Konten dari Pengguna

Cuci Darah Bukan Akhir: Pengertian, Persiapan, dan Perawatan Jangka Panjang

Sabrina Durrotunni'mah

Sabrina Durrotunni'mah

Mahasiswi Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sabrina Durrotunni'mah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Shutterstock

Sobat sehat, coba bayangkan saringan kopi di rumah kamu yang sudah penuh dengan ampas. Airnya susah turun, ampasnya menumpuk, dan kopi yang keluar jadi pahit serta keruh. Kurang lebih itulah gambaran ginjal yang sudah rusak.

Nah, cuci darah atau hemodialisis adalah proses menyaring darah menggunakan mesin karena ginjal sudah tidak mampu membersihkan darahnya sendiri. Ibaratnya, mesin ini jadi "saringan darurat" untuk darah kamu. Berdasarkan Ramadani (2026) terapi ini bertujuan untuk mengeluarkan limbah metabolisme dan zat beracun dari dalam darah, seperti kelebihan cairan, natrium, kalium, urea, kreatinin, serta senyawa lainnya. Proses ini dilakukan menggunakan alat ginjal buatan dengan membran semipermeabel yang bekerja melalui prinsip difusi, osmosis, dan ultrafiltrasi.

Pada pasien gagal ginjal kronis (GGK), hemodialisis umumnya dilakukan secara rutin, yaitu 1–3 kali dalam seminggu dengan durasi 2–5 jam setiap sesi. Terapi ini bersifat jangka panjang, bahkan dapat berlangsung seumur hidup, terutama pada pasien dengan kerusakan ginjal tahap akhir. Tapi kabar baiknya, cuci darah bukanlah akhir dari segalanya. Banyak pasien yang tetap bekerja, tersenyum, dan menikmati hidup di sela-sela jadwal terapi mereka.

Siapa Saja yang Perlu Cuci Darah?

Cuci darah tidak hanya untuk pasien gagal ginjal kronis, tetapi juga pada beberapa kondisi lain, antara lain:

• Gagal ginjal tahap 5 (GGK): Kapasitas ginjal hanya mencapai 10-15% dari fungsi normal.

• Keracunan mendadak karena obat atau alkohol: Untuk membersihkan racun dengan cepat.

• Sesak napas karena kelebihan cairan: Darurat, harus segera ditangani.

• Kadar kalium melonjak tinggi: Bisa menyebabkan henti jantung.

Namun, yang paling sering menjalani cuci darah ini adalah pasien dengan gagal ginjal stadium akhir (end-stage renal disease), di mana fungsi ginjal sudah benar-benar rusak dan tidak bisa pulih lagi. Mereka perlu terapi ini seumur hidup, atau sampai mendapatkan donor ginjal.

Persiapan Sebelum Cuci Darah Pertama

Nah, buat kamu atau keluargamu yang baru akan memulai cuci darah, jangan panik. Ada 4 hal yang harus disiapkan:

1. Persiapan Fisik (Pasang Shunt)

Dokter akan membuat akses di lengan bawah kamu, namanya shunt atau fistula. Operasi kecil ini dilakukan 2–4 minggu sebelum cuci darah pertama. Tujuannya biar pembuluh darahnya membesar dan kuat. Setelah dipasang shunt, kamu harus rajin senam tangan (meremas bola karet), jangan tidur di atas lengan yang dipasang shunt, dan jangan pakai jam tangan ketat di lengan itu.

2. Persiapan Mental

Jujur saja, dengar kabar harus cuci darah seumur hidup itu berat. Pasti ada rasa kaget, marah, sedih. Itu wajar banget, kok.

Kuncinya: jangan dipendam sendiri. Ceritakan ke keluarga, teman, atau perawat. Cari teman sesama pasien cuci darah. Mereka biasanya punya banyak cerita dan semangat yang bisa menular ke kamu.

