Mimpi yang Tidak Dikubur: Perjalanan Anak dari Keluarga Sederhana

Mahasiswa Aktif Teknik Elektro Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari SAHRUDIN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak semua perjalanan hidup dimulai dari kondisi yang ideal. Ada yang harus belajar menerima kehilangan sejak kecil, tumbuh dalam keterbatasan, dan berjuang lebih keras untuk mendapatkan kesempatan yang bagi sebagian orang terlihat biasa saja.
Nama saya Sahrudin. Saya adalah anak kelima dari enam bersaudara. Sebelum saya lahir, ibu saya telah memiliki empat orang anak dari pernikahan pertamanya. Namun, takdir berkata lain. Ayah pertama mereka telah lebih dahulu meninggal dunia. Kemudian ibu bertemu dengan ayah saya, dan dari pernikahan itu lahirlah saya dan adik saya.jadilah kami enam bersaudara, satu ibu dengan dua ayah yang berbeda.
Tahun 2013 menjadi salah satu titik yang mengubah hidup saya. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, saya harus kehilangan ayah untuk selama-lamanya. Sejak saat itu, kehidupan tidak selalu berjalan mudah.
Saya termasuk pribadi yang pendiam. Saya sering terlihat bahagia di luar, tetapi sebenarnya menyimpan kesedihan di dalam hati. Mungkin karena saya memahami bahwa tidak semua perjuangan terlihat oleh mata. Meski begitu, ketika bertemu orang lain, saya selalu berusaha ceria. Saya mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan berusaha membawa energi positif kepada siapa pun yang saya temui.
Setelah lulus SMA, pertanyaan yang paling sering saya dengar adalah, "Mau kuliah atau kerja?"
Jujur saja, saat itu saya belum tahu harus menjawab apa. Bukan karena tidak memiliki mimpi, tetapi karena saya melihat latar belakang keluarga saya. Kuliah terasa seperti sesuatu yang sangat jauh untuk diraih. Di sisi lain, saya memiliki keinginan besar untuk menjadi seorang pendidik.
Lucunya, sejak dulu beberapa orang di lingkungan sekitar sering bercanda memanggil saya "Pak Guru". Sampai sekarang pun masih ada yang memanggil seperti itu. Jika dipikir-pikir, mungkin karena saya cukup aktif membantu orang lain dan senang terlibat dalam kegiatan positif. Saya memang bukan orang yang suka diam jika ada hal baik yang bisa dikerjakan bersama.
Namun, jika ditanya apa cita-cita terbesar saya, jawabannya sederhana: saya ingin kuliah.
Bukan semata-mata untuk menjadi guru, tetapi untuk berkembang, memperluas cara berpikir, dan membuktikan bahwa keadaan bukanlah batas akhir dari sebuah mimpi.
Perjalanan menuju bangku kuliah tidak mudah. Saya harus menjalani masa gap year selama tiga tahun. Di saat banyak teman sudah melangkah lebih jauh, saya masih berusaha mencari jalan. Ada kalanya muncul keraguan, tetapi saya selalu mengingat satu pesan dari ibu:
"Ilmu tidak berat dibawa ke mana-mana."
Kalimat sederhana itu menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah investasi yang tidak akan pernah sia-sia. Harta bisa habis, jabatan bisa hilang, tetapi ilmu akan selalu menemani seseorang sepanjang hidupnya.
Hari ini, saya bersyukur karena apa yang dulu terlihat mustahil perlahan menemukan jalannya. Memang baru langkah awal, tetapi setidaknya saya sudah memulai. Saya percaya bahwa cita-cita tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk diperjuangkan kembali.
Saya mungkin tidak memiliki modal besar. Saya mungkin tidak berasal dari keluarga yang serba ada. Tetapi saya memiliki doa seorang ibu, dan bagi saya, itu adalah bekal yang nilainya jauh lebih besar daripada apa pun.
Karena pada akhirnya, mimpi tidak perlu dikubur. Kadang ia hanya membutuhkan waktu lebih lama untuk tumbuh.
