Konten dari Pengguna

Ketika Jawaban “Ya” Belum Tentu Berarti Paham di Tempat Kerja Jepang

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Suhendi bin Suparlan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pekerja Migran Indonesia di Jepang sering mendapat penilaian positif. Mereka dikenal rajin, ramah, bertanggung jawab, dan menghormati orang yang lebih tua. Pada sektor perawatan lansia, sikap hangat dan kepedulian pekerja Indonesia bahkan mendapat apresiasi dari pengguna layanan dan keluarganya.

ilustrasi gambar dari chatgpt
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi gambar dari chatgpt

Namun, sikap positif belum selalu menjamin komunikasi berjalan tanpa masalah.

Penelitian terhadap 19 responden Jepang dan pengalaman beberapa pekerja Indonesia menemukan satu persoalan sederhana tetapi penting. Jawaban “ya”, senyuman, atau anggukan belum tentu menunjukkan bahwa instruksi telah dipahami.

Masalah ini tidak selalu muncul karena pekerja tidak serius. Sering kali, pekerja bermaksud menunjukkan bahwa ia sedang mendengarkan atau menghormati senior. Pihak Jepang dapat memahami respons tersebut sebagai tanda bahwa tugas telah dimengerti dan siap dilaksanakan.

Kedua pihak menggunakan tanda yang sama, tetapi memberikan makna yang berbeda.

## Dikenal Rajin dan Peduli

Penilaian pihak Jepang terhadap pekerja Indonesia pada umumnya baik. Mereka dianggap tekun, jujur, tenang, dan bersedia menerima arahan.

Dalam pekerjaan perawatan lansia, pekerja Indonesia juga dinilai memiliki keramahan yang kuat. Mereka mampu memperlakukan lansia dengan sabar dan hormat. Sikap tersebut menjadi modal penting untuk membangun hubungan kerja.

Pengalaman pekerja Indonesia mendukung penilaian tersebut. Mereka berusaha memeriksa kembali pekerjaan, belajar dari senior, dan menjalankan tugas tanpa menimbulkan kesulitan bagi orang lain.

Namun, penerimaan sosial bukan satu-satunya ukuran keberhasilan bekerja di Jepang. Pekerja juga perlu terlibat dalam pertukaran informasi, penyelesaian masalah, dan pengambilan keputusan sehari-hari.

Seseorang dapat terlihat sopan dan tidak pernah menimbulkan konflik. Namun, jika ia menahan pertanyaan atau tidak melaporkan masalah, tim tetap dapat kehilangan informasi penting.

## Menerima Instruksi Tidak Sama dengan Memahami

Sebagian responden Jepang menilai pekerja Indonesia terbuka terhadap arahan. Mereka mendengarkan dan segera bertindak.

Namun, beberapa responden melihat bahwa pekerja kadang mulai menjalankan tugas ketika isi instruksi belum dipahami sepenuhnya.

Jawaban “hai” atau “wakarimashita” dapat muncul secara spontan. Senyuman dan anggukan juga sering digunakan untuk menjaga kesopanan.

Masalah terjadi ketika pemberi instruksi tidak memeriksa pemahaman pekerja.

Dalam pekerjaan biasa, kesalahan mungkin dapat segera diperbaiki. Dalam pekerjaan perawatan, kesehatan, pabrik, perikanan, atau konstruksi, kesalahan instruksi dapat menimbulkan risiko yang lebih besar.

Karena itu, memastikan pemahaman harus menjadi kebiasaan bersama.

Pekerja dapat mengulang isi instruksi dengan bahasanya sendiri. Pemberi tugas dapat meminta pekerja menjelaskan kembali langkah yang akan dilakukan.

Cara sederhana ini lebih aman daripada hanya bertanya, “Sudah paham?”

Pertanyaan tersebut hampir selalu dijawab dengan “ya”, terutama jika pekerja merasa sungkan kepada senior.

## Mengapa Pekerja Ragu Bertanya?

Kebiasaan bertanya berbeda pada setiap pekerja. Ada pekerja yang aktif meminta penjelasan. Ada pula yang memilih diam, mencari jawaban melalui internet, atau bertanya kepada teman sesama Indonesia.

Rasa sungkan menjadi salah satu penyebabnya. Pekerja mungkin takut dianggap tidak mampu, tidak memperhatikan, atau terlalu sering mengganggu senior.

Kemampuan bahasa yang terbatas juga dapat membuat seseorang kesulitan menyusun pertanyaan.

Padahal, bertanya bukan tanda ketidakmampuan. Dalam banyak pekerjaan, bertanya merupakan bagian dari pencegahan kesalahan.

Mencari informasi sendiri memang dapat membantu. Namun, informasi dari internet atau teman belum tentu sesuai dengan prosedur perusahaan. Setiap tempat kerja dapat memiliki aturan, alat, dan pembagian tanggung jawab yang berbeda.

Dalam situasi yang berkaitan dengan keselamatan, pekerja perlu bertanya kepada orang yang memiliki kewenangan.

Perusahaan juga perlu menciptakan suasana yang aman untuk bertanya. Atasan tidak cukup mengatakan bahwa pekerja boleh bertanya. Mereka perlu menunjukkan bahwa pertanyaan diterima dengan baik dan tidak selalu dianggap sebagai kelemahan.

## Melapor Lebih Mudah daripada Berkonsultasi

Pekerja Indonesia umumnya cukup mampu melakukan pelaporan dan penyampaian informasi. Mereka melaporkan hasil kerja, memberikan informasi setelah pergantian sif, atau menyampaikan perkembangan tugas.

Namun, konsultasi masih lebih sulit dilakukan.

