Konten dari Pengguna

Dari Dekat, Stigma Itu Tak Lagi Sama

Safirah Bahanan

Safirah Bahanan

Mahasiswi Ilmu Kesejahteraan Sosial (S1)

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Safirah Bahanan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi suasana permukiman warga (sumber: dokumentasi pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi suasana permukiman warga (sumber: dokumentasi pribadi)

Beberapa bulan yang lalu, saya mengikuti sebuah program magang dan ditempatkan di sebuah perkampungan kecil di sudut kota Situbondo. Tugas utama saat itu adalah menggali dan mengumpulkan data sesuai panduan dari ASTER Kementerian Sosial. Namun, pengamatan ini tidak hanya sekadar formulir, data, ataupun angka yang diperoleh, melainkan cerita sosial warga kampung yang sangat menarik untuk diulik. Cerita sosial yang menarik ini tidak bisa jika hanya dilihat dari pandangan tunggal semata, tetapi perlu dilihat dari sudut pandang yang dekat dan menyeluruh terhadap keseluruhan aspek di dalamnya.

Pada saat pertama kali menginjakkan kaki di kampung ini, saya melihat kehidupan sederhana dengan aktivitas padat dari masing-masing keluarga. Kampung tersebut terdiri dari 20 KK. Mereka hidup secara turun-temurun dan beberapa di antaranya menikah dengan tetangganya sendiri, sehingga membentuk hubungan kekeluargaan yang lebih erat. Di lahan yang sedikit menanjak itu, berdiri rumah-rumah warga yang berbaris dalam empat lapisan. Dari bawah hingga ke atas, semua diisi oleh rumah-rumah, lengkap dengan aktivitas warga yang serupa. Pagi itu di hari Minggu, anak-anak bermain di tangga tanjakan dan ibu-ibu berbincang-bincang di depan sebuah warung kecil milik salah satu warga kampung. Suasananya terasa hangat dan akrab khas penduduk perkampungan.

Dulunya, lahan perkampungan ini diberikan oleh pemerintah kepada mereka yang mengalami penggusuran dari suatu wilayah di daerah yang sama. Berdasarkan pada penuturan salah satu warga, kampung ini telah berdiri sejak tahun 1990-an, hal inilah yang menyebabkan penduduknya tinggal secara turun-temurun dan memiliki ikatan kekerabatan yang kuat. Sejak dahulu, kampung ini disebut sebagai tempat tinggal dari para pekerja jalanan, yakni pengamen, pengemis, dan pemulung (P3). Sebutan ini terus melekat dan diwariskan dari mulut ke mulut, menjadi sebuah stigma yang melekat dalam masyarakat, bahkan ketika kenyataan yang ada telah berbeda.

Saat ini, sebagian besar penduduk telah beralih pada profesi lain. Para kepala keluarga di kampung ini beralih menjadi pedagang mainan, balon, dan lemek (alas duduk) keliling. Mereka akan berdagang ke berbagai daerah di Situbondo, bahkan hingga ke luar kota, seperti Jember dan Bondowoso. Tentu, dari sini bisa dilihat bagaimana usaha mereka untuk hidup dengan cara yang lebih baik dan perjuangan yang dilakukan untuk menghapus bayang-bayang masa lalu. Peralihan profesi ini menjadi sebuah bentuk perjuangan nyata yang dilakukan warga kampung guna menghapus label negatif yang telah dilekatkan pada mereka. Meskipun pada kenyataannya masih ada warga yang bekerja sebagai P3, namun itu hanyalah sebagian kecil dibandingkan mereka yang telah beralih profesi sebagai pedagang.

Kekuatan Solidaritas di Tengah Keberagaman

Interaksi anak-anak pada malam hari (sumber: dokumentasi pribadi)

