Jajan di Pasar Slumpring, Tak Bisa Pakai Uang Biasa, Kok Bisa?

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Pancasakti Tegal
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari An-nissa Fatkhurisqi Budianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kabupaten Tegal memiliki beragam destinasi wisata menarik yang patut dikunjungi. Salah satunya adalah Pasar Slumpring, sebuah objek wisata pasar tradisional yang berlokasi di Desa Cempaka, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal. Destinasi ini menawarkan pengalaman unik dengan memadukan suasana pedesaan, kuliner khas setempat, serta pelestarian tradisi. Terletak di tengah rimbunnya rumpun bambu, Pasar Slumpring menjadi tempat yang sempurna untuk menikmati keindahan alam sekaligus mengenal lebih dekat kekayaan budaya lokal.
Meskipun terletak cukup jauh dari pusat kota dan terkesan agak terpencil, Pasar Slumpring memiliki daya tarik yang unik. Justru suasana alami yang ditawarkannya itulah yang menjadikannya destinasi yang begitu menarik. Deretan pohon bambu yang rimbun menciptakan suasana yang sejuk, menyegarkan, dan asri, memberikan pengalaman yang berbeda dari tempat wisata pada umumnya. Jauh dari hiruk-pikuk lalu lintas dan kehidupan kota, kawasan ini menghadirkan suasana yang memungkinkan pengunjung menikmati waktu bersantai yang sesungguhnya.
Selain pemandangan alamnya yang hijau dan asri, kawasan Pasar Slumpring juga memiliki Tuk Mudal, sebuah kolam mata air alami dengan air yang sangat jernih. Tuk Mudal menjadi daya tarik tambahan bagi pengunjung yang ingin menikmati kesegaran air mata air alami. Perpaduan antara rimbunnya rumpun bambu dan jernihnya air kolam menciptakan suasana yang sungguh menyegarkan, menjadikan Pasar Slumpring destinasi yang layak masuk dalam daftar tujuan wisata di Kabupaten Tegal.
Aspek paling menarik dari Pasar Slumpring adalah konsep tradisional yang terasa kental di hampir setiap sudutnya. Salah satu ciri khas yang langsung mencuri perhatian adalah sistem pembayarannya yang menggunakan koin bambu. Sebelum berbelanja, pengunjung harus menukarkan uang mereka terlebih dahulu di loket yang telah disediakan. Koin-koin tersebut kemudian digunakan untuk membeli beragam makanan, camilan, dan minuman yang tersedia. Metode transaksi ini menciptakan pengalaman yang unik, karena pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati sajian kuliner, tetapi juga untuk merasakan langsung suasana pasar tradisional dengan sentuhan yang istimewa.
Suasana tradisional semakin diperkuat oleh cara penyajian makanan menggunakan wadah alami, seperti daun pisang dan daun jati. Selain itu, pihak pengelola dan para pedagang mengenakan pakaian tradisional khas Tegal; para wanita memakai kebaya yang dipadukan dengan kain batik (jarit), sehingga semakin memperkental nuansa budaya Jawa di pasar ini. Justru sentuhan-sentuhan sederhana inilah yang memberikan karakter khas serta daya tarik tersendiri bagi Pasar Slumpring, yang jarang ditemukan di tempat lain.
Di balik konsep uniknya, Pasar Slumpring bermula dari keinginan masyarakat Desa Cempaka untuk mengembangkan potensi wilayah mereka. Gagasan mengenai pasar ini muncul saat penyelenggaraan Festival Bumijawa beberapa tahun yang lalu. Setelah acara tersebut, warga mulai memikirkan kegiatan yang dapat diadakan secara rutin, bukan sekadar pada momen atau perayaan tertentu. Melimpahnya pohon bambu yang tumbuh di desa tersebut menjadi inspirasi untuk menciptakan pasar dengan konsep yang berbeda dari pasar lainnya di Kabupaten Tegal.
Desa Cempaka dikenal sebagai penghasil bambu berkualitas unggul. Potensi ini dimanfaatkan untuk mendirikan Pasar Slumpring, yang menerapkan sistem pembayaran menggunakan koin bambu. Setelah melalui proses penghimpunan masukan dan perencanaan, pasar ini akhirnya dibuka pada tahun 2017. Sejak saat itu, Pasar Slumpring terus berkembang dan menjadi destinasi wisata unggulan di Kabupaten Tegal.
Saat ini, Pasar Slumpring dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Cempaka dan menempati area seluas kurang lebih 700 meter persegi. Terdapat 29 pedagang yang berjualan di lokasi pasar, yang semuanya merupakan warga Desa Cempaka. Keterlibatan masyarakat setempat memegang peranan penting dalam pengelolaan destinasi ini, sekaligus memberikan kesempatan bagi warga untuk mengembangkan usaha serta memamerkan produk lokal kepada wisatawan.
