Konten dari Pengguna

Miskomunikasi di Ruang Obrolan: Bahasa Stiker antara Gen Z dan Milenial

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sabrina Nur Alfina Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa kamu pernah mengirim stiker anjing berwajah badut dengan tulisan “Hahan’t”? atau stiker kucing menjulurkan lidah dengan keterangan “tanggapan saya”? stiker-stiker kocak dan absurd ini sudah menjadi kebiasaan Generasi Z dalam berkomunikasi di platform digital.

Ilustrasi Gen Z bermain HP (Sumber: Shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gen Z bermain HP (Sumber: Shutterstock)

Berbeda dengan Generasi Milenial yang lebih suka menggunakan stiker dengan ilustrasi yang terarah dan jelas secara harfiah dengan keterangannya dengan contoh stiker pria ber-jas yang membungkuk dengan keterangan “Terima Kasih” atau kartun berpose hormat dengan keterangan “Siap!”. Perbedaan selera ini memberi tahu kita jika ternyata ada gap komunikasi dan juga gap humor yang terlihat jelas di antara Gen Z dan Gen Milenial yang sebenarnya ada di generasi lain.

Di era di mana komunikasi digital berkembang pesat seperti saat ini, stiker tidak berfungsi sebagai pemanis chat room saja, tapi juga sebagai alat yang bisa menonjolkan sebuah emosi yang terkandung di sebuah pesan ataupun juga sebagai alat untuk mempertegas isi pesan. Akan tetapi, akibat adanya jarak di antara generasi, stiker yang harus nya digunakan untuk mempertonjol bisa saja menimbulkan miss-interpretasi bagi penerima yang tidak tahu konteks dari stiker itu dan makna sebenarnya dari stiker itu sendiri. Jika dibayangkan pasti penerima akan merasa bingung karena pesan dan stiker yang dikirim tidak berhubungan.

Bagi Gen Z, stiker anjing yang bertopeng badut bukan berarti anjing itu sedang bermain sirkus atau sebuah hiburan, melainkan sebuah perumpamaan untuk seseorang yang harus menerima suatu hal meski dari lubuk hatinya menolak atau tidak menyukainya. Gen Z cenderung lebih menyukai sesuatu yang absurd dan dipenuhi akan satire. Kenapa begitu? Karena humor seperti ini dapat memperlihatkan sebuah penderitaan namun juga mengandung sebuah lelucon. Menurut Gani dan Pribadi (2026), Gen Z tumbuh di era di mana komunikasi digital sedang berkembang pesat. Menjadikan mereka menyukai hal-hal yang bersifat asli dan juga penuh dengan ke-kreativitasan. Tidak heran jika Gen Z sangat menyukai hal-hal absurd namun relate dengan kehidupan.

Beda hal nya dengan Generasi Milenial yang lebih menyukai dan mempriotitaskan efisiensi, fleksibelitas, dan profesionalitas. Menurut Rahayu (2026), Generasi Milenial mempunyai selera humor yang terstruktur dan menyukai hal yang beralur jelas. Karakteristik ini dapat menjelaskan mengapa stiker yang digunakan Generasi milenial cenderung sangat harfiah antar teks dan ilustrasi. Untuk mereka,stiker adalah alat yang digunakan untuk memperjelas serta mempertegas isi pesan, tidak seperti Gen Z yang lebih menyukai hal yang relate dengan keadaan namun juga bersifat abstrak sehingga humor yang didapat lebih terasa.

Akan tetapi, hal sepele seperti ini bisa menimbulkan kesalahpahaman jika tidak di pahami secara benar. Contoh nya, seorang Gen Z mengirimkan stiker kucing yang sedang menangis padahal pesan yang dikirim menunjukkan kebahagiaan, sedangkan penerima yang seorang dari Generasi Milenial bisa salah tangkap sehingga dia bisa menganggap pengirim sedang bersedih. Di situasi seperti ini lah sebuah stiker dapat mematahkan isi dari sebuah pesan dan dapat mengubah suasana di dalam ruang chat pribadi.

Menariknya, batas gaya komunikasi antargenerasi ini bersifat fleksibel dan bisa mencair perlahan seiring berjalannya waktu. Hal ini dapat ditemukan di obrolan sebuah keluarga di chat room seperti anak-anak Gen Z sangat menggemari stiker-stiker absurd dan mengirimkannya ke grup keluarga. Meskipun orang tuanya sempat bingung, mereka akhirnya mengadaptasikannya juga ke dalam obrolan keluarga. Hasilnya? orang tua juga ikut-ikutan mengirimkan stiker-stiker absurd tersebut. Keadaan ini memperlihatkan bahwa jarak komunikasi antargenerasi dapat memudar secara alami melalui pembiasaan.

Walaupun stiker-stiker absurd ini sudah menjadi kebiasaan dari Gen Z, penggunaannya sebaiknya melihat tempat,keadaan,konteks, dan kondisi. Jika di lingkup professional, sebaiknya tidak mengirim stiker-stiker absurd ini. Karena rasanya tidak pas dan dapat mencoreng reputasi keprofesionalan.

Dapat dilihat di Gen Z yang bekerja di bidang komunikasi, contohnya Customer Service, Public Relation, atau Social Media Specialist. Di waktu berinteraksi dengan customer, mereka diharapkan untuk bisa mengontrol dirinya dan tidak mengirimkan stiker-stiker absurd yang mereka miliki, dan dan mengganti stikernya dengan stiker resmi di mana tempat mereka bekerja, dan stiker yang mengandung pesan yang jelas serta sopan pastinya.

Pada akhirnya, stiker hanya sebuah alat yang digunakan untuk membantu kita dalam berkomunikasi. Jarak antar generasi ini juga bukan menjadi penghalang dalam menyampaikan sebuah pesan. Ini adalah bukti bahwa zaman digital yang terus berkembang. Pemahaman kita melihat konteks, dan memahami dengan siapa kita sedang berkomunikasi adalah kunci sebuah komunikasi dapat berjalan dengan baik dan meminimalisirkan kesalahpahaman. Jika kita paham akan perbedaan selera satu sama lain, stiker bukan menjadi masalah di mana crossed signal terjadi. Namun menjadikannya penghubung yang dapat menjadikan ruang obrolan menjadi lebih hangat dan ceria.