Serat Jangka Jayabaya sebagai Cermin Etis di Era Digital dan Kecerdasan Buatan

Mengabdi pada Negara, Asma iku dudu mung celukan. Asma iku tandha, tetenger saka lelampahan kang wus ana sadurunge, lan bakal ditindakake sabanjure. kados swara alon kang ngagem makna, boten gumebyar, nanging netes ing rasa
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Suhendi bin Suparlan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Artikel ini mengkaji relevansi *Serat Jangka Jayabaya*, salah satu naskah klasik Nusantara, dalam menghadapi tantangan zaman modern yang ditandai oleh dominasi teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI). Melalui pendekatan hermeneutik dan kajian pustaka, artikel ini menyoroti nilai-nilai etika, spiritualitas, dan wawasan kosmologis dalam Serat Jayabaya yang masih aktual dalam membentuk kesadaran kritis dan etik di tengah arus perubahan teknologi. Hasil kajian menunjukkan bahwa *Serat Jangka Jayabaya* mengandung peringatan moral atas krisis eksistensial dan disorientasi makna yang juga relevan dalam konteks algoritma, automasi, dan kehidupan virtual.
Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) mengubah cara hidup manusia secara radikal. Dunia maya dan kecerdasan algoritmik kini tidak hanya menjadi alat bantu, tetapi juga pembentuk realitas sosial, budaya, dan ekonomi. Di tengah kemajuan tersebut, muncul kekhawatiran akan hilangnya nilai-nilai kemanusiaan, etika, dan spiritualitas. Oleh karena itu, diperlukan rujukan dari sistem pengetahuan alternatif yang mampu memberi kerangka moral dan makna. Salah satunya adalah *Serat Jangka Jayabaya*, naskah ramalan Jawa kuno yang menggambarkan krisis moral dan tanda-tanda zaman edan.
*Serat Jangka Jayabaya* berasal dari tradisi lisan dan tulisan abad pertengahan Jawa, yang diyakini sebagai ramalan Raja Jayabaya dari Kediri. Naskah ini tidak hanya berisi prediksi tentang masa depan, tetapi juga refleksi filosofis tentang perubahan zaman, kehancuran nilai-nilai, dan pentingnya laku spiritual. Dalam konteks sekarang, naskah ini dapat dibaca ulang sebagai kritik atas kecenderungan disorientasi manusia dalam menghadapi revolusi teknologi digital dan AI yang serba instan, mekanistik, dan kehilangan kedalaman makna.
Artikel ini menggunakan pendekatan hermeneutik untuk menafsirkan teks *Serat Jangka Jayabaya* dan membandingkannya secara kritis dengan literatur kontemporer tentang dampak AI dan digitalisasi. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan analisis isi terhadap kutipan-kutipan utama dalam serat, dikaitkan dengan teori etika teknologi dan humanisme digital.
✅ Pendekatan Hermeneutik
Hermeneutik berasal dari kata Yunani hermeneuein yang artinya "menafsirkan". Dalam konteks penelitian, pendekatan hermeneutik adalah cara memahami makna yang terkandung dalam teks, simbol, atau budaya secara mendalam.
Contohnya:
Kalau kita baca Serat Jangka Jayabaya, kita tidak cuma terjemahkan isinya, tapi kita juga menafsirkan makna tersembunyi, simbol-simbol zaman, atau pesan moral yang bisa relevan di masa kini. Kita "menggali makna batiniah" dari teks leluhur, bukan cuma kulit luarnya.
✅ Kajian Pustaka
Kajian pustaka (literature review) adalah langkah dalam penelitian di mana penulis mengumpulkan dan menganalisis tulisan atau penelitian sebelumnya yang relevan dengan topik yang sedang dibahas.
