Sydney Sweeney dan Iklan Sport yang Melupakan Esensi Olahraga

Mahasiswa prodi Akuntansi S1 di Universitas Pamulang. Senang menulis dan berbagi opini untuk berbagi perspektif.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Nisa Sakilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sydney Sweeney tampil di iklan terbaru untuk platform prediksi olahraga Novig. Namun, yang menjadi sorotan utama bukan soal "olahraganya", melainkan tubuhnya sendiri yang nyaris telanjang, dan hanya ditutupi bola serta perlengkapan olahraga, sambil mengulang-ulang kata "Sport" dalam iklan tersebut.
Para atlet perempuan sungguhan bereaksi paling keras. Salah satunya, peraih empat emas Olimpiade renang, Ariarne Titmus, mengaku sulit mendeskripsikan betapa marahnya menyaksikan iklan tersebut. Kemudian juga atlet asal Inggris, Lucy Davis, yang menyebut sudah saatnya berhenti menyeksualisasikan perempuan dalam dunia olahraga - pernyataan yang menyatukan suara sesama atlet atau non-atlet perempuan.

Menurut saya, ini salah satu fenomena dimana sampai saat ini tubuh perempuan masih lebih "terjual" ketimbang prestasi. Sydney Sweeney sendiri selaku bintang iklan membela pilihannya dengan menyebut iklan sport ini sekedar ide yang menyenangkan - dibungkus dengan rasa percaya diri dan humor. Tapi, pembelaan ini tidak diterima oleh banyak orang. Bagaimana bisa iklan yang katanya "soal olahraga" ini justru tidak menampilkan satupun elemen olahraga yang sesungguhnya - tidak ada keringat, tidak ada gerakan olahraga, dan tidak menampilkan perjuangan seorang atlet - selain tubuhnya yang dipajang di atas ring basket?
Sweeney disebut bukan hanya sekedar model bayaran - namun juga sebagai mitra strategis sekaligus pemegang saham di Novig. Melalui sudut pandang bisnis, ia berhak memilih bagaimana cara memasarkan produk yang juga miliknya sendiri. Sebagaian pendukungnya menilai kritik yang dilontarkan kepadanya berlebihan - dan hanya kecemburuan semata terhadap Sweeney. Hal tersebut dianggap normal karna bukan hanya Sweeney satu-satunya publik figur yang memanfaatkan tubuhnya untuk pemasaran.
Di sisi lain, konteks yang menjadi permasalahannya jauh lebih rumit dari sekadar "pilihan pribadi". Iklan ini spesifik mengambil tema olahraga - sebuah ranah yang sudah puluhan tahun jadi ajang perjuangan atlet perempuan agar diakui kemampuan, bukan penampilan. Ketika brand justru menjual tubuh dan pose erotis seorang aktris untuk mewakili dunia yang sama, itu terasa seperti tamparan bagi para atlet yang harus berjuang berlatih bertahun-tahun demi prestasi, bukan demi tontonan.
Isu ini sebenarnya tidak jauh dari realita kehidupan kita di Indonesia. Dimana atlet perempuan justru lebih banyak disorot karena penampilan fisiknya di media sosial ketimbang medali yang diperoleh. Berapa kali komentar publik memuji tentang atlet perempuan seperti "cantik" atau "seksi", bukan soal teknik dan kerja keras yang mereka lakukan.
Kontroversi Sweeney meski terjadi jauh di Amerika, tetap menyentuh persoalan yang sama tentang : "Sejauh mana kita - sebagai masyarakat sudah benar-benar menghargai perempuan di dunia olahraga karena prestasinya, bukan seberapa menarik fisiknya".
Sweeney mungkin benar hanya ingin sekadar mencari sisi playful dari sebuah kampanye olahraga itu. Namun ketika citra perempuan olahraga dengan segala jerih payahnya harus dikorbankan hanya untuk mencari sisi playful, mungkin sudah waktunya kita berpikir : "Iklan ini benar-benar soal olahraga atau hanya memakai olahraga sebagai kedok?".
