Pencarian populer

Wisata Kubur Batu di Tana Toraja: Lemo dan Londa

Tana Toraja pasti sudah tidak terdengar asing di telinga kita. Kabupaten yang terletak di Sulawesi Selatan ini memang terkenal karena budaya unik dan otentik yang masih dipertahankan. Lokasinya pun lumayan jauh, sekitar 7-8 jam perjalanan dari Makassar.

Saat tiba di Toraja saya baru paham bahwa ternyata Tana Toraja terbagi ke dalam dua kabupaten, yakni Tana Toraja (bagian selatan) dengan pusat di Makale dan Tana Toraja dengan pusat di Rantepao. Makale dan Rantepao sendiri hanya berjarak kurang lebih setengah jam perjalanan. Intinya Toraja itu salah satu tempat yang pengen banget saya datengin dari dulu, jadi bersyukur banget bisa punya kesempatan ke sini, yay!

Karena perjalanan yang ditempuh jauh, sekitar 7-8 jam, jadi begitu melihat gerbang utama Tana Toraja langsung norak dan foto-foto dulu!

Toraja identik dengan keunikan budayanya dalam hal menghormati kematian seseorang, baik dalam bentuk upacara adat ataupun penguburannya. Dalam perihal kuburan, di sana ada beberapa tipe penguburan seseorang. Ada kuburan gantung, goa, pahat, tanah hingga patane (suatu ruangan yang dibuat seperti rumah untuk menaruh peti mayat). Dari banyaknya keunikan cara penguburan tersebut, ga heran kalo kuburan pun disini bisa dijadikan destinasi wisata.

Maka dari itu, otomatis begitu sampe di Tana Toraja jam 11an kita langsung mampir ke beberapa destinasi wajib ini dari siang sampe sore hari.

Lemo

Nah destinasi pertama kita begitu nyampe Toraja adalah Lemo. Lemo adalah salah satu kompleks makam yang terkenal berupa kuburan yang melekat di dinding tebing bukit tinggi. Peti mati tersebut biasanya di letakkan dalam tebing batu kapur. Cara penguburannya di sini adalah dengan menyediakan lubang yang dipahat secara manual. Katanya satu lubang bisa diisi sama satu keluarga, terus ditutup kalo nggak pakai kayu, ya pakai bambu.

Kalo katanya di Toraja dingin sih nggak juga ya di daerah Selatan, terutama kalo siang hari. Buktinya ini saya dateng siang jam 11-an dan panas banget.

Karena kita pergi ramai-ramai dan juga bareng teman yang asli Toraja, jadi bisa diceritain banyak tentang filosofi-filosofi di sini. Disini ada juga patung yang namanya Tau-tau. Patung Tau-tau ini merepresentasikan orang yang sudah meninggalkan dan dikuburkan di tebing tersebut. Maka dari itu Tau-tau di sini berfungsi sebagai simbolis ataupun kenang-kenangan bagi keluarga yang ditinggalkan. Anyway, untuk seseorang bisa dibuatkan Tau-tau ini, ia harus melaksanakan upacara Rambu Solo dengan minimal mengurbankan 24 kerbau yang harga satu kerbaunya bisa sampai puluhan bahkan ratusan juta!

Ada juga nih filosofi menarik tentang Tau-tau yang diceritain, jadi kalo Tau-tau nya diperhatiin lagi, ternyata ada yang tangan kanan menghadap ke atas dan tangan kiri menghadap ke bawah. Artinya, sebenarnya adalah meminta (tangan yang ke atas) dan memberkati (tangan yang ke bawah). Meminta dalam artian bagi orang yang sudah meninggal masih membutuhkan bantuan keturunannya yang masih hidup untuk mencapai Puya (atau surga) lewat upacara adat. Memberkati dalam artian untuk menyertai kehidupan anak cucu mereka yang masih hidup. Filosofis banget, ya.

Pokoknya di tempat-tempat selanjutnya beneran banyak banget filosofi yang mendasari beberapa tradisi mereka. Jadi menurut saya jalan-jalan ke sini seruan dateng sama orang Toraja-nya langsung.

Londa

Pernah nggak membayangkan rasanya masuk goa yang dipenuhi tengkorak dan bahkan mayat manusia yang baru saja meninggal dunia? Nah bedanya sama Lemo, di Londa kita bisa merasakan sensasi masuk ke kuburan goa.