Contohnya:
Dalam artikel tentang Jayabaya dan era AI, kajian pustaka mencakup buku-buku seperti:
The Religion of Java (Geertz) → wawasan budaya Jawa
Superintelligence (Bostrom) → etika dan risiko AI
Life 3.0 (Tegmark) → masa depan manusia di era AI
Dengan menggabungkan kajian pustaka dan pendekatan hermeneutik, penulis bisa membangun argumen yang kuat dan bermakna—baik dari sisi budaya tradisional maupun teknologi modern.
Mengungkap nilai-nilai etis dan spiritual dalam *Serat Jangka Jayabaya* yang relevan dengan era digital dan AI.
Menunjukkan bagaimana teks tradisional dapat menjadi kerangka berpikir alternatif dalam menghadapi krisis eksistensial akibat teknologi.
Menawarkan pembacaan kritis atas tantangan etika di zaman algoritma dan automasi melalui kacamata budaya lokal.
Zaman Edan dan Krisis Eksistensial Digital
Serat Jayabaya menggambarkan masa depan sebagai *zaman edan*, di mana orang baik tersingkir, kebohongan dijunjung, dan kebijaksanaan dibungkam. Gambaran ini paralel dengan era informasi digital saat ini yang dipenuhi hoaks, ketimpangan akses, dan algoritma yang memperkuat bias. Seperti dalam naskah: *“Sing waras ora kaduman,”* menandakan mereka yang jernih pikirannya justru terpinggirkan.
Teknologi Tanpa Etika: Cermin dari Jayabaya
Jayabaya memperingatkan datangnya zaman ketika manusia dikuasai nafsu duniawi, simbol dari hegemoni materi, kecepatan, dan konsumsi tanpa kendali. Dalam konteks AI, hal ini tercermin dalam pengembangan teknologi tanpa kerangka etika yang kuat. Automasi menggantikan relasi manusiawi, dan kecerdasan buatan mereproduksi ketimpangan sosial jika tidak dikendalikan oleh nilai-nilai kearifan.
Kembali ke Laku Spiritual dan Batin
Serat ini tidak hanya memberi kritik, tetapi juga menawarkan solusi: laku tapa, kebijaksanaan batin, dan keselarasan dengan alam. Ini menandakan pentingnya digital mindfulness, kesadaran etis dalam dunia digital, serta perlunya *digital ethics* yang berakar pada nilai kemanusiaan dan kosmologi lokal.
Penafsiran ulang atas *Serat Jangka Jayabaya* memperlihatkan bahwa naskah ini bukan sekadar ramalan, tetapi juga sistem etika dan kosmologi yang dapat dijadikan panduan menghadapi tantangan era digital dan AI. Nilai-nilai seperti kesederhanaan, introspeksi batin, dan kebenaran batiniah menjadi kontras penting terhadap budaya algoritmik yang instan dan mekanistik.
Diperlukan pendekatan interdisipliner antara teknologi dan humaniora untuk mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal seperti dalam *Serat Jayabaya* ke dalam desain dan pengembangan AI. Pendidikan digital juga sebaiknya memasukkan literasi budaya dan spiritual sebagai penyeimbang teknologi.
Kesimpulan
*Serat Jangka Jayabaya* tetap relevan di tengah gelombang teknologi canggih. Ia menyajikan refleksi etis dan spiritual yang mampu mengingatkan manusia untuk tidak kehilangan arah. Di era AI dan digitalisasi, membaca ulang naskah-naskah leluhur seperti ini bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan kebutuhan untuk masa depan yang lebih bijak dan manusiawi.
Daftar Pustaka
- Geertz, C. (1960). *The Religion of Java*. University of Chicago Press.
- Mulder, N. (1978). *Mysticism in Java: Ideology in Indonesia*. The Pepin Press.
- Tegmark, M. (2017). *Life 3.0: Being Human in the Age of Artificial Intelligence*. Penguin Books.
- Bostrom, N. (2014). *Superintelligence: Paths, Dangers, Strategies*. Oxford University Press.
- Serat Jangka Jayabaya (Nguri-uri Budaya Jawa_1). (tanpa tahun). Naskah tidak diterbitkan, Menara Press.
