Kesehatan Anak Kos: Strategi Efektif Mencegah Maag di Kesibukan Kuliah

Mahasiswa Prodi S1-Kedokteran Universitas Airlangga
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Safira Sayyidina As Sulton tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Halo mahasiswa rantau! Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Indonesia, prevalensi penyakit maag pada kelompok usia 18-24 tahun meningkat hingga 30% dalam lima tahun terakhir. Jadwal kuliah yang padat, tekanan akademik, serta perubahan pola makan yang tidak teratur menjadi pemicu utama meningkatnya kasus penyakit maag di kalangan mahasiswa.
Apa benar kesehatan mahasiswa demikian? Mari kita kupas tuntas bersama!
Dari ujung Sabang sampai Merauke, generasi penerus bangsa berlomba-lomba untuk berkuliah di Universitas top yang diidam-idamkan. Sudah tidak asing apabila menemukan mahasiswa dari luar kota bahkan luar pulau di lingkungan perkuliahan. Mereka yang berkuliah jauh dari keluarga dan bertempat tinggal di kos/apartemen/rumah sewa ini biasa disebut dengan ‘Mahasiswa Rantau’.
Mereka harus hidup mandiri demi mencapai pendidikan tinggi sehingga mengatur segala keperluannya sendiri. Selain itu, mereka harus beradaptasi dengan lingkungan perkuliahan. Adapun tantangan yang harus dihadapi oleh mahasiswa rantau, antara lain:
Membeli makanan di luar atau memasak sendiri. Seperti yang kita tahu, bahwa disekitar area perkuliahan banyak sekali warung atau tempat makanan siap saji. Berdasarkan survei Asosiasi Mahasiswa Gizi Indonesia (AMGI) pada tahun 2023, sekitar 68% mahasiswa rantau lebih memilih membeli makanan di luar daripada memasak sendiri, yang seringkali berdampak pada kualitas gizi yang rendah.
Manajemen waktu yang tidak teratur terhadap pola makan. Kesibukan kuliah dan tugas membuat mahasiswa sering kali tidak memiliki cukup waktu untuk memasak makanan sehat. Alhasil mereka lebih memilih makanan fast food atau mie instan yang tidak mencukupi nutrisi bagi tubuh.
Menerapkan biaya hidup hemat sebagai anak rantau. Menurut survei Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2023, rata-rata mahasiswa rantau di Indonesia menghabiskan sekitar 40% dari uang bulanannya untuk kebutuhan makan, dengan prioritas pada harga yang terjangkau dibandingkan nilai gizi.
Setelah mengetahui tantangan apa saja yang dihadapi mahasiswa rantau. Sehingga asupan pola makan yang tidak teratur dan kurang bergizi tersebut dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi kesehatan seperti maag, penurunan daya tahan tubuh, konsentrasi, bahkan gangguan berat badan.
Menjaga pola hidup sehat merupakan tantangan tersendiri bagi mahasiswa yang harus hidup mandiri. Kesehatan yang terjaga tidak hanya mendukung aktivitas perkuliahan tetapi juga membantu meningkatkan daya tahan tubuh dan produktivitas.
Lantas bagaimana cara mahasiswa rantau menjalani pola hidup sehat? Hal yang dapat mahasiswa rantau lakukan dengan selalu mengingat SEHATI yaitu:
S – Seimbangkan Asupan Pola Makan Pola makan yang seimbang adalah fondasi utama kesehatan. Asupan gizi yang baik akan memberikan energi untuk menjalani aktivitas sehari-hari serta mendukung fungsi organ tubuh, termasuk otak yang berperan penting dalam proses belajar.
E – Evaluasi Konsumsi Sebagai mahasiswa rantau, sering kali kita tergoda untuk mengonsumsi makanan dan minuman yang cepat, praktis, dan murah. Namun, tidak semua pilihan tersebut mampu memenuhi nutrisi dalam tubuh. Penting untuk selalu mengevaluasi asupan yang masuk ke tubuh.
H – Hindari Stres Stres merupakan hal umum yang dialami mahasiswa rantau karena harus menghadapi tuntutan akademik, kehidupan sosial, sehingga perencanaan keuangan. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, stres dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, termasuk maag, insomnia, dan gangguan mental lainnya.
A – Atasi dengan Olahraga Olahraga memiliki banyak manfaat, mulai dari meningkatkan kebugaran fisik hingga membantu mengurangi stres. Selain itu, olahraga juga dapat memperbaiki kualitas tidur dan meningkatkan konsentrasi belajar.
T – Tidur Cukup Tidur yang cukup dan berkualitas adalah komponen penting dari pola hidup sehat. Kurangnya tidur dapat menyebabkan penurunan daya konsentrasi, kelelahan, dan gangguan suasana hati
I – Inisiatif Cek Kesehatan Sebagai mahasiswa rantau, penting untuk proaktif memantau kondisi kesehatan. Deteksi dini rutin terhadap gangguan kesehatan dapat mencegah kondisi yang lebih serius di kemudian hari.
Setelah mengetahui beberapa hal yang telah dibahas. Menjadi mahasiswa rantau adalah perjalanan penuh tantangan yang menuntut kemandirian, termasuk dalam menjaga pola hidup sehat. Dengan menerapkan prinsip SEHATI, mahasiswa bisa menyeimbangkan antara kesehatan fisik dan mental, sehingga mampu menghadapi segala tuntutan akademik dan kehidupan sehari-hari dengan lebih baik.
Selalu ingat, kesehatan adalah investasi jangka panjang yang akan mendukung kesuksesan di masa depan. Mari kita mulai dari langkah kecil hari ini untuk menciptakan hidup yang lebih sehat dan berkualitas!