3. Persiapan Logistik

Cuci darah itu mahal kalau tidak pakai BPJS. Satu kali bisa 1–2 jutaan. Jadi pastikan kartu BPJS kamu aktif dan terdaftar di rumah sakit yang punya unit cuci darah. Jangan lupa siapkan transportasi antar-jemput, karena setelah cuci darah badan biasanya lemas. Juga siapkan kontak darurat (keluarga atau teman) yang siap dihubungi kapan saja.

4. Persiapan Nutrisi

Ini yang paling membedakan pasien cuci darah dengan orang biasa. Kamu tidak bisa makan dan minum seenaknya. Segera konsultasi dengan ahli gizi di rumah sakit tempat kamu cuci darah. Mereka akan mengajari kamu batasan cairan, garam, kalium, dan fosfor.

Hambatan Fisik dan Mental pada Pasien

Salah satu keluhan fisik yang paling sering dialami pasien adalah kelelahan (fatigue). Utami et al. (2023) menyebutkan bahwa kelelahan ini dapat muncul baik saat beraktivitas maupun saat istirahat, disertai rasa lemas dan penurunan stamina yang berdampak pada aktivitas sehari-hari dan hubungan sosial.

Selain itu, cuci darah juga dapat menimbulkan berbagai komplikasi. Simanullang et al. (2024) menjelaskan beberapa efek samping yang umum terjadi, seperti hipotensi akibat penarikan cairan berlebih, kram otot karena perubahan elektrolit, risiko infeksi pada akses vaskular, pembekuan darah, serta cedera pembuluh darah akibat penggunaan jarum atau kateter.

Tingkat kelelahan pasien umumnya berada pada kategori sedang hingga berat dan dapat berlangsung lebih dari enam jam setelah sesi hemodialisis. Kondisi ini sering terjadi pada 6–8 bulan pertama sebagai fase adaptasi tubuh terhadap terapi. Untuk mengurangi keluhan tersebut, dapat dilakukan terapi pendukung seperti pijat, aroma terapi, relaksasi, terapi musik, hingga perendaman kaki (footbath).

Komplikasi Saat Cuci Darah

Hemodialisis atau cuci darah merupakan prosedur medis yang efektif untuk menjaga kualitas hidup penderita gagal ginjal. Namun, serupa dengan intervensi medis lainnya, terapi ini juga dapat memicu sejumlah komplikasi. Berikut adalah beberapa dampak yang sering timbul selama proses hemodialisis:

• Hipotensi (penurunan tekanan darah)

• Kram pada otot

• Mual disertai kram abdomen

• Rasa nyeri di dada dan punggung

• Gatal-gatal pada kulit

• Insomnia atau gangguan tidur

Pelayanan darurat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) wajib segera dicari jika pasien menunjukkan tanda-tanda berikut:

• Demam dengan menggigil

• Pendarahan dari lokasi akses vaskular

• Kesulitan bernapas

• Gangguan kesadaran

Hambatan Mental: Depresi dan Kecemasan

Selain dampak fisik, pasien cuci darah juga menghadapi tantangan psikologis. Irawati et al. (2023) menemukan bahwa lebih dari seperempat pasien mengalami depresi dan kecemasan. Kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan, termasuk kemampuan menjalankan peran sosial, kepatuhan terhadap terapi, serta frekuensi rawat inap.

Hemodialisis juga membawa perubahan besar dalam kehidupan pasien, mulai dari rutinitas yang harus dijalani, keterbatasan aktivitas, hingga ketergantungan pada terapi jangka panjang. Hal ini dapat memicu tekanan emosional yang tidak ringan. Fungsi sosial, kepatuhan pada jadwal pengobatan tetap, serta insiden rawat inap yang berulang.

Selain itu, Kartika (2023) menyebutkan bahwa pasien gagal ginjal kronis memiliki sistem imun yang lemah (immunocompromised), sehingga lebih rentan terhadap infeksi, termasuk hepatitis C.

Obatnya? Dukungan orang-orang terdekat. Cerita, curhat, dan jangan pernah menarik diri dari lingkungan.