Habis dari Lemo kita langsung ke Londa. Letaknya ga jauh, kurang lebih sekitar 30 menit perjalanan. Pas sampe di lokasi, kita bakal langsung melihat Tau-tau serta peti mati jenazah (Enrong) di depan Goa. Peti mati jenazahnya juga lebih bervariasi. Ada yang modern, ada juga model kuno yang masih terbuat dari kayu dan punya bentuk yang masih khas. Uniknya lagi disini ada peti yang digantung, katanya sih semakin tinggi letak peti mati tersebut, semakin tinggi pula posisi orang tersebut di masyarakat.

Pas masuk ke dalam goa kita diceritakan banyak oleh guide yang membawakan lampu tenteng. Misalnya, ada tengkorak yang dikenal sebagai Romeo & Juliet-nya Toraja. Jadi ceritanya mereka sepasang kekasih yang ternyata merupakan sepupu jauh, sehingga tidak direstui oleh keluarga mereka. Karena itu, akhirnya mereka memilih untuk bunuh diri bersama.

Ada peraturan adat yang tidak memperbolehkan kita untuk memindahkan tengkorak ataupun peti dari tempat asalnya, karena buat memindahkan nya aja butuh upacara adat terlebih dahulu. Jadi selain hati-hati karena ketinggian Goa ini cukup pendek, perlu hati-hati agar sama objek yang ada di dalamnya aja. Selain itu, banyak juga peti mati yang diselipkan di celah gua.

Awalnya mana ada hasrat buat foto sama tengkorak, tapi kata mas-nya ini foto spot orang-orang yang biasa dibawa jadi disuruh coba foto. Aslinya ini lagi merinding. PS Itu keringet beneran karena udah kelamaan di dalem goa dan super panas. Hahaha!

Yang ngegantung di atas itu peti mati. Ribet juga ya ngebayangin naikin peti matinya ke atas sana. Selain itu kalau kita jalan lebih lagi ada sebenarnya Londa ini bagian dari tebing yang lumayan tinggi. Katanya…. di atas tebing juga ada peti yang digantung/dikuburin di sana!

Cara Menuju ke Toraja

- Rental Mobil

Ini cara yang saya ambil. Menurut saya kemaren timingnya enak sih karena cukup untuk istirahat dan kebagian juga ngeliatin pemandangan di jalan. Kurang lebih itinerary-nya begini:

02.00 – Tiba di Bandara Makassar.

Mulai dari situ, saya pergi ke Toraja bisa dengan rental mobil.

03.30 – Berangkat dari Makassar menuju Toraja

Dari Makassar, bisa ambil jalur Pare-pare, Jalan Poros Enrekang – Toraja sehingga dapat bonus pagi hari kita bisa melihat pemandangan jalanan yang indah.

Di Jalan Poros Enrekang – Toraja, bisa berhenti di Rumah Makan Jemz di Kotu, Enrekang. Di warungnya kita bisa melihat panorama pemandangan Gunung Nona (yep, dari warung aja kok! Bukan hotel atau restoran kece seperti yang kita biasa lihat di puncak).

10.30 – Tiba di Tana Toraja

Ada juga yang pernah nanya saya, jalanan dari Makassar ke Toraja bagus apa enggak. Kalo dari jalur yang saya lewatin sih menurut saya bagus, relatif sudah beraspal. Hanya saja di Jalan Poros Enrekang – Toraja lumayan belok-belok karena melewati perbukitan, tapi jalanannya juga tetap beraspal.

- Alternatif kendaraan lain:

Naik Bis Eksekutif: Bisa juga naik bis, yang setahu saya udah ada bis eksekutif yang cukup nyaman seharga 130-150ribu. Bisa berangkat malam jam 9 jadi sampe Toraja kurang lebih jam 5 pagi. Kalo ini lumayan bagi yang mau menghemat waktu dan tidur dijalan.

Naik Pesawat: Sebenarnya ada juga sih pesawat dari Makassar ke Toraja yang bandaranya namanya Pongtiku. Cuma setahu saya jarang ada jadwal terbang karena aksesnya yang lumayan sulit.

Sabrina Anggraini (Foto: Istimewa)

Cheers,

Sabrina Anggraini (http://theclassicwanderer.com/2017/08/05/wisata-kubur-batu-tana-toraja-lemo-londa/)

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.35