Konten dari Pengguna

Diusir Karena Toleransi, Siapa Sebenarnya yang Kalah?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sabrina Orry Najuh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dibuat sendiri menggunakan Canva, menggambarkan pergulatan batin seorang pemimpin desa yang mempertahankan toleransi di tengah penolakan masyarakat.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dibuat sendiri menggunakan Canva, menggambarkan pergulatan batin seorang pemimpin desa yang mempertahankan toleransi di tengah penolakan masyarakat.

Ada satu pertanyaan yang terus tertinggal setelah membaca cerpen Orang-Orang Sawah: benarkah seseorang bisa kehilangan jabatan hanya karena memilih membela kemanusiaan? Pertanyaan itu terasa sederhana, tetapi justru menjadi pusat kegelisahan cerita. Cerpen ini tidak menghadirkan tokoh yang melawan dengan kekerasan, melainkan seorang kepala desa yang mempertahankan keyakinannya bahwa setiap manusia berhak diperlakukan sama meskipun berbeda agama.

Menurut Burhan Nurgiyantoro, karya fiksi lahir dari hasil perenungan pengarang terhadap kehidupan sehingga berbagai persoalan sosial yang muncul di dalamnya merupakan cerminan pengalaman manusia yang diolah secara kreatif. Fiksi bukan sekadar hiburan, melainkan media untuk mengajak pembaca merenungkan persoalan hidup yang nyata (Nurgiyantoro, 2015). Pandangan tersebut tampak kuat dalam cerpen Orang-Orang Sawah karena konflik yang dihadirkan bukan sekadar persoalan individu, melainkan persoalan sosial yang masih sering dijumpai dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Pergulatan batin menjadi kekuatan utama cerita ini. Sejak bagian awal, pembaca langsung diperlihatkan kondisi psikologis tokoh utama melalui kalimat, "An duduk di teras rumah tanpa baju menatap ke arah pantai membawa pikiran yang pecah." Kalimat tersebut bukan hanya menggambarkan suasana hati yang kacau, tetapi juga menjadi penanda bahwa tokoh sedang menghadapi tekanan yang jauh lebih berat daripada kehilangan jabatan.

Konflik batin An semakin kuat ketika diketahui bahwa dirinya diberhentikan sebagai kepala desa. Padahal selama memimpin, ia dikenal sebagai sosok yang bersih. Pengarang menegaskan, "Selama ini ia jujur bermain dalam kepemimpinannya, tak pernah ia memakan dana desa atau korupsi apa pun. Ia diakui pemimpin yang sangat amanah." Kutipan tersebut memperlihatkan bahwa penyebab jatuhnya An bukan karena penyalahgunaan kekuasaan, melainkan karena keberaniannya mempertanyakan aturan adat yang dianggap diskriminatif.

Dalam teori penokohan Burhan Nurgiyantoro, karakter tokoh dapat dibangun melalui tindakan, dialog, maupun respons tokoh lain terhadap dirinya. Cara inilah yang dipakai pengarang untuk membangun sosok An. Ia tidak pernah digambarkan sebagai pahlawan sempurna, tetapi pembaca mengenal integritasnya melalui sikap yang konsisten sejak awal hingga akhir cerita. Bahkan ketika seluruh warga menentangnya, ia tetap mempertahankan prinsip yang diyakininya benar.

Puncak konflik terjadi ketika An berhadapan dengan tokoh adat yang menolak kehadiran warga berbeda keyakinan. Dialog mereka memperlihatkan benturan dua cara pandang yang sama-sama merasa benar. Saat tokoh adat berkata, "Bagaimana nanti kalau orang-orang itu terus bertambah di kampung kita?", An justru menjawab singkat, "Pemikiran yang sempit." Jawaban tersebut memang terdengar berani, tetapi justru memperlihatkan karakter An yang memilih berbicara berdasarkan keyakinannya, bukan berdasarkan rasa takut.

Nilai yang diperjuangkan An semakin terlihat ketika ia mengatakan, "Arti hidup ialah saling mengerti dan menghargai walaupun beda agama. Jangan menyakiti siapa pun yang tidak menyakiti kita. Kita memang berduri, tapi bukan untuk menyakiti, hanyalah untuk melindungi diri." Kalimat ini menjadi inti gagasan cerpen. Pengarang tidak sedang mengajak pembaca memperdebatkan agama, melainkan mengajak melihat bagaimana kemanusiaan sering kali dikalahkan oleh prasangka.

