Mahasiswa SPI Menyelenggarakan Kuliah Lapangan di Desa Gerabah Sitiwinangun

Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Salma Siti Faoziah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kamis, 8 Mei 2025 Jurusan Sejarah Peradaban Islam Semester 6 A telah melaksanakan perkuliahan lapangan dengan mengunjungi sentra gerabah di Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon. Kegiatan ini dihadiri oleh 28 orang mahasiswa dan satu orang dosen yaitu Yunita Dwi Jayanti, M. Pd selaku dosen pengampu Mata Kuliah Apresiasi Seni. Kegiatan ini merupakan rangkaian pembelajaran Mata Kuliah Apresiasi yang bertujuan untuk mengenalkan Sejarah, cara pembuatan, dan eksistensi gerabah saat ini. “Apresiasi seni tidak cukup hanya dipelajari di ruang kelas. Melalui studi lapangan ini, mahasiswa bisa mengalami sendiri bagaimana nilai seni itu hidup dan diwariskan dalam masyarakat,” ujar Yunita selaku dosen pengampu.
Kegiatan ini dimulai dengan pemaparan materi tentang Sejarah desa tersebut. Menurut Pak Wastani selaku narasumber pada sesi ini, Kata Sitiwinangun berasal dari 2 kata yaitu “siti” yang artinya tanah dan “winangun” yang artinya yang dibangun. Jadi Sitiwinangun adalah sebuah Kawasan yang dibangun dengan maksud tujuan tempat tinggal. Penyebutan Sitiwinangun berawal dari masa kolonial. Narasumber membagi perkembangan Sejarah desa Sitiwinangun kepada 3 Fase yaitu
1. Tahun 1222 M: pada tahun ini belum ada Kerajaan Cirebon dan Kawasan sekitar Sitiwinangun berada dibawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Namun terdapat artefak gerabah yang bentuknya serupa dengan yang ada di Kerajaan Singasari. Hal ini menanadakan bahwa kerajinan gerbah ini telah ada sebelum agama islam datang ke Cirebon.
2. Abad 14 M: Sehubungan dengan datangnya Mbah Kuwu Cirebon untuk membuka lahan, Syekh Syarif Abdurrahman (Pangeran Panjunan) datang ke desa Sitiwinangun untuk menyebarkan agama islam. Mulanya ia sangat keras dalam berdakwah, namun lama-kelamaan ia menyesuaikan diri dengan adat Masyarakat sehingga ia berdakwah dengan pendekatan cultural yaitu lewat gerabah. Masyarakat dibina untuk membuat tempat khusus untuk wudhu dari gerabah tersebut dan juga pembuatan momolo langgar yang menghasilkan ciri khas tertentu.
3. Abad 16 M : Perkembangan agama islam semakin meluas
Bahan dari pembuatan gerabah ini tersedia dalam jumlah yang sangat tidak terbatas sehingga Masyarakat bebas mengambilnya sesuai kebutuhan. Biasanya pengrajin gerabah diturunkan turun temurun oleh orangtuanya namun problematika saat ini adalah sedikitnya minat para generasi muda sehingga jumlah pengrajin semakin menurun dan yang tersisa hanya tinggal para sepuh.
Pada tahun 1980-an penjualan gerabah di desa sitiwinangun mencapai puncak keemasaannya. Pengrajin gerabah hampir ada di setiap rumah yang jika dikalkulasikan bisa sampai 800 orang jumlahnya. “Penjualan perhari bisa sampai 3-4 truk” ucap Pak Wastani. Namun seiring berkembangnya teknologi, orang-orang mulai meninggalkan perabot dari gerabah dan beranjak memilih perabot dari plastik sehingga industri ini mengalami kemunduran.
Namun di era milenium baru (tahun 2000-an) industri ini terus menggeliat mengikuti arus perkembangan zaman. Pada tahun 2009 komunitas-komunitas kecil di desa ini mulai bergerak dengan bekerjasama dengan lembaga-lembaga lain seperti keraton dan akhirnya pada tahun 2010 mereka berhasil bekerjasama dengan dengan forum bisnis. Tak hanya itu, setelahnya pada tahun 2024 Desa Sitiwinangun berhasil menjadi salahsatu Desa wisata sebagai hasil dari kerjasama tersebut. Sistem pembeliannya pun tidak hanya dari tengkulak, namun kini para pengrajin telah mengetahui sistem pesan online, dan pengirimannya pun sudah tersistematis.
Selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan mengunjungi pengrajin sepuh yang sudah mengumpulkan karyanya sejak dahulu dirumah getak. Karyanya tersebut mulai dari ukuran paling besar hingga paling kecil dengan bentuk yang beragam, menurut informasi mereka mengumpulkan karyanya tersebut karena sudah tidak mampu untuk kembali memproduksi gerabah.
Lalu Para Mahasiswa diarahkan untuk beralih kerumah produksi gerabah untuk melihat dan membuat langsung proses pembuatan gerabah, disana beberapa mahasiswa mencoba untuk membuat perabotan rumah tangga seperti mangkuk kecil, dan piring kecil, ada juga yang membuat topeng dari cetakan yang telah disediakan oleh pengrajin, dan para memajang hasil karyanya dimeja.
Salma Siti Faoziah, Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam (6A) Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon
