Chinmoku dalam Perspektif Lintas Budaya

Mahasiswa tahun ketiga di Universitas Airlangga. Dangat tertarik dalam kompetisi bidang penalaran dan kepenulisan. Memiliki berbagai pengalaman organisasi dan kerja paruh waktu.
Tulisan dari Safira Gita Nabilla tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Proses penyampaian maksud dan tujuan kepada lawan bicara atau yang biasa disebut komunikasi, merupakan hal yang tidak dihindari dari manusia sebagai makhluk sosial. Dalam berkomunikasi, pihak satu dengan yang lain hendaknya menggunakan simbol, tanda, maupun aturan semiotika yang masing-masing dapat dipahami oleh kedua belah pihak.
Komunikasi dianggap kurang baik apabila sering terjadi salah persepsi dan berakhir dengan kesimpulan makna yang berbeda-beda. Maka dari itu, setiap manusia yang melakukan komunikasi selalu ingin menyukseskan dengan upaya melakukan interaksi yang dapat dipahami bersama.
Apa itu Chinmoku?
Di Jepang, terdapat istilah chinmoku yang merujuk kepada aktivitas kosong atau berdiam diri dalam berkomunikasi. Dalam hal ini, seseorang yang melakukan chinmoku akan diam dengan tidak mengatakan apa pun dan bermaksud apa pun. Diam dalam budaya Jepang ini secara khusus memiliki tujuan bagi para pelakunya. Chinmoku yang berarti diam atau keheningan dapat bermakna positif maupun negatif tergantung pada kondisi kegiatan tersebut dilakukan.
Masyarakat Jepang menganggap bahwa chinmoku memiliki keistimewaan dan mengandung nilai budaya yang berpengaruh besar terhadap komunikasi antar manusia. Ungkapan tersebut didukung oleh pernyataan Takie Sugiyama Lebra yang menyebutkan bahwa keheningan dalam budaya Jepang itu sebenarnya mencerminkan kebenaran. Orang Jepang percaya bahwa kebenaran hanya ditemukan pada alam batin yang dilambangkan berada dalam hati atau perut.
Lebih lanjut, Lebra juga menjelaskan bahwa kebenaran, ketulusan, kepercayaan, juga keterusterangan dekat dengan sikap berdiam diri. Sedangkan komponen yang berada di luar diri seperti raut wajah, mulut, hingga kata-kata yang diucapkan memiliki perbedaan dalam hal kognitif dan melambangkan kepalsuan moral. Sehingga, orang yang lebih banyak diam dan sedikit bicara dianggap lebih meyakinkan daripada orang yang banyak bicara. Itu berarti konotasi chinmoku dalam hal ini memiliki suasana yang positif.
Bagaimana Pandangan Negara Non-Jepang Terhadap Chinmoku?
Melihat dari anggapan masyarakat Jepang terhadap chinmoku agaknya terjadi pengertian yang jauh berbeda yang dimiliki orang barat terutama warga Amerika Serikat. Mereka memiliki pepatah yang mengatakan bahwa ‘Ban berdecitlah yang akan mendapatkan oli’ sedangkan di Jepang terdapat pepatah antonim dari milik AS yang berbunyi ‘Pria yang diam adalah orang yang terbaik untuk didengarkan'. Oleh karena itu, sudah sangat jelas mengapa orang Jepang jauh lebih pendiam dibanding dengan orang di negara-negara barat.
Dalam sebuah penelitian, disebutkan bahwa penutur Bahasa Inggris merasa sangat tidak nyaman ketika terjadi gap atau jeda panjang dalam percakapan. Mereka menganggap jeda merupakan suatu hal aneh dan representasi dari bentuk canggung. Penelitian yang dilangsungkan oleh Universitas Groningen di Belanda melontarkan fakta bahwa setiap terjadi jeda dalam percakapan yang dilakukan oleh orang Amerika selama lebih dari empat detik, mereka akan mulai gelisah.
Sebaliknya, penelitian yang dilakukan terhadap orang-orang Jepang saat menjalani pertemuan bisnis menunjukkan bahwa mereka justru senang dan nyaman dengan kondisi diam selama kurang lebih 8,2 detik. Hasil tersebut berarti hampir dua kali lipat lebih lama dengan apa yang dialami oleh orang Amerika dalam rapatnya.
Di Jepang, penafsiran chinmoku begitu menarik atas dukungan budaya yang menganggap bahwa komunikasi terbaik ialah di saat manusia sama sekali tidak berbicara. Menurut Dr. Deborah Tannen, profesor linguistik dari Universitas Georgetown, Amerika Serikat mengatakan orang Jepang memaknai tindakan berbicara atau menyampaikan kata merupakan bentuk kegagalan untuk saling memahami.
