Konten dari Pengguna

Resepsi Usai, Utang Baru Dimulai: Kenapa Ini Sering Terjadi?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sahal Abdul Qohar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa waktu lalu, sebuah video pendek lewat di beranda saya. Isinya sederhana tapi menohok: seorang konten kreator menyapa langsung penonton yang baru saja menikah dan dompetnya sudah terkuras habis. Saya sempat berhenti sejenak menontonnya karena rasanya pesan itu mewakili banyak cerita yang saya dengar dari teman-teman sendiri, yakni pasangan yang baru saja merayakan pernikahan, lalu beberapa minggu kemudian justru sibuk memutar otak soal tagihan, bukan soal bulan madu.

Pasangan pengantin yang menghadapi dilema antara kemeriahan pesta pernikahan dan tantangan keuangan setelah resepsi usai. Sumber: AI
zoom-in-whitePerbesar
Pasangan pengantin yang menghadapi dilema antara kemeriahan pesta pernikahan dan tantangan keuangan setelah resepsi usai. Sumber: AI

Ada satu adegan yang mungkin akrab bagi banyak pengantin baru: resepsi baru saja usai, tamu-tamu pulang membawa suvenir, foto-foto sudah diunggah ke media sosial dengan caption penuh syukur. Lalu, beberapa hari kemudian, saat membuka rekening bersama, yang tersisa hanya angka yang jauh dari kata "lega". Fenomena ini semakin sering dibicarakan di media sosial, dan menurut saya, ini bukan sekadar bahan candaan. Ini gejala nyata dari cara kita memandang pernikahan hari ini.

Video semacam ini viral bukan tanpa alasan. Ia menyentuh kenyataan yang jarang diucapkan terang-terangan dalam budaya kita: pernikahan sering diperlakukan sebagai pertaruhan finansial sekali seumur hidup, padahal justru di titik itulah kehidupan finansial berdua baru saja dimulai.

Ketika Resepsi Jadi Prioritas, Masa Depan Jadi Nomor Dua

Di banyak daerah, pernikahan bukan lagi sekadar ikatan dua orang, tetapi juga simbol status sosial keluarga. Standar "pesta yang layak" terus naik: gedung mewah, katering premium, dekorasi estetis, hingga mahar dan seserahan yang kian megah. Tidak sedikit pasangan yang akhirnya menghabiskan tabungan bertahun-tahun, bahkan berutang, demi satu hari perayaan.

Masalahnya, kehidupan pernikahan tidak berhenti di hari resepsi. Justru di situlah dimulai fase yang jauh lebih panjang: cicilan rumah, kebutuhan rumah tangga, rencana punya anak, hingga dana darurat yang idealnya sudah tersedia sejak awal. Ironisnya, banyak pasangan justru memasuki fase ini dengan kondisi finansial di titik nol atau bahkan minus.

Uang adalah Bahasa Cinta yang Sering Diabaikan

Poin yang sering luput dari obrolan sebeum nikah adalah komunikasi finansial. Banyak pasangan lebih nyaman membahas warna dekorasi ketimbang membahas siapa yang akan mengelola gaji, bagaimana pembagian tanggung jawab finansial, atau berapa target dana darurat yang harus dikumpulkan sebelum menikah.

Padahal, riset di bidang psikologi keluarga berulang kali menunjukkan bahwa masalah keuangan adalah salah satu pemicu konflik rumah tangga yang paling umum, bukan karena jumlah uangnya, tapi karena minimnya keterbukaan dan kesepakatan sejak awal. Ketika dompet sudah terkuras habis untuk resepsi, tekanan finansial itu langsung menjalar ke bulan-bulan pertama pernikahan yang seharusnya menjadi masa penyesuaian, bukan masa krisis.

Merayakan Boleh, Tapi Jangan Menggadaikan Masa Depan

Ini bukan ajakan untuk berhenti merayakan pernikahan. Merayakan momen sakral bersama keluarga dan orang terdekat adalah hal yang wajar dan berharga. Yang perlu digeser adalah cara pandang: pesta pernikahan seharusnya disesuaikan dengan kemampuan, bukan dipaksakan demi validasi sosial atau gengsi. Beberapa langkah sederhana yang bisa membantu pasangan menghindari jebakan ini:

Tentukan anggaran maksimal sejak awal, dan sisakan dana darurat yang tidak boleh diganggu gugat demi pesta.

Diskusikan keuangan sebelum menikah, bukan setelahnya termasuk soal utang, gaya hidup, dan tujuan finansial bersama.

Prioritaskan pondasi rumah tangga dibanding kemegahan satu hari perayaan.

Libatkan pasangan dalam setiap keputusan besar, termasuk soal seberapa besar dana yang layak dihabiskan untuk resepsi.

Penutup: Pernikahan Dimulai Setelah Pesta Usai

Video pendek yang saya tonton itu sebenarnya menyampaikan pesan yang sederhana namun sering diabaikan: pernikahan yang sehat tidak diukur dari semewah apa pestanya, tapi dari sekuat apa fondasi yang dibangun sesudahnya. Kehabisan uang setelah menikah bukan aib yang perlu ditutupi, ia justru bisa jadi titik balik bagi pasangan untuk mulai membangun kebiasaan finansial yang lebih matang bersama-sama.

Saya sendiri jadi merenung: berapa banyak dari kita yang lebih siap untuk menjawab pertanyaan "resepsinya di mana?" dibanding pertanyaan "dana daruratnya sudah ada belum?" Karena pada akhirnya, cincin dan pesta hanya berlangsung satu hari. Yang harus dijalani berdua adalah puluhan tahun sesudahnya.

Sahal Abdul Qohar, Mahasiswa UIN Jakarta.