Jiwa Tenang, Umat Kuat: Saatnya Ukhuwah Ditanamkan, Bukan Diperdebatkan

Aktivis Dakwah Online & Ketua Komunitas Forum Dakwah Wasathiyah - DAWAI
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Dimas Fajri Adha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: Dimas Fajri Adha
Di banyak mimbar atau stadium general kita sering mendengar istilah ukhuwah islamiyah (persaudaraan dalam Islam). Tapi mengapa persaudaraan ini justru sering terbelah oleh perbedaan yang semestinya menjadi rahmat khasanah keilmuan?
Bukan rahasia, sebagian kelompok Islam menolak ukhuwah yang datang dari "lawan politik"-nya. Ada yang menganggap ajakan ukhuwah hanyalah topeng ideologi, slogan partai, atau jargon kelompok. Padahal ukhuwah bukan milik satu golongan—ia adalah perintah Allah.
"Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara..." (QS. Al-Hujurat: 10)
Ayat ini tidak menyisakan ruang untuk syarat atau afiliasi. Tidak ada embel-embel "asal satu manhaj", "asal satu ormas", atau "asal bukan lawan".
Dari Akar Rumput, Ukhuwah Itu Bernapas
Penulis lahir di keluarga yang mengenal NU dan Muhammadiyah sejak kecil, lalu berteman dengan banyak simpatisan ormas lain seperti Persis, DDI, hingga komunitas pecinta habaib. Anehnya, justru dari orang-orang biasa yang tak tampil di TV, ukhuwah terasa paling nyata.
Ada ibu-ibu pengajian yang tak pernah debat fiqih, tapi saling bantu antar-tetangga. Ada guru ngaji di kampung yang mempersilakan musholanya dipakai semua kalangan. Ada pengurus masjid yang tanpa banyak wacana, membersihkan WC umum dengan senyum.
Itulah ukhuwah yang bukan jargon. Ia hidup karena keikhlasan, bukan kepentingan.
Umat Tak Butuh Debat, Tapi Pelita
Di lapangan, kita melihat ormas besar seperti NU dan Muhammadiyah justru mengisi kekosongan dakwah dengan cara yang lebih bersahaja. Kajian di gang sempit, posyandu keislaman, pengajian anak-anak. Tanpa gaduh, tapi berdaya.
Sayangnya, elit kita justru terlalu sibuk berdebat. Kadang dalam ruang seminar, kadang dalam perang komentar medsos. Di sinilah benang merah ukhuwah itu sering putus: karena ego, bukan karena dalil.
"Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu..." (QS. Al-Anfal: 46)
Islam Itu Indah Bila Hati Telah Tenang
Mengapa kita mudah marah pada saudara seiman? Karena jiwa belum tenang. Ketika hati masih penuh syak wasangka, Islam terlihat seperti sistem yang kaku. Tapi saat jiwa mencapai ketenangan—nafs al-muṭma’innah—Islam memancarkan keindahan sejatinya: kasih, sabar, dan kebesaran jiwa.
"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai..." (QS. Al-Fajr: 27–30)
Ukhuwah sejati hanya bisa tumbuh dari hati yang lillah, bukan karena fanatik kelompok. Dan hati yang lillah, lahir dari ketenangan yang dibangun lewat keikhlasan, bukan kekuasaan.
Saatnya Memilih Menjadi Cahaya
Hari ini, umat tidak butuh debat panjang soal siapa yang paling benar. Umat butuh cahaya. Dan cahaya itu bisa datang dari siapa saja: guru ngaji, ustaz kampung, aktivis pendidikan, atau ibu rumah tangga yang menghidupkan majelis taklim di teras rumahnya.
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik..." (QS. An-Nahl: 125)
Karena Islam bukan hanya tentang menang debat, tapi tentang menyentuh hati. Dan ukhuwah, bukan soal seragam dan stempel, tapi soal cinta yang bersumber dari iman.
Dimas Fajri Adha, pemerhati isu keumatan, aktif di komunitas Forum Dai Wasathiyah Indonesia (DAWAI)