Menariknya, pengarang tidak membuat An menang. Ia justru kalah secara sosial. Ia dipecat, diusir, bahkan dianggap sesat oleh masyarakatnya sendiri. Di sinilah pergulatan batin tokoh terasa semakin kuat. Tokoh utama dipaksa memilih antara mempertahankan kedudukan atau mempertahankan prinsip hidupnya. Pilihan tersebut menjadi konflik psikologis yang membuat cerita terasa dekat dengan realitas.

Konflik tidak berhenti ketika An meninggalkan kampung. Pergulatan itu berlanjut di rumah kontrakannya bersama sang istri. Ren mempertanyakan keputusan suaminya karena harus membawa keluarga berpindah tempat tinggal. Ia berkata, "Abang tidak kasihan melihat anak kita. Masih kecil begini, ia terpaksa dibawa pindah karena ayahnya melawan orang adat." Dialog tersebut memperlihatkan bahwa konflik eksternal akhirnya berubah menjadi konflik domestik. An tidak hanya berhadapan dengan masyarakat, tetapi juga harus menghadapi kegelisahan keluarganya sendiri.

Jawaban An menunjukkan karakter yang tetap konsisten sejak awal cerita. Ia mengatakan, "Saya bukan membela mereka, saya hanya membela kebenaran." Kalimat ini menjadi penegasan bahwa perjuangannya bukan soal membela kelompok tertentu, melainkan membela nilai yang menurutnya benar. Inilah yang membuat tokoh An terasa hidup. Ia memiliki keyakinan yang tidak mudah digoyahkan meskipun konsekuensinya adalah kehilangan jabatan, tempat tinggal, bahkan kenyamanan keluarganya.

Jika dilihat melalui perspektif Burhan Nurgiyantoro, tokoh yang kuat bukan hanya tokoh yang memiliki sifat tertentu, tetapi tokoh yang mampu menggerakkan konflik dan tema cerita secara utuh. Dalam cerpen ini, seluruh rangkaian peristiwa bergerak karena keputusan-keputusan yang diambil An. Konflik sosial, pertentangan adat, hingga perubahan sikap masyarakat berpusat pada keberanian tokoh utama mempertahankan prinsip hidupnya.

Yang membuat cerpen ini terasa relevan ialah kenyataan bahwa persoalan intoleransi belum sepenuhnya menjadi cerita masa lalu. Di berbagai daerah, perbedaan keyakinan masih dapat memunculkan penolakan, prasangka, bahkan pengucilan. Melalui tokoh An, pengarang mengingatkan bahwa keberanian mempertahankan nilai kemanusiaan sering kali menuntut harga yang mahal. Tidak semua orang sanggup membayar harga tersebut, tetapi justru dari keberanian itulah pembaca diajak bertanya: apakah masyarakat benar-benar sedang menjaga nilai, atau justru sedang kehilangan kemanusiaannya?

Perjalanan cerita semakin menarik ketika pengarang menghadirkan rangkaian peristiwa pencurian yang terus terjadi setelah An meninggalkan kampung. Warga yang sebelumnya yakin telah melakukan keputusan terbaik justru mulai mempertanyakan sikap mereka sendiri. Salah seorang warga berkata, "Seharusnya kita tidak mengusir An. Selama dia di sini kampung kita aman saja dari kemalingan." Kutipan tersebut tidak dimaksudkan untuk menyatakan bahwa An adalah penyelamat kampung, melainkan menunjukkan bagaimana manusia sering baru menyadari arti seseorang setelah kehilangannya.

Menurut Burhan Nurgiyantoro, tema merupakan gagasan dasar yang menopang seluruh bangunan cerita. Seluruh peristiwa, tokoh, konflik, hingga latar saling berkaitan untuk memperkuat gagasan utama tersebut (Nurgiyantoro, 2015). Dalam cerpen Orang-Orang Sawah, tema yang paling menonjol bukan sekadar persoalan toleransi, melainkan pergulatan batin seseorang ketika mempertahankan kebenaran di tengah tekanan sosial. Semua konflik yang muncul selalu kembali pada pilihan An untuk tetap memegang prinsip meskipun harus kehilangan hampir seluruh yang dimilikinya.

Latar yang dipilih pengarang turut mempertegas tema tersebut. Kampung terpencil dengan adat yang begitu kuat menjadi ruang yang membuat konflik terasa masuk akal. Ketika masyarakat hidup dalam lingkungan yang homogen, perbedaan sering kali dipandang sebagai ancaman, bukan sebagai kenyataan yang harus diterima. Karena itulah penolakan terhadap pendatang berbeda keyakinan terasa begitu mudah memperoleh dukungan masyarakat.

