Konten dari Pengguna

Keberadaan Kita di Dunia Hanyalah Sementara

Suhendi bin Suparlan

Suhendi bin Suparlan

Mengabdi pada Negara, Asma iku dudu mung celukan. Asma iku tandha, tetenger saka lelampahan kang wus ana sadurunge, lan bakal ditindakake sabanjure. kados swara alon kang ngagem makna, boten gumebyar, nanging netes ing rasa

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Suhendi bin Suparlan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah lajunya perubahan zaman, manusia sering kali terperdaya oleh bayang-bayang kepemilikan. Segala sesuatu—mulai dari rumah, jabatan, kendaraan, hingga tubuh dan waktu—kita anggap sebagai hak penuh yang bisa kita kendalikan semaunya. Padahal, sebagaimana disampaikan oleh Gus Baha’, segala hal di dunia ini pada hakikatnya hanyalah pinjaman. Kita hanya diberi wewenang untuk memanfaatkannya, bukan untuk menguasainya secara mutlak.

“Segala yang kita genggam di dunia ini hanyalah hak pakai, bukan hak milik. Kita hanyalah penjaga, bukan pemilik. Termasuk tubuh, ruh, dan waktu—semuanya hanya titipan dari-Nya.”

ilustrasi gambar : chatgpt
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi gambar : chatgpt

Makna Dalam Konsep Titipan

Dalam budaya Jawa dan tradisi Islam Nusantara, konsep "titipan" mengandung makna mendalam. Sebuah titipan menuntut dua hal: tanggung jawab dan kesadaran akan batas waktu. Titipan bukan untuk dibanggakan, melainkan dijaga, dirawat, dan pada waktunya dikembalikan.

Jika tubuh adalah titipan, maka menjaga kesehatan bukan hanya hak pribadi, melainkan kewajiban spiritual. Jika waktu adalah titipan, maka menyia-nyiakannya sama saja dengan mengkhianati amanah. Jika anak, pasangan, bahkan ilmu adalah titipan, maka memperlakukan mereka dengan bijak adalah bentuk syukur tertinggi.

Lawan dari Kesadaran Titipan: Kepemilikan Egois

Sebaliknya, ketika seseorang merasa memiliki segalanya secara absolut, lahirlah rasa tamak, iri, dan takut kehilangan. Ego tumbuh subur dalam tanah kepemilikan palsu. Manusia mulai saling menjatuhkan demi mempertahankan apa yang sebenarnya bukan miliknya. Inilah akar dari banyak kerusakan sosial dan batin.

Kesadaran bahwa segala sesuatu di dunia ini hanyalah titipan melahirkan ketenangan batin dan kerendahan hati. Namun begitu kesadaran ini pudar, manusia mudah tergelincir ke dalam jurang kepemilikan egois. Ini adalah kondisi ketika seseorang merasa berhak penuh atas sesuatu dan menganggapnya sebagai bagian dari identitas diri yang tak bisa disentuh oleh siapa pun.

Kepemilikan egois muncul dari ilusi kontrol mutlak:

“Ini milikku. Aku yang punya. Aku bebas melakukan apa pun dengan ini.”

Padahal, segala yang ada di dunia ini berada dalam siklus perubahan yang tak bisa ditahan. Apa yang kita klaim sebagai ‘milik’ bisa lenyap dalam sekejap — entah oleh waktu, bencana, atau kematian.

Tiga Bentuk Kepemilikan Egois yang Menyesatkan:

  • Kepemilikan atas Materi: Banyak orang terjebak dalam siklus akumulasi. Semakin banyak memiliki, semakin tinggi rasa aman—begitu pikirnya. Namun kenyataannya, semakin banyak yang diklaim sebagai milik pribadi, semakin tinggi pula rasa takut kehilangannya. Harta yang mestinya jadi alat, berubah jadi beban batin.

Dalam dunia konsumerisme modern, kepemilikan dianggap sebagai ukuran kesuksesan. Padahal, orang yang memiliki paling banyak belum tentu yang paling damai hidupnya.

  • Kepemilikan atas Orang Lain: Kita sering memperlakukan pasangan, anak, bahkan teman sebagai milik pribadi. Frasa “dia milikku” terdengar romantis, tapi bisa menjadi awal dari kontrol, kecemburuan, dan luka. Dalam relasi yang sehat, tidak ada yang benar-benar memiliki satu sama lain — yang ada adalah saling mempercayakan diri.

  • Kepemilikan atas Identitas dan Citra Diri: Ini yang paling halus. Kita mengikat diri pada gelar, status, jabatan, atau pencitraan sosial. Ketika orang mengkritik peran atau pilihan kita, rasanya seperti diserang secara pribadi. Padahal, identitas sosial hanyalah baju yang kita kenakan sementara. Saat kita merasa aku adalah jabatanku, maka kehilangan jabatan terasa seperti kehilangan diri sendiri. Inilah bentuk egoisme eksistensial yang bisa menyiksa batin.