Meskipun tumbuh dan besar di Situbondo yang mayoritas penduduknya adalah suku Madura, penduduk di kampung ini mayoritas berasal dari daerah yang berbeda-beda. Rata-rata dari mereka adalah pendatang yang kemudian menetap di perkampungan ini selama bertahun-tahun lamanya. Penduduk ini berasal dari berbagai daerah seperti Bayuwangi, Malang, Pasuruan, Sulawesi, dll. Perbedaan yang ada tidaklah menjadi sebuah tantangan bagi mereka, hal ini justru dijadikan sebagai alasan kuat untuk saling mendukung satu sama lain. Di tengah-tengah keberagaman ini, ada satu hal yang juga unik dan menarik. Pasalnya, mereka lebih dominan berbahasa Jawa dibandingkan Madura. Akan tetapi, mereka tetap fasih berbahasa Madura, terlebih ketika berinteraksi dengan orang-orang asli Situbondo. Hal ini menggambarkan adanya dinamika komunikasi yang unik dalam masyarakat kampung. Selain itu, dalam hal kekerabatan, mereka sangat menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan tolong-menolong. Hal ini terlihat dari bagaimana mereka membangun komunitas dagang di kampung mereka. Sesuai dengan penuturan dari salah satu kepala keluarga (PS), “Biasanya kami saling menginformasikan jika ada acara-acara yang ramai pengunjung, seperti acara shalawat, nikahan, dll. Kami berangkat bersamaan, biasanya acara shalawat itu malam, jadi kami berangkat sejak pukul 21.00 dan pulangnya juga bareng-bareng pukul 01.00 dini hari”. Dari sini, bisa dilihat bagaimana toleransi dan solidaritas justru melekat kuat di tengah-tengah keterbatasan dan stigma negatif yang dilihat oleh orang-orang di luar sana.

Stigma yang Belum Hilang Sepenuhnya

Kehidupan di kampung ini telah banyak berubah, semakin hari nilai-nilai gotong royong dan toleransi semakin melekat kuat dalam diri setiap warganya. Meskipun demikian, hal ini tidak mengubah cara pandang masyarakat sepenuhnya. Sebagian masyarakat masih melihat mereka dengan pandangan yang sama seperti dulu, meskipun nyatanya telah banyak perubahan. Mereka seringkali masih dilihat sebagai kelompok “P3”, walaupun realitasnya mayoritas penduduk kampung telah bekerja dengan cara yang lebih baik dan juga mandiri.

Stigma yang diwariskan turun-temurun ini membuat kerja keras mereka seolah tidak terlihat. Tidak jarang, ketika terjadi suatu masalah di lingkungan sekitar, kecurigaan masyarakat seringkali menuju pada kampung ini. Padahal, hanya tinggal segelintir orang saja yang masih terlibat dalam aktivitas mengemis dan mengamen. Sebagian besar warga justru selalu berusaha untuk memperbaiki kehidupan mereka, menjaga lingkungan serta nama baiknya agar tidak dipandang negatif.

Situasi seperti inilah yang menggambarkan adanya ketidaksesuaian, di mana mereka masih dilihat dengan status lama, walaupun kenyataannya telah banyak berubah. Bagi penduduk kampung, satu hal yang paling mereka harapkan adalah untuk diakui keberadaannya sebagai bagian dari masyarakat yang tinggal dalam lingkungan yang sama. Mereka ingin dilihat dan dihargai sebagai warga yang hidup berdampingan dalam masyarakat, bukan dinilai dari stigma sosial yang pernah melekat.

Refleksi Kewarganegaraan

Setelah masuk dan melihat langsung kehidupan penduduk di kampung ini, saya diajak untuk menyadari dan memahami bahwa kewarganegaraan bukan sekedar identitas administratif, tetapi lebih dari itu. Di dalamnya tercantum bagaimana kita saling memandang satu sama lain sebagai bagian dari warga negara Indonesia. Kampung itu mengajarkan arti dari pelestarian nilai-nilai luhur negara kita, seperti toleransi, gotong royong, serta menghargai dan menghormati orang lain yang sedang bertumbuh dan memperbaiki hidupnya ke arah yang lebih baik.

Dari sudut pandang yang dekat, saya melihat bagaimana setiap warga kampung mengupayakan diri pada kehidupan yang mandiri. Mereka berusaha untuk membangun dan menjalankan pemukiman yang tertib, aman, serta memiliki ikatan solidaritas yang kuat. Nilai-nilai yang tercermin dari perkampungan inilah yang justru sejalan dengan yang diajarkan dalam pendidikan kewarganegaraan, yang di dalamnya menekankan pada nilai kemanusiaan, kesetaraan dalam hidup, dan bagaimana hidup berdampingan yang tentram dalam keberagaman.

Dengan melihat menggunakan perspektif berbeda membuat kita memahami bahwa individu maupun kelompok tidak bisa dinilai hanya dari cerita lama atau masa lalu yang melekat pada diri mereka. Kita perlu memberi ruang untuk bisa melihat dan menelaah lebih jauh sebelum akhirnya memberikan penilaian. Mengakui perubahan dan usaha yang dilakukan warga kampung ini bukan hanya sekedar tindakan empatik kita sebagai warga negara, melainkan juga sebuah bentuk penghormatan kita terhadap hak mereka sebagai warga negara yang setara dalam masyarakat.

Safirah Bahanan, mahasiswa S1 Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Jember.