Ketika Kepercayaan Diuji di Mushola Kampus

Mahasiswa Hukum Keluarga UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Sahal Abdul Qohar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Saya tidak pernah membayangkan sebuah berita tentang pencurian akan datang dari mushola kampus

Beberapa hari lalu, media sosial diramaikan dengan video pencurian telepon genggam yang terjadi di Mushola Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam video tersebut, seorang perempuan diduga mengambil telepon genggam milik mahasiswa sebelum akhirnya berhasil diamankan oleh orang-orang di sekitar lokasi bersama petugas.
Kejadian tersebut mengingatkan kita bahwa kejahatan tidak selalu memilih tempat. Di mana ada kesempatan, di situ selalu ada kemungkinan seseorang menyalahgunakannya. Kampus pun tidak sepenuhnya terlepas dari kenyataan itu.
Namun, menurut saya, akan kurang tepat jika satu kejadian ini dijadikan alasan untuk menyimpulkan bahwa kampus adalah tempat yang tidak aman. Setiap hari ribuan mahasiswa datang untuk belajar, berdiskusi, berorganisasi, hingga beribadah tanpa mengalami kejadian seperti itu. Justru karena kasus seperti ini jarang terjadi, banyak orang merasa terkejut ketika mendengarnya.
Saya melihat peristiwa ini lebih sebagai pengingat daripada alasan untuk saling menyalahkan.
Tidak semua persoalan harus berakhir dengan mencari siapa yang paling bertanggung jawab. Pelaku memang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai aturan yang berlaku. Di sisi lain, setiap peristiwa juga bisa menjadi kesempatan untuk melakukan evaluasi agar kejadian seprti itu tidak terulang di kemudian hari.
Kampus tentu memiliki komitmen untuk menciptakan lingkungan belajar yang nyaman bagi seluruh sivitas akademika. Karena itu, setiap masukan mengenai keamanan seharusnya dipandang sebagai bagian dari upaya bersama untuk terus memperbaiki fasilitas dan pelayanan, bukan sebagai bentuk tuduhan ataupun serangan terhadap institusi.
Begitu pula mahasiswa. Kita juga memiliki tanggung jawab untuk lebih berhati-hati terhadap barang pribadi. Rasa saling percaya memang penting, tetapi kewaspadaan tetap diperlukan, bahkan ketika berada di tempat yang terasa paling nyaman sekalipun.
Mungkin selama ini kita terlalu terbiasa menganggap mushola sebagai ruang yang sepenuhnya aman. Padahal, sebagaimana ruang publik lainnya, mushola tetap dapat dimasuki oleh siapa saja. Kesadaran sederhana inilah yang sebaiknya mulai kita bangun bersama.
Bukan berarti kita harus saling mencurigai. Justru sebaliknya, kita perlu menjaga budaya saling peduli. Ketika melihat barang milik orang lain tertinggal, kita bisa membantu mengingatkan. Ketika melihat sesuatu yang mencurigakan, kita bisa segera melapor kepada pihak yang berwenang. Hal-hal kecil seperti inilah yang sering kali menjadi benteng pertama dalam menjaga keamanan lingkungan kampus.
Selain itu, tidak ada salahnya jika ke depan berbagai fasilitas umum di lingkungan kampus terus dievaluasi. Penambahan kamera pengawas di titik tertentu, penyampaian imbauan kepada mahasiswa agar lebih berhati-hati terhadap barang bawaannya, maupun peningkatan koordinasi antara mahasiswa dan petugas keamanan merupakan langkah-langkah sederhana yang dapat memperkuat rasa aman bersama.
Pada akhirnya, keamanan bukan hanya dibangun oleh pagar yang tinggi atau kamera pengawas yang banyak. Keamanan juga lahir dari kepedulian orang-orang yang berada di dalamnya. Ketika mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan petugas keamanan memiliki kesadaran yang sama untuk saling menjaga, lingkungan kampus akan menjadi tempat yang lebih nyaman bagi semua.
Saya percaya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah kampus yang terus berkembang. Sebagai mahasiswa, saya juga percaya bahwa setiap kritik maupun masukan yang disampaikan dengan cara yang baik merupakan bentuk kepedulian terhadap almamater, bukan upaya untuk menjatuhkannya. Justru karena mencintai kampus ini, saya berharap setiap kejadian dapat menjadi pelajaran berharga agar pelayanan dan rasa aman bagi seluruh sivitas akademika semakin baik dari waktu ke waktu.
Peristiwa pencurian di mushola beberapa hari lalu semoga menjadi yang terakhir. Bukan hanya karena pelakunya telah diamankan, tetapi karena seluruh pihak dapat mengambil hikmah dari kejadian tersebut. Kepercayaan tetap harus dijaga, sementara kewaspadaan juga tidak boleh ditinggalkan.
Pada akhirnya, kampus bukan sekadar tempat menimba ilmu. Kampus adalah rumah kedua bagi banyak mahasiswa. Sudah sepatutnya rumah itu terus dirawat bersama, bukan hanya melalui pembangunan gedung atau fasilitas, tetapi juga melalui kepedulian, saling mengingatkan, dan komitmen untuk menjaga rasa aman bagi setiap orang yang berada di dalamnya.
Sahal Abdul Qohar, Mahasiswa Hukum Keluarga.