Akibat Kepemilikan Egois:

  • Ketakutan dan Kecemasan: Karena terlalu lekat pada sesuatu, kita dilanda rasa cemas jika itu terancam hilang.

  • Keserakahan: Selalu ingin lebih dan takut berbagi.

  • Kehilangan Empati: Karena merasa semuanya adalah hasil usaha pribadi, lupa bahwa ada peran banyak tangan tak terlihat.

  • Perpecahan Sosial: Ketika semua orang ingin memiliki lebih dan tak ingin berbagi, masyarakat kehilangan rasa kebersamaan.

Jalan Keluar: Melepas Bukan Berarti Kehilangan

Melepas bukan berarti menyerah. Justru dengan melepas ilusi kepemilikan, kita mulai hidup lebih ringan dan jernih. Melepas bukan berarti tidak memiliki apa-apa, tetapi tidak dimiliki oleh apa pun.

Kepemilikan sejati adalah yang tidak membuat kita terikat. Apa pun yang bisa kita relakan tanpa kehilangan ketenangan, itulah yang betul-betul kita kuasai — bukan sebaliknya.

Menyadari bahwa hidup ini hanya titipan adalah pintu menuju tawadhu’ — rendah hati. Kita menjadi lebih tenang saat kehilangan, lebih bersyukur saat diberi, dan lebih sabar saat diuji. Tidak ada yang terlalu menggembirakan, tidak pula terlalu menyedihkan. Semua sedang dalam perjalanan menuju pengembalian.

Penutup: Menjadi Penjaga, Bukan Penguasa

Pesan Gus Baha’ membuka ruang refleksi yang luas: bahwa tugas kita bukan mengumpulkan sebanyak-banyaknya, melainkan menjaga sebaik-baiknya. Hidup bukan tentang menguasai, melainkan merawat apa yang dipercayakan kepada kita — dengan cinta, kesadaran, dan tanggung jawab.

Karena pada akhirnya, saat panggilan pulang datang, kita akan meninggalkan semuanya. Yang kita bawa hanyalah catatan tentang bagaimana kita menjaga titipan itu.

Referensi :

🔹 1. Filsafat Timur dan Zen

Alan Watts – The Wisdom of Insecurity

Membahas tentang ilusi kontrol dan kepemilikan dalam kehidupan modern. Watts menekankan bahwa kebahagiaan sejati datang ketika kita melepaskan obsesi untuk "memiliki" dan menerima perubahan sebagai bagian dari hidup.

Daisetz T. Suzuki – Zen and Japanese Culture

Dalam Zen, konsep non-attachment (tidak melekat) adalah inti latihan batin. Kepemilikan dianggap sebagai sumber penderitaan jika terlalu diikatkan pada ego.

🔹 2. Ajaran Tasawuf (Sufisme)

Imam Al-Ghazali – Ihya’ ‘Ulum al-Din, khususnya dalam Kitab Zuhud dan Tawakkul

Al-Ghazali menekankan pentingnya menyadari dunia sebagai fana dan bersikap zuhud—yakni memandang dunia hanya sebagai titipan sementara.

Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari – Kitab Al-Hikam

Hikmah terkenal: “Janganlah hatimu bergantung pada sesuatu yang akan hilang darimu.”

Mengajarkan bahwa cinta dunia yang berlebihan akan menciptakan kekecewaan karena sifat dunia yang sementara.

🔹 3. Psikologi Humanistik dan Spiritualitas

Erich Fromm – To Have or To Be?

Buku ini membedakan antara dua mode eksistensi: “memiliki” dan “menjadi”. Gaya hidup berbasis kepemilikan (to have) membuat manusia tidak pernah puas, sementara gaya hidup to be (berada, mengalami) justru menciptakan kedamaian batin.

Victor Frankl – Man’s Search for Meaning

Mengulas bagaimana manusia mampu menemukan makna meski kehilangan segalanya, menekankan pentingnya nilai, bukan kepemilikan.

🔹 4. Kearifan Lokal dan Budaya Nusantara

Franz Magnis-Suseno – Etika Jawa

Dalam budaya Jawa, konsep sadar laku dan eling (ingat pada asal) menunjukkan bahwa hidup adalah perjalanan spiritual, bukan akumulasi kepemilikan. Nilai nrimo (menerima dengan ikhlas) muncul dari kesadaran bahwa segalanya bersifat sementara.

Niels Mulder – Inside Indonesian Society: Cultural Change in Java

Menjelaskan pandangan hidup orang Jawa tentang kehidupan sebagai harmoni dan keselarasan. Ketidakseimbangan, termasuk karena kerakusan akan harta atau status, akan membawa sengkala (kesialan).

🔹 5. Ajaran Agama Islam (Referensi Teks)

Al-Qur’an Surat Al-Hadid ayat 7:

“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya…”

→ Menekankan bahwa manusia bukan pemilik, tetapi mustakhlaf (pengelola atau wakil) atas harta.

Surat Al-Baqarah ayat 286:

“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi.”

→ Kepemilikan sejati hanya milik Tuhan, manusia hanya memegang sementara.