Konten dari Pengguna

Lebih Dekat Dengan Salman Aristo

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sahla Layyin Azkia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto (Sahla Layyin)
zoom-in-whitePerbesar
Foto (Sahla Layyin)

Sosok Salman Aristo, siapa yang tak mengenalnya, salah satu produser ternama di tanah air. Selain prestasinya mendapatkan Piala Citra Penulis Skenario Adaptasi Terbaik pada 2016, ia juga memenangkan Penulis Skenario Terpuji Film Bioskop di Festival Film Bandung tahun lalu.

Tak disangka pria kelahiran Jakarta, 13 April 1976 ini sudah menyukai dunia film sejak usianya 5 tahun. Selain itu, ia juga memiliki hobi lain yaitu ngeband, biasanya ia bersama temannya menyewa studio kecil di ujung gang, bermodal uang patungan untuk sekedar latihan. Kebiasaan ini pun terbawa sampai ia masuk ke dunia perkuliahan.

Salman Aristo atau yang akrab dipanggil Maman menjelaskan suatu ketika pada saat ia sedang menunggu temannya, terlihat sekelompok mahasiswa yang sedang sibuk menggarap sesuatu yang ketika ditanya, ternyata sedang membuat film.

“Momen pencerahan gua adalah saat gue denger ada orang bilang mau bikin film, emangnya kita bisa bikin film?” ucapnya.

Seiring berjalannya waktu ia pun mulai tertarik untuk menulis skenario film pendek, yang pada saat itu entah untuk siapa. Banyak hasil karyanya yang berasal dari fasilitas yang sangat minim saat berkuliah. Pergi ke rental komputer saat itupun tidak menjadi masalah baginya, asal ia bisa menghasilkan sebuah karya.

“Pemicunya adalah di kampus, sampai saat ini masih ada di laptop, skenario-skenario yang gua tulis di kamar kost-an” ucapnya.

Kini remaja lulusan Fikom Unpad itu sudah sukses menjadi produser yang disegani banyak orang. Mulai dari menjadi penulis buku, penulis skenario, director, hingga produser semua sudah dirasakannya. Tulisan tangan serta pemikirannya telah menerbitkan banyak karya yang menjadi favorite di semua kalangan. Namun, semua itu tentu ada perjuangannya.

Bekerja Sebagai Produser

Sebuah pencapaian yang tinggi menjadi seorang produser bagi sebagian orang, terutama yang memiliki ketertarikan di bidang perfilman. Tak hanya sekedar mengolah skenario, produser juga memiliki banyak peranan penting.

“Produser walaupun tidak bisa menulis, tapi harus bisa membaca, artinya dia harus paham apa yang dia baca”, ucapnya.

Hal pertama yang harus dikuasai oleh seorang produser adalah bisa membaca skenario, sehingga bisa menyeimbangi antara seni dan bisnis. Selain itu produser juga harus memiliki cara bagaimana cerita itu disampaikan.

Selain itu, satu hal yang menjadi modal utama dalam pembuatan film tentu penulisan skenario. Dalam proses pembuatanya diperlukan terbentuknya development room yang sehat . Terdapat tiga komponen yang mewarnai ruangan tersebut seperti, produser, penulis skenario, dan sutradara. Selain tiga peran penting di atas terdapat pekerja lainnya yang terbagi menjadi tiga tim dalam pembuatan skenario. Hal ini menjadi tugas produser dalam mengontrol development room, karena produser memiliki peranan paling penting.

Development Health vs Development Hell

Salman Aristo menjelaskan bahwa development room yang sehat memerlukan kerjasama antara produser dengan pekerjanya. Terdapat empat cara yang selalu ia terapkan, pertama harus mengenali rekan kerjanya, memenuhi hak pekerjanya, memahami kondisi rekannya seperti keahlian, mental dan fisik, serta waktu

“Ketika produser tidak berhasil mengontrol development roomnya, maka itu akan menjadi development hell,” ucapnya.

Dalam pembentukannya juga sangat dibutuhkannya skill atau keterampilan dari seorang produser. Hal ini dikarenakan pekerjaan pertama bagi produser sebelum lanjut ke tahap selanjutnya adalah membangun development yang sehat.

“Know yourself, you must! lu harus tau lo itu orang yang seperti apa”, ucapnya.

Menurut Salman, bekerja dalam development room adalah soal memberi komentar. Komentar yang dibutuhkan bukanlah opini, melainkan pemikiran. Jadi usahakan harus lebih dahulu pahami diri sendiri. Diperlukannya visi, film making, serta kolaborasi. Produser paham akan konten, konteks, serta konsep. Paham akan cara mengatur tim tersebut.

Seni Menyampaikan Kritik

Tentunya development room menjadi tempat bagi setiap pekerja menyampaikan pemikirannya. Ada pula bagian revisi diantara pemikiran dalam penulisan skenario tersebut. Sebelum menyampaikan sebuah revisi atau kritik, setidaknya harus sudah membaca, memahami, apa yang akan dikomentari tersebut.

“Jadi kalau sekarang bangsa ini dibilang sedang tidak punya analytical thinking, percaya hoax dengan sangat mudah segala macem, tau gak sebenernya yang sedang kekurangan apa? kekurangan kerendahan hati, untuk mengakui saya juga bisa salah, apa yang saya percaya juga bisa salah, itu modal critical thinking” demikian ungkapan Salman Aristo

Berpacu pada Daniel C. Dennett, Salman menyampaikan kritik dengan cara mengungkapkan dimana posisi antar rekan yang sedang kita coba kritik dengan jelas dan adil. Sebisa mungkin ketika menyampaikan sebuah kritik, sampaikanlah apa yang kita suka terlebih dahulu, baru setelah itu kritiknya.

“Semua orang harus dihargai, berusaha sedemikian rupa menghargai posisi orang”, ungkap Salman