Konten dari Pengguna

Rasa Sakit di Balik Patah Hati

Salma Aisyah Puteri

Salma Aisyah Puteri

Mahasiswa S1 Sosiologi Universitas Padjadjaran

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Salma Aisyah Puteri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi hati yang patah. Source: Depositphotos
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hati yang patah. Source: Depositphotos

Semua sifat atau perilaku yang mendukung kelestarian manusia sangat mungkin untuk ada pada diri kita. Ikatan sosial yang kuat merupakan bagian penting untuk menunjang kelestarian kita sebagai manusia. Ketika kita kehilangan atau ditinggalkan oleh orang yang kita cintai, kita akan merespons rasa sakit itu sebagaimana otak kita memproses rasa sakit fisik.

Jatuh cinta merupakan suatu bentuk dari candu. Jadi ketika rasa candu itu diputus atau dihentikan, maka kita akan mengalami perasaan tidak nyaman atau sakit. Sakit hati dan sakit fisik mempunyai mekanisme kerja yang sama di otak. Menurut Matthew D. Lieberman, dalam bukunya yang berjudul “Social”, rasa sakit yang dialami oleh seseorang diproses di dua bagian otak yang berbeda. Bagian otak pertama yang merespons rasa sakit yaitu somato sensory cortex yang memproses sensasi rasa sakit secara fisik yang kita alami sehingga menimbulkan rasa sakit. Sedangkan bagian otak lain yang juga merespons rasa sakit hati dan fisik yang disebabkan oleh luka dalam, luka fisik, dan cidera adalah anterior cingulate cortex. Bagian otak ini akan memproduksi rasa sakit yang membuat kita tidak nyaman dan tidak tenang karena anterior cingulate cortex berfungsi untuk memproses aspek psikologis saat kita merasa sakit.

Mengapa sakit hati tuh sakitnya di sini (di dada)? Sebuah penelitian menunjukkan bahwa ada konflik di tubuh kita saat kita mengalami patah hati. Sistem saraf yang membuat jantung berdetak lebih cepat dan yang membuat jantung berdetak lambat aktif secara bersamaan. Bisa dibayangkan? Ini ibaratnya seperti kita menginjak pedal gas dan menarik rem berbarengan. Inilah yang membuat rasa ngilu atau nyeri timbul di dada. Parahnya, apabila kita terlalu sakit hati, maka kita akan mengalami stres yang bisa membuat kita seperti sakit jantung. Karena ketika stres, tubuh akan mengeluarkan hormon-hormon katekolamin (dopamin, noreprofin, dan epinefrin) yang kalau jumlahnya terlalu banyak, jantung kita akan menerima imbasnya.

Jadi lebih baik sakit gigi atau sakit hati? Keduanya sama-sama sakit. Sebaiknya kita berhenti membandingkan apalagi memperdebatkan kedua rasa sakit ini. Karena semuanya tergantung pada intensitas sakit yang kita rasakan. Sakit hati ternyata tidak bisa disepelekan. Karena bagi beberapa orang, sakit hati yang dialaminya bisa berlangsung sangat lama bahkan sampai bertahun-tahun.

Selain sakit, konsekuensi lain dari patah hati adalah menjadi bodoh. Mengapa? Karena ketika kita patah hati, otak kita akan cenderung memutar kenangan atau memori-memori yang terasa indah dan ini akan membuat kita cenderung berpikir bahwa hubungan yang berakhir adalah hubungan yang sangat berharga, berpikir bahwa orang yang telah membuat kita patah hati adalah orang yang sempurna sampai-sampai kita merasa pesimis akan mendapatkan sosok yang seperti dirinya lagi.

Mengapa otak manusia yang sedang patah hati malah memikirkan hal-hal kontraproduktif untuk proses pemulihan patah hati? Karena memiliki ikatan emosional yang kuat dengan seseorang akan membuat kita merasa aman. Manusia merupakan mahkluk sosial yang memiliki mental kawanan seperti hewan. Hal ini menimbulkan konsekuensi bahwa manusia harus hidup secara berkelompok untuk meningkatkan survivability. Secara biologis, kita akan menderita apabila kita mengalami defisit ikatan sosial dan emosional. Itulah mengapa saat kita kehilangan orang yang kita sayang itu rasanya sangat sakit. Rasa sakit itu berfungsi supaya secara naluriah, kita tidak mau melepas dan kehilangan orang yang kita cintai. Secara instingtif, tanpa kita sadar, kita merasa mempunyai kesempatan bertahan hidup dan reproduksi yang baik saat kita berada dalam suatu hubungan.

Lalu apa obat untuk patah hati? Pertama yang perlu kita lakukan adalah meminimalisasi rasa sakitnya dulu. Kita tidak bisa ujug-ujug menghilangkan rasa sakit yang kita derita apalagi melupakannya. Karena otak kita cenderung mengulang memori yang manis, coba ingat juga kenangan yang tidak indahnya. Kemudian apabila perlu, catat, uraikan, dan analisislah mengapa rasa sakit ini muncul dan mengapa hubungannya bisa berakhir atau mengapa dia bisa sampai meninggalkan kita. Kemudian, seimbangkanlah dengan cara memperkuat ikatan spiritual kita kepada Tuhan dan ikatan sosial kita dengan cara mengelilingi diri dengan orang-orang yang suportif.

Menurut saya pribadi, reasoning adalah alat terbaik untuk memulihkan rasa sakit. Oleh karena itu, datanglah ke profesional atau teman yang mampu membantu kita menyelesaikan masalah dan memberikan perspektif secara objektif.