Konten dari Pengguna

Tragedi di Gunung Rinjani: Kenapa Kita Harus Berhenti Menyalahkan?

Widhy Shofiyah Salimah

Widhy Shofiyah Salimah

Mahasiswi Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Widhy Shofiyah Salimah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dibuat menggunakan elemen dari Canva Pro
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dibuat menggunakan elemen dari Canva Pro

Bebarapa waktu lalu jagat maya ramai dengan kabar duka yang datang dari Gunung Rinjani di Lombok. Seorang pendaki wainta bernama Juliana yang berasal dari Brasil jatuh ke jurang sejauh 600 meter. Kabar ini kemudian cepat tersebar bahkan sampai ke negara asal korban. Sayangnya yang viral bukan hanya tragedinya saja tapi juga hujatan yang menyerang tim SAR Indonesia.

Mari kita lihat apakah kejadian tersebut sepenuhnya kesalahan tim SAR?

Begini kronologinya, diketahui pendaki yang bernama Juliana ini belum memiliki pengalaman dalam aktivitas mendaki gunung. Ia mendaki bersama 5 orang pendaki lain dan satu orang pemandu. Ditengah perjalanan Juliana merasa kelelahan lalu ia memutuskan untuk beristirahat, sedangkan pendaki yang lain melanjutkan perjalanannya ke puncak bersama sang pemandu. Lalu ketika sang pemandu kembali Juliana tidak ditemukan ditempat peristirahatan, setelah dicari sang pemandu menemukan cahaya senter kurang lebih sejauh 200 meter di dasar jurang yang diduga itu milik Juliana. Kemudian sang pemandu langsung melaporkannya kepada tim penyelamat.

Pencarian dilakukan tim SAR gabungan. Mengutip dari CNN Indonesia, pencarian dilakukan menggunakan drone tetapi terhambat kendala buruknya cuaca saat itu. Lalu korban ditemukan drone thermal kurang lebih 500 meter dari lokasi awal dengan keadaan sudah tidak bergerak. Tim SAR belum bisa melakukan evakuasi karna medan yang ekstrem dan cuaca yang buruk. Kemudian BASARNAS menerjunkan tim spesial untuk melakukan proses evakuasi.

Setelah tiga hari pencarian intensif, akhirnya korban ditemukan dalam keadaan tak bernyawa.

Lalu dari sini munculah komentar, bahkan hujatan dari netizen negara asal korban. Mereka menyebut "Mengapa tidak mengirim penyelamatan secepatnya?", "Tim SAR lamban", "Tidak becus", "Mengapa tidak menggunkan helipokter?", bahkan mereka meminta untuk boikot wisata Indonesia.

Komentar-komentar pedas ini menyerang akun instagram presiden Indonesia dan komentar-komentar ini muncul dari orang-orang yang tidak ada di lokasi, tidak melihat bagaimana ektremnya medan, dan tidak tahu seperti apa awan hitam yang menyelimuti Rijani saat itu.

Mudah Menuduh, Sulit Memahami

Ini bukan kali pertama warganet buru-buru menyimpulkan dan menghakimi tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya. Hanya tinggal lihat foto, video, baca satu paragraf mereka langsung bisa menyimpulkan dan meyalahkan.

Banyak netizen Indonesia yang ikut menjelaskan bahwa Gunung Rijani tidak pantas untuk pemula karna jalurnya yang terjal dan seringkali para turis datang berkunjung karna ingin melihat keindahannya saja tanpa mengetahui seperti apa jalur yang harus dilewati.

Kita tidak bisa asal menyalahkan tim penyelamat yang naik gunung dengan keadaan cuaca yang buruk, menembus kabut, mereka berkerja melawan medan dan cuaca yang ekstrem. Mereka bukan lalai atau lamban, hanya saja mereka terbentur kenyataan bahwa alam memiliki kuasa yang lebih dibanding manusia.

Belajar Dari Nilai Islam: Jangan Su’udzon

Dalam Islam kita diajarkan untuk tidak berprasangka buruk, dan tidak terburu-buru dalam menilai apalagi jika belum diketahui kebenarannya. Karna berprasangka buruk (su’udzon) bisa menyebabkan dosa.

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa…..” (QS. Al-Hujurat: 12)

Nabi Muhammad SAW juga bersabda:

“Jauhilah prasangka, karna prasangka dalah perbuatan paling dusta” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi jangan asal berprasangka buruk, karna apa yang diunggah di media sosial belum tentu seperti apa yang seluruhnya terjadi. Boleh jadi kita hanya tau cuplikan atau sepenggal dari berita tersebut, Kita harus lebih berhati-hati dalam menilai.

Penutup: Tahan Jari, Gunakan hati

Ketika kita melihat sebuah berita dari suatu media jangan asal menyimpulkan tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dalam kejadian ini mungkin bukan komentar atau kritik yang diperlukan, tapi rasa simpati kepada korban, para relawan dan tim penyelamat.

Tim SAR bukan super hero, mereka adalah manusia yang juga memiliki keterbatasan. Mengevakuasi di sebuah gunung tidak seperti menolong orang dijalanan, mari kita hargai perjuangan para tim

penyelamat dan para relawan. Yang terlihat lamban bukan berarti lalai atau gagal.

Semoga korban bisa mendapat tempat terbaik disisi-Nya. Lebih baik kita mendoakan dari pada menghujat.