Jejak Langkah: Perjalanan Menuju Fase Penerimaan

Sabrina Putri Afrilia
Mahasiswa Universitas Pamulang, Prodi S1 Akuntansi
Konten dari Pengguna
11 Juni 2024 10:09 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Sabrina Putri Afrilia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber : iStock / smshoot
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : iStock / smshoot
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Setiap orang pasti mempunyai titik terendah dalam hidupnya. Hal itu juga aku rasakan saat tau ternyata diriku harus merelakan mimpiku untuk berkuliah di Perguruan Tinggi Negeri. Mungkin bagi sebagian orang hal ini cukup biasa saja dan tidak perlu diratapi berlebihan. Bagiku tidak, penolakan yang kuterima itu membawaku pada titik terendah hidupku yang berusia 18 tahun saat itu.
ADVERTISEMENT
Menyaksikan teman-temanku satu persatu bisa meraih impian mereka sementara aku hanya bisa menjadi penonton, membuatku merasa jatuh. Berbagai emosi negatif menghantui hari-hariku—sedih, marah, kecewa, malu, dan takut. Pikiran negatif tentang masa depan pun tak terelakan. Aku menjalani hari-hari setelah penolakan itu seperti sosok yang kehilangan arah.
Walau penuh kesulitan aku perlahan mulai menyadari bahwa aku tidak boleh berlarut-larut dalam keterpurukan. Kutipan "Time will Heal" aku jadikan pencerah agar aku bisa menyusun kembali kehidupanku. Dalam proses ini, aku menemukan kekuatan dalam teori resiliensi—sebuah konsep yang menggambarkan kemampuan seseorang untuk bangkit dari kesulitan. Teori ini menekankan pentingnya emosi positif, optimisme, efikasi diri, penanganan adaptif, dan dukungan sosial. Semua elemen ini berperan dalam membantu seseorang beradaptasi dan pulih dari tantangan yang dihadapi. Meskipun terasa sulit, kegagalan itu membukakanku pintu untuk memahami berbagai perspektif baru kehidupan, memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Dari situlah, aku belajar untuk mulai menerima keadaan dengan lapang dada.
ADVERTISEMENT
Dengan tekad yang baru, aku mulai mencari makna di balik setiap rintangan yang ku hadapi. Aku berusaha untuk menanamkan pada diriku bahwa mungkin ada jalan lain yang lebih baik untukku, meskipun tidak sesuai dengan apa yang telah aku rencanakan sebelumnya.
Saat ini, aku sudah berada di semester 2, mengambil jurusan yang jauh berbeda dari jurusan impianku saat sekolah menengah 2 tahun lalu. Aku mengambil jeda 1 tahun, sebelum akhirnya memutuskan untuk berkuliah di universitas swasta sambil bekerja.
Pemahamanku tentang kegagalan juga dibantu dengan teori Seligman’s 3Ps Model of Resilience, teori ini menjelaskan bagaimana orang mengatasi kegagalan dengan memahami bahwa peristiwa (Permanence), prevalensi (Pervasiveness), dan personalisasi (Personalization) tidak selalu bersifat permanen, meluas, atau pribadi. Ini membantu dalam memahami bahwa kegagalan atau penolakan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses belajar dan pertumbuhan. Catherine Moore, seorang psikolog, juga mengatakan, “Resiliensi bukan hanya tentang bertahan dari kesulitan, tetapi juga tentang belajar dan tumbuh dari pengalaman tersebut.” Pengalaman penolakanku telah mengajarkanku untuk lebih memahami diriku dan menghargai setiap langkah yang aku ambil.
ADVERTISEMENT
Kini, aku bersyukur atas setiap lika-liku yang telah aku hadapi. Mereka telah membentukku menjadi sosok yang lebih kuat dan tangguh. Aku sadar bahwa hidup adalah perjalanan yang penuh dengan ujian dan tantangan, namun juga penuh dengan peluang dan harapan. Dengan sikap yang positif dan tekad yang kuat, aku yakin bahwa aku bisa menghadapi segala sesuatu yang akan datang dengan kepala tegak dan hati lapang.