Konten dari Pengguna

Impostor Phenomenon: Sudah Tercapai, tapi Rasanya Biasa Saja

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Firjani Sabreen tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa melihat hasil ujian yang diperolehnya. (Pexels/RDNE Stock project)
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa melihat hasil ujian yang diperolehnya. (Pexels/RDNE Stock project)

Kemenangan sering kali dianggap sebagai momen ketika seluruh usaha dan kerja keras akhirnya terbayarkan. Ketika nama kita disebut di atas panggung sebagai pemenang atau hasil yang kita tunggu akhirnya datang, seharusnya ada rasa puas yang dihasilkan dari momen tersebut.

Namun, pernahkah kalian justru merasa biasa saja ketika berhasil mendapatkan sesuatu yang sejak awal begitu kita inginkan? Dalam kehidupan perkuliahan, misalnya, seorang mahasiswa mendapatkan nilai A dalam mata kuliah tertentu atau memenangkan sebuah perlombaan yang telah dipersiapkan selama berbulan-bulan. Alih-alih merasa bahagia, ia justru berpikir bahwa kemenangan tersebut adalah hal yang sudah seharusnya terjadi.

Pencapaian tersebut tidak terasa seperti sesuatu yang layak dirayakan, melainkan seperti sesuatu yang memang menjadi tanggung jawabnya untuk dicapai. Padahal, ada kemungkinan bahwa perasaan tersebut tidak semata-mata berasal dari rasa tanggung jawab atau standar yang tinggi. Lalu, mengapa sesuatu yang awalnya kita kejar mati-matian justru terasa biasa saja ketika akhirnya berhasil kita dapatkan?

Mengenal Impostor Phenomenon

Terdapat perbedaan yang besar saat kita merasa diri kita berhasil dan saat di mana kita merasa memang sudah seharusnya kita berhasil. Ketika kita merasa pencapaian adalah sebuah keharusan, pikiran tersebut dapat menurunkan atau bahkan menghilangkan nilai dari pencapaian itu sendiri. Dalam pemikiran ini, usaha yang seharusnya menjadi alasan untuk merasa bangga dengan diri sendiri malah digunakan untuk membatalkan keberhasilan dan rasa bangga tersebut.

Pada faktanya, pemikiran seperti ini dapat berkaitan dengan impostor phenomenon, istilah ini diperkenalkan oleh psikolog Pauline Rose Clance dan Suzanne Imes pada 1978. Impostor phenomenon berkaitan dengan kondisi ketika seseorang sulit untuk menginternalisasikan keberhasilannya sebagai bukti kemampuan dirinya sendiri.

Seseorang dapat mencapai nilai tinggi, memenangkan perlombaan, atau mencapai sesuatu yang sulit dan membutuhkan usaha yang besar, tetapi tetap merasa bahwa pencapaian tersebut bukan disebabkan oleh kemampuan dirinya. Faktor-faktor lain selain rasa tanggung jawab yang dimiliki seseorang untuk mencapai sesuatu juga dapat memengaruhi bagaimana ia memaknai kemenangan.

Seseorang dapat merasa kemenangan itu adalah sebuah kebetulan, misalnya, saat perlombaan berlangsung ia merasa bahwa kinerja lawannya memang kebetulan tidak sebaik yang ia bayangkan. Orang dengan pengalaman seperti ini tidak menyangkal bahwa kemenangan itu benar-benar terjadi. Justru yang sulit bagi mereka adalah mengakui bahwa kemenangan tersebut terjadi benar-benar karena kemampuan mereka sendiri.

Cara Kita Memaknai Keberhasilan

Tetapi, kita juga perlu memahami bahwa tidak semua orang yang tidak merasakan euforia atas kemenangannya termasuk ke dalam impostor phenomenon, terdapat juga sebagian orang yang memang lebih menikmati proses daripada hasil akhir pencapaiannya, terdapat pula orang-orang yang tidak terlalu ekspresif ketika berhasil, dan ada juga orang yang memang memiliki ekspektasi tinggi terhadap dirinya sehingga ia merasa bahwa kemenangan bukanlah hal yang mengejutkan.

