Konten dari Pengguna

KKN ITERA PPM 06 Kembangkan Madu Trigona dan Kebun Sayur di Gunung Gijul

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari SAHADI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa KKN ITERA Dampingi Warga Optimalkan Potensi Lokal Lewat Budidaya Madu dan Ketahanan Pangan

Dokumentasi: Foto mahasiswa KKN dilokasi Ternak Madu Trigona (Foto: Dokumen Pribadi KKN ITERA 06)
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi: Foto mahasiswa KKN dilokasi Ternak Madu Trigona (Foto: Dokumen Pribadi KKN ITERA 06)

Lampung Utara – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Institut Teknologi Sumatera (ITERA) Kelompok 06 menggagas program pengembangan potensi madu trigona sekaligus penanaman sayuran di Desa Gunung Gijul, Kecamatan Abung Tengah, Kabupaten Lampung Utara. Kegiatan yang berlangsung sejak 8 Januari hingga 6 Februari 2026 ini bertujuan untuk mendukung konservasi lingkungan, meningkatkan nilai ekonomis produk unggulan desa, serta mewujudkan ketahanan pangan keluarga.

A. Pengembangan Madu Trigona: Si Emas Hitam dari Gunung Gijul

Dokumentasi: Foto Sarang madu dilokasi Ternak Madu Trigona (Foto: Dokumen Pribadi KKN ITERA 06)

Desa Gunung Gijul dikenal sebagai salah satu sentra penghasil madu trigona atau yang dikenal juga dengan sebutan madu kelulut, madu galo-galo, atau madu klanceng. Berbeda dengan lebah pada umumnya, lebah trigona tidak memiliki sengat dan berukuran kecil dengan panjang tubuh 3–4 mm, sehingga aman dibudidayakan di pekarangan rumah.

Berdasarkan data yang dihimpun mahasiswa KKN, desa ini memiliki potensi luar biasa dengan sekitar 400 hingga 700 sarang lebah trigona yang tersebar di perkebunan kopi dan pekarangan warga. Madu trigona dikenal memiliki kandungan antioksidan yang lebih tinggi dibanding madu pada umumnya serta kaya akan propolis, flavonoid, dan berbagai vitamin seperti vitamin C, B1, B2, B3, B5, B6, B8, B9, dan B12. Selain itu, madu ini juga berkhasiat untuk meningkatkan daya tahan tubuh, mengontrol tekanan darah, dan mempercepat penyembuhan luka.

Tim KKN Kelompok 06 menemukan bahwa produktivitas madu trigona sangat bergantung pada ketersediaan tanaman pakan lebah di sekitar sarang. Kepala Desa Gunung Gijul, Feri Ferdiansyah, menjelaskan bahwa untuk mendapatkan madu yang berkualitas, lebah trigona membutuhkan sumber pakan yang memadai seperti tanaman cengkeh, coklat, pisang, aren, durian, mangga, dan sawo.

Berangkat dari kondisi tersebut, Kelompok 06 menggagas program penanaman bibit tanaman pakan lebah di sekitar area penangkaran. Tanaman yang ditanam antara lain berbagai jenis bunga dan pohon buah-buahan yang menjadi sumber nektar bagi lebah trigona.

B. Gijul Berkebun: Wujudkan Ketahanan Pangan Keluarga

Dokumentasi: Foto mahasiswa KKN Bersama Ibu-ibu PKK (Foto: Dokumen Pribadi KKN ITERA 06)

Selain mengembangkan madu trigona, mahasiswa KKN ITERA Kelompok 06 juga menggagas program "Gijul Berkebun" yaitu penanaman sayuran di lahan-lahan kosong milik warga. Program ini dilatarbelakangi oleh kondisi geografis Desa Gunung Gijul yang berada di wilayah pegunungan dengan akses terbatas. Keterbatasan akses ini berdampak pada ketersediaan bahan pangan segar, khususnya sayuran, yang harganya cenderung lebih mahal karena harus didatangkan dari luar desa.

Berdasarkan hasil survei, tim KKN menemukan adanya lahan kosong yang belum dimanfaatkan secara optimal di sekitar pemukiman warga. Padahal, lahan tersebut sangat potensial untuk dijadikan kebun sayuran guna memenuhi kebutuhan pangan keluarga sehari-hari.

Kegiatan "Gijul Berkebun" dilakukan bersama ibu-ibu PKK Desa Gunung Gijul yang turut serta membantu membersihkan lahan kosong, menyiapkan media tanam, menanam bibit, hingga melakukan perawatan terhadap tanaman agar dapat tumbuh dengan sehat. Jenis sayuran yang ditanam antara lain kangkung dan bayam, karena mudah dibudidayakan, cepat panen, dan menjadi sayuran favorit masyarakat sehari-hari.

Sahadi Salah satu anggota KKN menyampaikan bahwa program ini merupakan bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung kemandirian pangan desa.

"Kami melihat bahwa masyarakat Desa Gunung Gijul masih sangat bergantung pada pasokan sayuran dari luar desa yang harganya relatif mahal. Padahal, di sekitar pemukiman banyak lahan kosong yang bisa dimanfaatkan. Melalui program 'Gijul Berkebun', kami bersama ibu-ibu PKK menanam sayuran seperti kangkung dan bayam. Harapannya, ke depan masyarakat bisa memenuhi kebutuhan sayur secara mandiri dan bahkan bisa menjadi sumber pendapatan tambahan," ujar Sahadi.

C. Sinergi Dua Program: Madu dan Sayuran untuk Kesejahteraan Warga

Dokumentasi: Foto mahasiswa KKN Bersama Ibu-ibu PKK dilokasi Pembibitan (Foto: Dokumen Pribadi KKN ITERA 06)

Yang menarik, program pengembangan madu trigona dan penanaman sayuran ini saling bersinergi. Tanaman sayuran seperti kangkung dan bayam yang berbunga ternyata juga menjadi sumber pakan tambahan bagi lebah trigona. Sebaliknya, keberadaan lebah trigona membantu proses penyerbukan tanaman sayuran sehingga produktivitas kebun semakin meningkat.

Salah seorang warga sekaligus penangkar lebah, Anwar Rasyid, mengapresiasi inisiatif mahasiswa KKN ITERA. Menurutnya, pendampingan ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan warga tentang budidaya lebah trigona yang baik dan benar, sekaligus memanfaatkan lahan kosong untuk ketahanan pangan.

"Kami sangat berterima kasih kepada adik-adik KKN ITERA. Mereka tidak hanya membantu menanam bibit sayur dan tanaman pakan lebah, tapi juga memberikan wawasan baru tentang bagaimana mengembangkan madu trigona dan kebun sayur agar lebih dikenal luas. Semoga ilmu ini bisa terus kami lanjutkan," ujar Anwar.

Ibu-ibu PKK yang tergabung dalam kegiatan "Gijul Berkebun" juga antusias mengikuti setiap tahapan kegiatan. Mereka berharap program ini dapat terus berlanjut meskipun masa KKN telah berakhir.