Perawatan Jangka Panjang yang Wajib Dijalani

1. Jaga Makanan dan Minuman

• Cairan: Maksimal 5–6 gelas kecil per hari. Kalau kelebihan, bisa sesak napas.

• Garam: Bikin haus. Pakai bumbu alami seperti bawang putih, kunyit, jahe.

• Kalium: Hindari pisang, jeruk, alpukat, durian, kentang, santan. Kalau nekat, bisa henti jantung.

• Fosfor: Hindari kacang, keju, susu, kuning telur, jeroan. Biar tidak gatal-gatal dan tulang keropos.

2. Rawat Shunt dengan Baik

Setiap pagi dan malam, rasakan getaran di shunt kamu. Kalau getarannya hilang, buruan ke rumah sakit! Jangan sampai lengan shunt diambil tensi atau disuntik. Sebelum cuci darah, cuci lengan shunt pakai sabun antiseptik.

3. Tetap Bergerak

Jangan cuma diam saja di rumah. Jalan kaki, senam ringan, atau bersepeda statis itu bagus untuk menjaga stamina. Asal jangan berlebihan, ya.

4. Dukungan Keluarga Itu Segalanya

Keluarga adalah pahlawan tanpa tanda jasa buat pasien cuci darah. Mereka yang mengingatkan jadwal, menemani saat terapi, dan ikut makan sehat di rumah. Makin kuat dukungan keluarga, makin baik kualitas hidup pasien.

Peran Dukungan Keluarga

Meskipun hemodialisis merupakan proses yang melelahkan, terapi ini bukanlah akhir dari segalanya. Banyak pasien yang tetap mampu bekerja, beribadah, dan menjalani aktivitas sehari-hari di sela-sela terapi.

Kunci utama dalam menjalani kehidupan dengan hemodialisis adalah kesiapan fisik dan mental, serta dukungan dari keluarga. Dukungan berupa motivasi, perhatian, dan pendampingan dapat membantu pasien mengatasi rasa putus asa serta meningkatkan kepercayaan diri.

Semakin kuat dukungan keluarga yang diberikan, semakin baik pula kualitas hidup pasien gagal ginjal kronis. Dengan semangat dan dukungan yang tepat, pasien dapat tetap menjalani hidup secara produktif meskipun bergantung pada terapi hemodialisis.

DAFTAR PUSTAKA

Irawati, D., et al. (2023). Perubahan Fisik Dan Psikososial Mempengaruhi Kualitas Hidup Pasien Hemodialisis. Jurnal Ilmiah Keperawatan (Scientific Journal of Nursing), 9 (1) hal. 96-104. https://www.researchgate.net/publication/368833924_PERUBAHAN_FISIK_DAN_PSIKOSOSIAL_MEMPENGARUHI_KUALITAS_HIDUP_PASIEN_HEMODIALISIS_Physical_and_Psychosocial_Changes_Affect_the_Quality_of_Life_of_Hemodialysis_Patients.

Kartika, H. (2023). Infeksi Virus Hepatitis C pada Pasien yang Menjalani Hemodialisis, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/84/infeksi-virus-hepatitis-c-pada-pasien-yang-menjalani-hemodialisis.

Ramadani, A. (2026). Tahap Pembuatan Akses AV Shunt Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik. https://ners.unair.ac.id/site/index.php/pengumumanners/30-lihat/2476-tahap-pembuatan-akses-av-shunt-pada-pasien-gagal-ginjal-kronik.

Simanullang, M. S. D., et al. (2024). Gambaran Dukungan Keluarga Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisa Di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2024. Jurnal Kelitbangan, 14 (1) hal. 1-15. http://journalbalitbangdalampung.org.id.

Utami, S. S., et al. (2023). Terapi Komplementer untuk Mengatasi Fatigue pada Pasien Hemodialisis: Literatur Review. Jurnal Kesehatan Vokasional, 8 (2), hal. 123-133. https://doi.org/10.22146/jkesvo.68679.