Seiring perkembangannya, fasilitas di Pasar Slumpring kini semakin lengkap. Pengunjung dapat menikmati panggung pertunjukan musik langsung, area bersantai sembari bersantap, zona permainan tradisional, Toilet, Musholla, serta area parkir. Tersedia pula berbagai stan yang menjajakan camilan dan minuman. Bagi keluarga yang membawa anak-anak, wahana perahu kayuh di Tuk Mudal dan kegiatan melukis menjadi pilihan menarik selama kunjungan. Beragam fasilitas ini menjadikan Pasar Slumpring bukan sekadar destinasi kuliner, melainkan juga tempat rekreasi yang menyenangkan untuk dinikmati bersama keluarga dan teman-teman.
Membahas Pasar Slumpring tentu tidak lengkap tanpa menyinggung ragam kuliner yang ditawarkannya. Berbagai makanan tradisional menjadi daya tarik utama yang menggugah pengunjung untuk mencicipi lebih banyak hidangan. Mulai dari Cetot, Cenil, Tiwul, Gaplek, Nasi Jagung, dan Nasi Ponggol hingga aneka gorengan, Semuanya tersedia di sini. Menariknya, Selain sajian tradisional tersebut, tersedia pula camilan kekinian yang memberikan pilihan lebih beragam bagi para pengunjung.
Untuk pilihan minuman, tersedia Wedang Uwuh, beragam minuman es, Serta Teh Poci khas Tegal (teh yang disajikan dalam poci tanah liat kecil); semuanya turut memperkaya pengalaman kuliner di tengah suasana pedesaan. Hidangan istimewa lain yang patut dicoba adalah cukit kuliner khas Desa Cempaka yang terbuat dari campuran singkong fermentasi (tape) dan tepung, dengan bentuk yang menyerupai serabi (panekuk tradisional berbahan tepung beras). Kudapan khas daerah ini menjadi daya tarik unik yang tidak hanya menawarkan cita rasa istimewa, Tetapi juga mencerminkan kekayaan warisan kuliner masyarakat setempat.
Aspek menarik lainnya adalah harganya yang terjangkau. Setiap koin bambu bernilai Rp2.500, dan pengunjung dapat menukarkan kembali koin yang tidak terpakai di loket. Sementara itu, tiket masuk Pasar Slumpring adalah Rp5.000 per orang, dengan biaya parkir sebesar jumlah yang sama. Dengan harga tersebut, pengunjung dapat menikmati suasana pasar tradisional, menjelajahi kebun bambu, serta mencicipi beragam kuliner khas setempat.
Pasar Slumpring beroperasi setiap hari Minggu mulai pukul 07.00 hingga 12.00 WIB. Namun, pada momen-momen khusus seperti Idulfitri, pasar ini bisa tetap buka hingga empat hari. Waktu pagi hari ini memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk menikmati suasana pasar saat udara masih sejuk dan aktivitas perdagangan baru saja dimulai.
Daya tarik Pasar Slumpring juga terlihat jelas dari jumlah pengunjungnya. Rata-rata, pasar ini menarik antara 700 hingga 800 pengunjung setiap minggunya. Angka tersebut meningkat selama masa libur Lebaran, saat jumlah pengunjung bisa mencapai 2.000 hingga 2.500 orang. Angka-angka ini menunjukkan bahwa Pasar Slumpring memiliki tempat istimewa di hati wisatawan, khususnya mereka yang mencari pengalaman wisata unik dengan nuansa tradisional yang kental.
Pada akhirnya, Pasar Slumpring lebih dari sekadar tempat untuk membeli makanan atau menghabiskan waktu luang. Pasar ini menjadi bukti nyata bahwa potensi desa dapat dikembangkan menjadi objek wisata yang menarik bagi pengunjung sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat setempat. Perpaduan antara alam, kuliner, dan tradisi yang terjaga menjadikan Pasar Slumpring sebuah destinasi yang menawarkan pengalaman sederhana namun berkesan.
Jadi, jika Anda mencari tempat untuk menghabiskan akhir pekan di Kabupaten Tegal, Pasar Slumpring bisa menjadi pilihan yang menarik. Nikmati suasana sejuk di tengah rimbunnya rumpun bambu, cicipi aneka jajanan tradisional yang kini semakin langka, serta rasakan sensasi unik berbelanja menggunakan koin bambu. Di sini, Anda dapat menemukan pengalaman wisata istimewa yang memadukan tradisi, kuliner lezat, dan pesona pedesaan dalam satu destinasi.
