Konten dari Pengguna

Literasi Jadi Musuh Terbesar Perbankan Syariah

Said Hakiki Yusuf

Said Hakiki Yusuf

Mahasisw Perbankan Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 3 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Said Hakiki Yusuf tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bank Syarah Indonesia. Sumber : Koleksi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Bank Syarah Indonesia. Sumber : Koleksi Pribadi

Sebagai mahasiswa Perbankan Syariah saya sering menganalisis studi kasus terkait perkembangan dan penghambat pertu mbuhan ekonomi syariah khususnya pada sektor perbankan di Indonesia, baik secaralangsung melalui wawancara maupun melalui online atau biasa disebut google form. Oleh karena itu, disini saya menulis dengan bahasa dan opini sendiri untuk mengambil beberapa poin penting yang menjadi permasalahan umum mengapa perkembangan bank syariah di indonesia masih mengalami stagnansi pertumbuhan.

Walaupun bisa kita lihat, dewasa ini perbankan syariah mengalami perkembangan yang cukup signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya khususnya di Indonesia. Dapat dilihat dari adanya keputusan merger antara tiga bank syariah BUMN, hadirnya Unit Usaha Syariah dan Badan Usaha Syariah serta munculnya lembaga keuangan syariah berbasis digital.

Namun yang menjadi permasalahan adalah adanya ketimpangan antara jumlah penduduk dengan perkembangan syariah di Indonesia yang menyebabkan jauhnya harapan dari titik kepuasan. Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia yaitu menurut Laporan The Royal Islamic Strategic Studies Centre (RISSC) bertajuk The Muslim 500 edisi 2023 menunjukkan, jumlah populasi muslim di Indonesia mencapai 237,55 juta jiwa.

Tetapi, pada realitanya yang menjadi penghambat utama justru kuantitas yang rendah dari masyarakat dalam memanfaatkan atau beralih ke jasa keuangan syariah. Hal tersebut yang menjadi munculnya ide tulisan ini untuk membahas secara komprehensif poin yang menjadi persoalan krusial pada tulisan ini yaitu:

Minim literasi

Sejalan dengan beberapa data membuktikan bahwa masyarakat indonesia masih lemah dalam literasi mengenai ekonomi syariah dan menjadi musuh besar bagi pemerintah yang berubah menjadi tantangan bagi mahasiswa seperti saya dalam memasarkan produk-produk yang ada di perbankan syariah nantinya.

https://pressrelease.kontan.co.id/release/perkuat-literasi-bsi-kenalkan-perbankan-syariah-ke-mahasiswa-unpad?page=all

Survei Bank Indonesia tahun 2022 menyebutkan, indeks literasi ekonomi dan keuangan syariah nasional baru mencapai 23,3%.

Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) Hery Gunardi mengatakan bahwa pemahaman masyarakat mengenai perbankan syariah perlu ditingkatkan. Rendahnya literasi perbankan syariah di masyarakat turut mempengaruhi rendahnya penetrasi perbankan syariah di Indonesia.

Sekarang ini banyak PR besar dalam hal peningkatan literasi keuangan dan perbankan syariah di Indonesia yang harus diselesaikan bersama-sama," kata Hery dalam pembukaan Penandatanganan MoA Strategic Sharia Banking Management.

Melalui kutipan di atas dapat kita lihat bahwa literasi menjadi masalah utama dalam misi ini yang didukung oleh pemikiran konservatif, saya akan mengambil sampel atau contoh kecil ketika saya mencoba untuk memasarkan produk atau menjelaskan mengenai riba kepada orang orang terdekat saya, dan mereka menanyakan beberapa hal terkait bank syariah seperti :

  • Apa aja produk-produk yang ada di bank syariah?

  • Apa bedanya sih dengan bank konvensional?

  • Ngapain repot-repot pindah ke bank syariah?

"literasi dan inklusi perbankan syariah masih menjadi tantangan untuk BSI dalam mengembangkan ekosistem halal di Indonesia."

Wakil Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Bob Tyasika Ananta

Bob menyebutkan, survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di tahun 2022, inklusi perbankan syariah masih berada di angka 12,12 persen dan literasi perbankan syariah di angka 9,14 persen. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan inklusi dan literasi perbankan secara umum yang masing-masing di angka 85,1 persen dan 49,68 persen.

Namun di sisi itu permasalahan yang sering muncul padan permukaan masyarakat adalah, banyak yang menganggap bahwa bank syariah harus lebih murah daripada bank konven padahal, disamping itu bank syariah selain harus memenuhi kebutuhan maslahah, juga harus memenuhi kebutuhan bisnis untuk berjalannya mekanisme pelaksanaanya. Memang tidak ada keuntungan dari segi finansial menggunakan bank syariah melalui kacamata masyarakat pada umumnya akan tetapi, dapat kita pahami bahwa perbedaan yang mendasar antara bank syariah dan bank konvensional adalah cara atau mekanisme akadnya.

Tantangan literasi ini menjadi tantangan bagi pejuang ekonomi syariah untuk memamerkan betapa kerennya produk-produk syariah. Pemikiran dari beberapa sampel tersebutlah yang menjadi penghambat bagi perkembangan ekonomi syariah khususnya perbankan syariah di Indonesia.

Sama halnya dengan konteks perbedaan bank syariah dengan bank konven, "ngapain repot-repot pindah ke bank syariah? Malah lebih gede duit yang keluar." dan hal yang mendasar untuk melihat perbedaan antara bank konvensional dengan bank syariah adalah

Jawabannya terletak pada hakikat atau tujuan utama bank syariah didirikan yaitu untuk kesejahteraan masyarakat. Perbedaannya

"Apakah kita berkontribusi atau tidak pada perkembangan syariah?" dan setidaknya kita memiliki intensi dalam mengambil peran bukan hanya menyerah pada kondisi yang ada.