita memasukkan tujuan, lalu aplikasi itu menunjukkan beberapa rute. Ada yang paling cepat, ada yang lebih jauh tetapi lalu lintasnya lebih lancar. Jika terjadi kemacetan, perkiraan waktu tiba dan saran rutenya bisa berubah.
Google Maps membantu kita bergerak. Namun, kita tetap menentukan tujuan. Kita juga bisa menolak rute yang disarankan karena tahu ada jalan yang sedang ditutup, daerah yang rawan banjir, atau tempat yang ingin kita singgahi. Aplikasi itu memiliki data, sedangkan kita memiliki alasan dan pengetahuan tentang kebutuhan sendiri. Keduanya dapat dipakai bersama.
AI dapat membantu pikiran kita dengan cara yang mirip. Ketika menghadapi masalah, kita bisa memintanya menunjukkan beberapa pilihan, menjelaskan hal yang belum kita pahami, atau memperkirakan akibat dari suatu keputusan. Kita tidak harus memikirkan semuanya seorang diri. Namun, seperti saat menggunakan peta, kita tetap perlu tahu persoalan apa yang ingin diselesaikan.
Bayangkan seseorang ingin membeli sepeda untuk pergi bekerja. Ia bertanya kepada AI, “Sepeda apa yang paling bagus?” AI mungkin segera menyebut jenis dan merek tertentu. Jawabannya terlihat membantu, tetapi pertanyaannya belum cukup jelas. Berapa jauh perjalanan setiap hari? Apakah jalannya menanjak? Apakah ada tempat aman untuk menyimpan sepeda? Berapa anggarannya?
Setelah mendapat informasi itu, AI dapat membantu membandingkan pilihan yang lebih sesuai. Sepeda yang cocok untuk perjalanan pendek di jalan datar mungkin berbeda dari sepeda untuk rute berbukit. Orang tersebut masih perlu memeriksa harga dan ketersediaannya, mencoba ukuran sepeda, lalu memilih sendiri. AI membantunya menyusun pertimbangan, bukan menentukan apa yang harus ia beli.
Hal yang sama berlaku ketika kita mencari jawaban atas persoalan yang lebih rumit. Misalnya, sebuah tim ingin mempercepat pelayanan dengan mengurangi pemeriksaan rutin. AI dapat menyusun keuntungan dari rencana tersebut. Waktu tunggu mungkin berkurang dan petugas bisa lebih fokus pada kasus tertentu. Namun, tim itu perlu bertanya lagi: pelanggaran apa yang selama ini ditemukan melalui pemeriksaan rutin? Risiko apa yang bisa terlewat? Data apa yang perlu dikumpulkan sebelum cara kerja diubah?
Pertanyaan lanjutan membuat AI lebih berguna. Kita tidak berhenti pada jawaban pertama yang terdengar masuk akal. Kita meminta alasan yang mendukungnya, alasan yang menentangnya, dan hal yang belum diketahui. Dengan cara itu, AI membantu kita melihat persoalan lebih luas. Kita pun berlatih membedakan dugaan dari fakta.
Seperti peta digital yang menunjukkan beberapa rute, AI membantu kita melihat pilihan. Kita tetap memeriksa keadaan dan menentukan langkah sendiri.
Ada satu perbedaan penting antara Google Maps dan AI yang perlu kita pahami. Aplikasi peta dapat memperbarui saran perjalanan menggunakan data lalu lintas yang tersedia saat itu. AI yang kita ajak berbicara **belum tentu memiliki informasi terbaru**. Kemampuannya bergantung pada aplikasi yang dipakai, apakah ia dapat mencari informasi baru, dan data apa yang kita berikan. Jika kita menanyakan harga hari ini, aturan yang baru berubah, atau keadaan di sebuah lokasi, kita harus memeriksa sumber terkini.
AI juga bisa salah meskipun jawabannya terdengar yakin. Ia mungkin menyebut angka yang keliru, melewatkan keadaan penting, atau memberi saran berdasarkan pertanyaan yang terlalu sempit. Google Maps pun kadang menyarankan jalan kecil yang secara teori lebih cepat, tetapi sulit dilalui kendaraan kita. Ketika melihat keadaan nyata, kita perlu menilai kembali sarannya.
Karena itu, cara bertanya berpengaruh pada kualitas bantuan yang kita terima. Pertanyaan “Mengapa pilihan saya sudah benar?” cenderung mengajak AI mencari pembenaran. Pertanyaan “Apa kelebihan, kelemahan, dan hal yang belum saya ketahui?” membuka ruang untuk berpikir lebih jernih. Kita dapat melanjutkan dengan, “Bagian mana dari jawabanmu yang perlu saya periksa?” Pertanyaan sederhana itu membantu kita tetap waspada.
AI bisa menjadi teman latihan berpikir. Seorang mahasiswa dapat menjelaskan isi bacaan dengan kata-katanya sendiri, lalu meminta AI menunjukkan bagian yang belum tepat. Seorang penulis dapat meminta tanggapan atas bagian yang membingungkan. Seorang pekerja dapat menguji rencana sebelum membawanya ke rapat. Dalam setiap contoh, manusia lebih dulu mencoba berpikir, kemudian memakai tanggapan AI untuk memperbaiki hasilnya.
Jika kita hanya menyalin jawaban, pekerjaan mungkin selesai lebih cepat. Akan tetapi, kemampuan kita belum tentu bertambah. Perubahan terjadi ketika kita memahami alasan, membandingkan pilihan, dan berani mengubah pendapat setelah menemukan informasi yang lebih kuat. AI menyediakan bantuan untuk proses itu, tetapi tidak dapat menjalaninya atas nama kita.
Kita boleh memakai AI untuk menghemat waktu dan tenaga berpikir pada pekerjaan yang berulang. Waktu yang tersisa dapat kita gunakan untuk memahami masalah dengan lebih baik. Namun, keputusan yang berdampak pada orang lain tetap memerlukan pemeriksaan. Kita perlu melihat sumber asli, mendengar orang yang terkena dampaknya, dan berbicara dengan mereka yang memahami keadaan di lapangan.
Dulu mesin membantu manusia menempuh perjalanan jauh tanpa harus berjalan sepanjang jalan. Kini AI membantu kita menghadapi banyak informasi dan pilihan tanpa harus mengolah semuanya sendiri. Seperti Google Maps, AI dapat menunjukkan jalan yang mungkin kita ambil. Kita tetap menentukan tujuan, memeriksa keadaan, dan memutuskan kapan perlu mengubah arah.
