Selalu Ingin Melampaui Orang Lain, Ambisi atau Ketakutan Akan Kekalahan?

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Pancasakti Tegal
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari An-nissa Fatkhurisqi Budianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi sebagian orang, kesuksesan terasa belum lengkap ketika orang lain mampu meraih pencapaian yang lebih besar. Nilai yang tinggi, prestasi dalam organisasi, atau berbagai tonggak pencapaian yang diraih rekan sebaya bisa menjadi pemicu yang mendorong seseorang untuk terus berjuang. Meski keinginan untuk berkembang adalah hal yang wajar, namun ketika kebahagiaan seseorang justru bergantung pada perbandingan posisinya dengan posisi orang lain, muncul sebuah pertanyaan: apakah ini merupakan ambisi untuk terus maju, atau justru ketakutan untuk tertinggal?
Pada awalnya, dorongan untuk berprestasi dapat memberikan dampak positif. Hal ini memotivasi seseorang untuk belajar lebih giat, mencoba pengalaman baru, serta berupaya memperbaiki kekurangan diri. Namun, dorongan tersebut bisa berubah ketika tujuan pribadi yang mendasarinya bergeser bukan lagi demi mencapai sesuatu yang benar-benar diinginkan, melainkan demi memastikan agar pencapaian diri sendiri tidak tertinggal dari pencapaian orang lain.
Situasi ini sering dijumpai di sekolah, universitas, maupun berbagai organisasi. Ketika seseorang di lingkungan yang setara meraih nilai yang lebih tinggi atau terpilih untuk mendapatkan kesempatan tertentu, keberhasilan tersebut kerap memicu rasa tidak nyaman. Alih-alih melihatnya sebagai sumber inspirasi, seseorang mungkin merasa terdorong untuk segera membuktikan bahwa dirinya sama mampunya atau bahkan mungkin lebih baik.
Media sosial membuat kebiasaan membandingkan diri sendiri dengan orang lain menjadi semakin sulit dihindari. Pencapaian orang lain muncul setiap hari melalui unggahan mengenai keberhasilan, pengalaman, dan kesuksesan mereka. Tanpa kita sadari, hidup berubah menjadi perlombaan yang tidak memiliki garis finis, karena selalu ada orang lain yang tampak lebih unggul.
Di balik keinginan untuk selalu menjadi yang terbaik, terkadang terdapat kebutuhan akan pengakuan. Pujian dan penghargaan menjadi tolok ukur seseorang dalam menilai kemampuannya sendiri. Ketika pengakuan tersebut tidak kunjung datang, pencapaian yang sebenarnya sangat mengesankan pun bisa terasa tidak berarti. Pada akhirnya, seseorang mungkin menjadi lebih sibuk membuktikan diri kepada orang lain daripada memahami apa yang sebenarnya ingin ia capai.
Akibatnya, menjadi sulit untuk menikmati keberhasilan. Begitu satu target tercapai, target lain segera muncul yang harus dilampaui. Saat keberhasilan diraih, kepuasan yang dirasakan pun hanya berlangsung singkat. Sebaliknya, kegagalan justru membawa kekecewaan yang jauh lebih besar terutama jika orang lain berhasil mencapai hal yang sama. Dalam kondisi seperti ini, ambisi yang tadinya berfungsi sebagai daya dorong dapat berubah menjadi sumber tekanan.
Meskipun demikian, keinginan untuk unggul tidaklah salah. Ambisi dapat mendorong pertumbuhan pribadi, asalkan didasari oleh tujuan yang jelas dan upaya sadar untuk memperbaiki diri. Persoalannya terletak pada apa yang dijadikan tolok ukur keberhasilan: apakah pengembangan kemampuan diri sendiri, atau posisi seseorang dibandingkan dengan orang lain.
Membedakan keduanya memerlukan keberanian untuk melakukan evaluasi diri. Saat Anda melihat seorang teman meraih kesuksesan, apakah hal itu memicu keinginan untuk belajar, atau justru mendorong Anda untuk segera mengungguli mereka? Pertanyaan sederhana ini dapat membantu seseorang memahami motivasi dirinya sendiri. Mengakui bahwa orang lain memiliki kelebihan tertentu bukan berarti merendahkan diri sendiri; sebaliknya, hal itu merupakan bentuk penerimaan bahwa setiap individu menempuh jalan yang berbeda dan menjumpai peluang yang juga berbeda.
Pada akhirnya, hidup bukanlah perlombaan yang mengharuskan setiap orang mencapai garis finis pada waktu yang bersamaan. Sebagian orang berkembang lebih cepat, yang lain membutuhkan lebih banyak waktu, dan ada pula yang meraih kesuksesan melalui jalan yang berbeda. Membandingkan perjalanan yang tidak serupa hanya akan menyulitkan seseorang untuk melihat pencapaian pribadinya sendiri.
Ambisi seharusnya mendorong seseorang untuk terus berkembang, alih-alih membuatnya merasa takut akan keberhasilan orang lain. Bagaimanapun, kesuksesan tidak selalu berarti harus selalu selangkah lebih maju daripada orang lain. Terkadang, pencapaian terbesar justru muncul saat seseorang mampu mengenali kemajuannya sendiri, menghargai proses yang telah dilalui, dan terus melangkah maju tanpa perlu memandang orang lain sebagai lawan.
