Konten dari Pengguna

Anak Saya dan Layar: Pelajaran Nyata di Era Digital

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sagita Seftiany tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi anak sedang maen hp. (https://pixabay.com/id/images/search/anak%20main%20hp/).
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi anak sedang maen hp. (https://pixabay.com/id/images/search/anak%20main%20hp/).

Suatu malam, saya menemukan anak saya masih terpaku pada layar ponsel, meski waktu tidur sudah lewat. “Sebentar lagi, Bu, tinggal satu level,” ucapnya. Tapi malam itu, saya tidak hanya melihat seorang anak yang bermain game. Saya melihat sebuah pertanyaan besar: apakah saya telah gagal membimbingnya dalam dunia digital ini?

Hari ini, anak-anak tumbuh dalam realitas di mana mereka mengenal YouTube sebelum mengenal buku cerita. Mereka sudah terbiasa mencari informasi di Google bahkan sebelum lancar menulis. Sebagai orang tua, saya sempat merasa bangga: “Anak saya cerdas secara digital!” Namun belakangan, saya mulai bertanya—apakah teknologi ini sekadar alat bantu, atau justru alat yang mengendalikan mereka?

Teknologi membawa banyak manfaat. Saat pandemi, anak saya tetap bisa belajar, membuat presentasi, bahkan mulai tertarik dengan dunia pemrograman. Namun saya juga melihat sisi lainnya: semakin sering ia terpapar layar, semakin mudah ia terdistraksi, dan emosinya pun lebih cepat meledak.

Yang paling mengkhawatirkan, ia merasa bosan ketika tidak memegang gawai. Kehidupan nyata terasa hambar dibanding dunia digital yang serba cepat dan memikat.

Saya mulai memahami bahwa tantangan ini bukan sekadar soal mengurangi waktu bermain gadget. Lebih dari itu, ini tentang bagaimana membimbing anak agar bijak dalam berinteraksi dengan dunia digital: tahu memilih konten, tahu kapan harus berhenti, dan yang terpenting—mampu membedakan realita dengan dunia maya.

Saya sendiri harus banyak belajar. Bukan hanya tentang aplikasi dan teknologi, tapi juga tentang cara memahami perasaan dan kebutuhan anak. Saya tidak cukup hanya menjadi pengawas atau penjaga waktu. Saya harus hadir sebagai teman digitalnya: menemaninya menonton, berdiskusi, dan menjadikan teknologi sebagai jembatan komunikasi, bukan penghalang.

Saya bukan ibu yang sempurna. Kadang saya lelah, kadang saya membiarkan ia larut dalam layar agar rumah lebih tenang. Tapi saya yakin, kesadaran adalah langkah awal. Dan setiap upaya kecil yang kita lakukan akan memberi dampak besar bagi tumbuh kembang anak.

Kita tidak bisa menunggu sampai benar-benar siap menghadapi era digital. Tapi kita bisa memilih untuk ikut serta, belajar, dan menjadi bagian dari proses tumbuh anak-anak kita.

Di masa ini, mendidik bukan lagi sekadar menjauhkan anak dari teknologi, tapi mengajarkan mereka menggunakan teknologi dengan bijak.