Sebaliknya, latar baru yang ditempati An justru memberikan suasana yang berbeda. Pengarang menggambarkan rumah kontrakan sederhana dengan kalimat, "Ia mengontrak sebuah rumah papan, lantai semen, kamar mandi di luar." Kesederhanaan tempat tinggal itu memperlihatkan bahwa An memang kehilangan status sosial. Akan tetapi, ia justru menemukan lingkungan yang lebih damai. Ia dapat bercengkerama dengan warga sawah yang berbeda keyakinan tanpa dibatasi prasangka. Kontras kedua latar tersebut memperlihatkan bahwa kedamaian ternyata tidak selalu lahir dari tempat yang paling mapan, melainkan dari masyarakat yang mampu saling menghargai.

Keputusan pengarang menghadirkan konflik pencurian juga patut diperhatikan. Banyak pembaca mungkin mengira bagian ini sekadar konflik tambahan. Padahal, secara struktural, peristiwa tersebut berfungsi mengguncang keyakinan masyarakat terhadap keputusan yang mereka ambil. Mereka mulai mencari hubungan antara terusirnya An dengan hilangnya rasa aman di kampung. Namun pengarang tidak memberikan jawaban yang pasti. Pembaca dibiarkan berpikir sendiri apakah musibah itu merupakan kebetulan atau justru bentuk penyesalan kolektif masyarakat.

Bagian paling menarik justru muncul menjelang akhir cerita ketika An bermimpi ditangkap polisi setelah menuduh aparat sebagai dalang pencurian. Dalam mimpinya ia diborgol dan tidak mampu membela diri. Ketika ketegangan mencapai puncak, pengarang menutup cerita dengan kalimat, "Astaga, untung cuma mimpi. An terbangun dari tidurnya." Penutup semacam ini memberikan efek psikologis yang kuat. Meskipun semua hanya mimpi, pembaca memahami bahwa tekanan yang dialami An belum benar-benar selesai. Trauma, kecemasan, dan rasa tidak aman masih hidup di dalam pikirannya.

Akhir cerita tersebut juga menunjukkan bahwa pergulatan batin tidak selalu berakhir ketika konflik sosial selesai. Luka akibat pengucilan dapat terus menetap dalam ingatan seseorang. Pengarang berhasil menggambarkan bahwa kekerasan tidak selalu berbentuk pukulan atau senjata. Tuduhan, pengusiran, dan hilangnya kepercayaan masyarakat dapat meninggalkan luka yang jauh lebih panjang.

Cerpen ini terasa relevan dengan kehidupan Indonesia saat ini. Di tengah masyarakat yang semakin beragam, isu toleransi masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai. Perbedaan agama, suku, maupun pandangan sering kali lebih cepat memunculkan prasangka daripada ruang dialog. Tidak sedikit orang memilih diam karena takut dikucilkan, kehilangan jabatan, atau dianggap melawan kelompoknya sendiri. Tokoh An menjadi gambaran bahwa mempertahankan nilai kemanusiaan memang tidak selalu mendatangkan kemenangan yang mudah.

Sebagai pembaca, saya melihat bahwa kekuatan terbesar cerpen ini bukan terletak pada konflik pencurian ataupun perdebatan agama, melainkan pada keberanian pengarang memperlihatkan harga yang harus dibayar seseorang ketika mempertahankan hati nuraninya. An memang kehilangan jabatan, rumah, dan penghormatan masyarakat. Namun ia tidak kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu keyakinannya terhadap nilai keadilan. Di sisi lain, masyarakat yang merasa menang justru hidup dalam kecemasan, saling curiga, dan perlahan mempertanyakan keputusan mereka sendiri. Ironi inilah yang membuat cerita terasa membekas.

Melalui Orang-Orang Sawah, pembaca diajak memahami bahwa kemenangan tidak selalu berada di pihak yang memiliki kekuasaan atau suara terbanyak. Ada kalanya kemenangan justru dimiliki oleh orang yang mampu tetap memegang prinsip ketika seluruh lingkungan menolaknya. Pesan tersebut terasa penting di tengah kehidupan sekarang, ketika perbedaan sering dibalas dengan penghakiman yang terburu-buru. Cerpen ini mengingatkan bahwa masyarakat yang benar-benar kuat bukanlah masyarakat yang berhasil menyingkirkan orang yang berbeda, melainkan masyarakat yang mampu hidup berdampingan tanpa kehilangan rasa hormat terhadap sesama. Barangkali, setelah menutup halaman terakhir cerpen ini, pertanyaan yang paling layak kita ajukan bukan lagi apakah An pantas diusir, melainkan apakah kita sendiri sudah cukup berani membela kebenaran ketika berada di posisi yang sama.

Daftar Pustaka

Nurgiyantoro, Burhan. 2015. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Ajopan, Depro. 2024. Orang-Orang Sawah. Harian Kompas, rubrik Cerpen.