Perbedaannya dengan impostor phenomenon terletak pada bagaimana seseorang memaknai keberhasilan, bukan dari seberapa bahagia ia setelah mencapai kemenangan tersebut. Tidak merasa bahagia ketika berhasil mencapai sesuatu bukan otomatis berarti ada yang salah dalam diri seseorang. Yang justru menarik perhatian adalah ketika orang tersebut secara konsisten merasa bahwa keberhasilannya bukan merupakan bukti dari kemampuan dirinya sendiri.

Bagaimana seseorang menjelaskan penyebab dari kemenangannya berperan besar dalam bagaimana pada akhirnya kemenangan itu diinterpretasikan. Dalam attribution theory yang dikembangkan oleh Bernard Weiner, seseorang berusaha memahami mengapa suatu peristiwa terjadi dengan menghubungkannya pada penyebab tertentu.

Dalam konteks keberhasilan, penyebab tersebut dapat dipandang berasal dari faktor internal, seperti kemampuan dan usaha, maupun faktor eksternal, seperti keberuntungan atau keadaan. Salah satu contoh dari attribution theory adalah ketika terdapat dua mahasiswa yang mendapatkan nilai A, mahasiswa pertama memaknai nilai tersebut sebagai hasil dari kerja kerasnya untuk belajar dan memahami materi. Sementara itu, mahasiswa kedua berpikir bahwa nilai tersebut ia dapatkan karena soal ujian yang mudah, atau ia merasa bahwa nilai tersebut memang wajar didapatkannya.

Kedua mahasiswa tersebut sama-sama mendapatkan hasil yang baik, akan tetapi, perbedaannya terletak pada bagaimana mereka memaknai hasil tersebut. Perbedaan cara memaknai keberhasilan inilah yang menjadi penting ketika membahas impostor phenomenon. Pada pengalaman impostor, seseorang dapat memiliki pencapaian yang nyata, tetapi tetap mengalami kesulitan untuk menghubungkan pencapaian tersebut dengan kemampuan dirinya sendiri. Akibatnya, keberhasilan tidak sepenuhnya diinternalisasi sebagai bukti bahwa dirinya kompeten.

Belajar Mengakui Kemampuan Diri

Pada akhirnya, persoalannya bukan pada seberapa besar kadar kebahagiaan kita ketika berhasil mencapai sesuatu, bukan juga apakah kita merasa cukup bahagia ketika berhasil. Tidak semua pencapaian harus dirayakan dengan euforia, dan tidak semua orang memiliki cara yang sama dalam mengekspresikan keberhasilannya.

Yang perlu diperhatikan justru ketika keberhasilan yang berulang kali kita dapatkan tetap tidak pernah dianggap sebagai bukti atas kemampuan diri kita. Kita bisa mendapatkan nilai A, memenangkan perlombaan, diterima di tempat yang kita inginkan, atau menyelesaikan sesuatu yang sebelumnya terasa sulit.

Namun, jika setiap keberhasilan selalu kita artikan sebagai sesuatu yang seharusnya terjadi, keberhasilan tersebut tidak akan pernah benar-benar menjadi milik kita. Kita mengakui hasilnya, tetapi tidak mengakui kemampuan yang berasal dari diri kita, padahal kemampuan itulah yang memungkinkan tercapainya keberhasilan itu.

Di sinilah impostor phenomenon menjadi relevan. Perasaan terus-menerus merasa bahwa kita bukan alasan di balik keberhasilan kita sendiri bukan selalu muncul karena tidak adanya pencapaian, tetapi justru dapat muncul ketika kita kesulitan menginternalisasi pencapaian tersebut sebagai bagian dari kemampuan diri. Sebab terkadang, yang paling sulit dari sebuah keberhasilan bukanlah mencapainya, tetapi mengakui bahwa kita memang mampu untuk mencapainya.