Manusia disebut gagal memahami satu sama lain karena tidak tahu maksud dan perasaan lawan bicara sehingga dibutuhkan kata-kata untuk mendeskripsikannya. Lagi-lagi pernyataan di atas bertentangan dengan budaya orang barat terlebih Amerika Serikat. Dalam penelitian Carbaugh, ditemukan kesimpulan bahwa ketika terjadi perbedaan yang kompleks antar satu insan dengan lainnya sehingga sulit menemukan kesamaan, maka berbicara adalah suatu keharusan. Begitu pula dengan keadaan di mana orang mulai gelisah, interaksi secara verbal hendaknya dilakukan untuk menyamakan hal mendasar dalam hidup.
Pernyataan ini tidak hanya berlaku di Amerika Serikat, namun juga telah tervalidasi adanya di London. Penafsiran chinmoku menurut budaya Jepang mungkin berbanding terbalik dengan negara lain termasuk Indonesia. Masyarakat Indonesia lebih memaknai sikap diam ke arah negatif karena menunjukkan ketidakpedulian dan melambangkan kekesalan ketika mendiamkan lawan bicara.
Namun, telaah chinmoku di Jepang didukung oleh budaya masyarakat Finlandia yang menyukai kegiatan merenung dan senang duduk dalam diam. Hal itu bertujuan untuk menghargai privasi lawan bicara serta menahan diri untuk tidak berlaku secara berlebihan. Kemudian, orang Finlandia juga lebih memilih untuk menjadi pendengar yang baik dibanding banyak bicara. Penelitian mengenai sikap orang Finlandia ini telah dilakukan oleh Donal Carbaugh selaku profesor komunikasi di Univesitas Massachusetts Amherst.
Faktor yang Mendasari Perbedaan Pandangan Terhadap Chinmoku
Terlepas dari perbedaan setiap negara menghadapi fenomena chinmoku, peran sejarah dan budaya begitu mendominasi perilaku masyarakat sehingga membentuk perspektif masing-masing dari setiap warga negara. Masyarakat Jepang dipengaruhi oleh sejarah dan kepercayaan Zen Buddhisme yang mengajarkan bahwa kebenaran tidak dapat digambarkan secara verbal dan hanya dapat tercipta dalam keheningan.
Dalam hal lain, Jepang memiliki kesenian tradisional seperti musik yang melambangkan jeda di antara suara, istilah tersebut dinamakan ma. Lebih lanjut, terdapat beberapa aktivitas di Jepang yang mengandalkan ketenangan dan suasana sepi seperti menulis kaligrafi (shodo) dan merangkai bunga (kado). Keheningan akan menambah fokus dalam pengerjaan kedua aktivitas di atas.
Sedangkan negara di Eropa tumbuh dalam lingkungan yang mendorong mereka untuk terus berinteraksi dengan masyarakat sehingga kegiatan diam sangat bertentangan dengan karakter warganya yang bukan pemalu. Mereka juga memiliki pemikiran terbuka dengan memegang aturan yang bebas. Sehingga masyarakatnya merasa acuh terhadap sekitar dan itu dapat berpengaruh dalam mengurangi rasa malu dari setiap individu.
Penyebab kemungkinan lain mengapa orang Jepang sering melakukan chinmoku terhadap orang lain adalah karena adanya kesadaran kelompok. Kesadaran kelompok ini dilambangkan dengan ungkapan Deru kui wa utareru yang berarti paku yang menonjol keluar akan dipukul ke bawah. Kemudian, menunjukkan kemampuan dan keahlian serta kepintaran secara terbuka justru akan menciptakan stigma negatif dari orang lain. Di Jepang tindakan semacam itu justru dianggap berlebihan, gegabah, dan tidak dewasa. Maka dari itu, pada akhirnya orang Jepang banyak yang memilih untuk tidak mengatakan apa pun daripada menimbulkan suatu masalah seperti kesalahpahaman.
Secara keseluruhan, terdapat aspek positif dan negatif terkait dengan hadirnya chinmoku dalam komunikasi di Jepang. Perlu diperhatikan bahwa ketika orang Jepang diam bukan berarti mereka tidak memiliki gagasan atau tidak ingin mengungkapkan sesuatu. Diam biasanya identik dengan sikap hati-hati atau keraguan dan mereka berusaha mencari cara untuk berkomunikasi dengan lembut. Oleh karena itu, meskipun seseorang mempunyai sesuatu yang ingin dikatakan, nyatanya mereka tidak memperlihatkan semua yang ada di pikiran mereka dan tidak mengungkapkan maksud yang sebenarnya.
Referensi:
Morrison, L. (2017, July 19). The subtle power of uncomfortable silences. www.bbc.com. Retrieved September 22, 2022, from https://www.bbc.com/worklife/article/20170718-the-subtle-power-of-uncomfortable-silences
Takie Sugiyama, L. (1987). The subtle power of uncomfortable silences. Multilingua - Journal of Cross-Cultural and Interlanguage Communication, Volume 6 (4), 343–357. https://doi.org/10.1515/mult.1987.6.4.343