Pelaporan biasanya memiliki waktu dan pola yang jelas. Pekerja mengetahui apa yang harus dilaporkan dan kepada siapa laporan disampaikan.

Konsultasi berbeda. Pekerja harus mengakui bahwa ia ragu atau belum mampu mengambil keputusan. Ia harus meminta pendapat orang lain sebelum melanjutkan pekerjaan.

Tindakan tersebut membutuhkan keberanian dan rasa aman.

Tempat kerja yang terlalu menekankan kepatuhan dapat membuat pekerja memilih diam. Mereka mungkin takut dianggap tidak mandiri atau tidak kompeten.

Sebaliknya, tempat kerja yang menganggap konsultasi sebagai bagian dari pencegahan kesalahan akan membantu pekerja lebih terbuka.

Pekerja perlu memahami bahwa melapor, memberikan informasi, dan berkonsultasi merupakan tiga tindakan yang berbeda. Ketiganya sama penting.

## Disiplin Bukan Masalah Utama

Anggapan bahwa pekerja migran sulit mengikuti disiplin tidak sepenuhnya sesuai dengan hasil penelitian.

Sebagian besar responden Jepang menilai pekerja Indonesia mampu mengikuti jadwal dan peraturan. Ada pekerja yang datang lebih awal dan tidak pernah terlambat.

Kesulitan lebih sering muncul pada aturan yang tidak tertulis.

Contohnya, jam kerja secara resmi dimulai pukul delapan. Namun, semua pekerja terbiasa datang beberapa menit sebelumnya untuk mempersiapkan alat dan menerima informasi.

Bagi pegawai lama, kebiasaan tersebut dianggap wajar. Bagi pekerja baru, hal itu belum tentu diketahui.

Hal serupa terjadi dalam prosedur cuti, pergantian sif, kebersihan, serta kondisi yang harus segera dilaporkan.

Masalah dapat muncul bukan karena pekerja sengaja melanggar aturan, tetapi karena organisasi belum menjelaskan harapan secara terbuka.

Karena itu, aturan tidak tertulis perlu dibuat lebih jelas. Perusahaan dapat menjelaskannya melalui orientasi, contoh kasus, video, panduan sederhana, atau pendampingan pada masa awal kerja.

Pekerja tidak seharusnya diminta menebak kebiasaan organisasi.

## Menghormati Senior Dapat Menjadi Kekuatan dan Hambatan

Budaya menghormati orang yang lebih tua membantu pekerja Indonesia menyesuaikan diri dengan hubungan kerja di Jepang.

Sebagian besar responden tidak menemukan masalah besar dalam hubungan antara pekerja Indonesia dan senior Jepang. Hubungan kerja cenderung tenang dan harmonis.

Namun, penghormatan yang terlalu kuat dapat membuat pekerja menahan pendapat.

Mereka mungkin tidak berani mengoreksi informasi, menyampaikan masalah, atau memberikan usulan. Mereka juga dapat merasa sulit bergabung dalam percakapan bersama staf Jepang saat waktu istirahat.

Hubungan yang harmonis belum tentu menunjukkan bahwa pekerja telah berpartisipasi secara aktif.

Partisipasi berarti pekerja dapat menyampaikan perubahan kondisi, mengangkat persoalan, memberikan informasi, dan ikut mencari penyelesaian.

Dalam kerja tim, diam tidak selalu menjadi pilihan yang aman. Informasi yang disimpan dapat memengaruhi pekerjaan anggota tim lain.

Pihak penerima juga perlu aktif membuka ruang komunikasi. Mereka dapat mengajak pekerja berbicara, meminta pendapat, dan memberikan kesempatan menyampaikan masalah tanpa takut disalahkan.

## Integrasi Merupakan Tanggung Jawab Bersama

Adaptasi pekerja asing sering dianggap sebagai tanggung jawab pekerja itu sendiri. Mereka diminta belajar bahasa, memahami budaya, mengikuti aturan, dan menyesuaikan perilaku.

Pandangan tersebut hanya melihat satu sisi.

Keberhasilan integrasi juga dipengaruhi oleh cara perusahaan memberikan instruksi, menjelaskan aturan, memeriksa pemahaman, dan merespons pertanyaan.

Pekerja memang perlu mengembangkan keberanian untuk bertanya dan berkonsultasi. Namun, pihak penerima juga perlu menggunakan bahasa yang jelas, terutama ketika tugas mengandung risiko.

Instruksi yang rumit dapat disederhanakan. Aturan tidak tertulis dapat dijelaskan. Kesempatan bertanya dapat diberikan. Kesalahan komunikasi dapat dibahas tanpa langsung menyalahkan pribadi pekerja.

Integrasi tidak terjadi hanya karena pekerja telah tinggal lama di Jepang. Integrasi tumbuh melalui komunikasi sehari-hari.

Proses tersebut terlihat ketika pekerja berani mengatakan bahwa ia belum memahami sesuatu. Proses itu juga terlihat ketika atasan tidak sekadar memberi instruksi, tetapi memastikan bahwa pesan benar-benar dipahami.

Sikap rajin, ramah, dan bertanggung jawab menjadi modal yang kuat bagi pekerja Indonesia. Namun, modal tersebut perlu didukung oleh komunikasi yang terbuka.

Di tempat kerja, jawaban “ya” tidak boleh menjadi akhir percakapan. Kadang-kadang, percakapan justru perlu dimulai dari pertanyaan berikutnya:

“Bagian mana yang sudah dipahami?”

“Apa langkah yang akan dilakukan?”

“Apakah ada hal yang masih ingin ditanyakan?”

Pertanyaan sederhana dapat mencegah kesalahan, memperkuat kepercayaan, dan membantu pekerja menjadi bagian aktif dari tim.