Konten dari Pengguna

Kesulitan dalam Mengekspresikan Emosi? Tenang Ini Penjelasannya!

Salma Hazimzh Alfitria Purwantari

Salma Hazimzh Alfitria Purwantari

S1 Ilmu Psikologi, Mahasiswa Universitas Brawijaya.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Salma Hazimzh Alfitria Purwantari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kesulitan mengekspresikan emosi
zoom-in-whitePerbesar
Kesulitan mengekspresikan emosi

Sebagai manusia tentunya kita merasakan emosi, baik itu perasaan amarah, kesedihan, hingga bahkan rasanya jatuh cinta. Akan tetapi bagaimana rasanya apabila kita mengalami kesulitan dalam merasakan dan mengekspresikan perasaan?

Di dunia ini, kadang kita dapat menemukan ada orang-orang yang mengalami kesulitan dalam menjelaskan perasaan mereka atau juga sulit mengekspresikan emosi yang cocok untuk situasi yang tepat. Kadangkala mereka dianggap menderita Alexithymia, yakni suatu ciri kepribadian yang membuat mereka secara konstitusional tidak dapat menemukan kata-kata untuk perasaan dan emosi mereka.

Apa itu Alexithymia?

Alexithymia sendiri adalah istilah yang diciptakan oleh psikiater Nemiah & Sifneos (1973) dari awalan bahasa Yunani a-, yang berarti 'kekurangan', kata Yunani lexis yang berarti 'kata', dan timos, yang memiliki artian 'emosi'. Sehingga Alexithymia, atau dapat juga diartikan "no words for feelings", memiliki pengertian akan sifat kepribadian yang dikaitkan dengan kesulitan dalam pengenalan dan pengaturan emosi.

Seperti yang pernah disiarkan di laman Healthline oleh Cherney (2020), dideskripsikan bahwa mereka yang mengidap Alexithymia memiliki kesulitan dalam mengekspresikan emosi yang cocok dalam keadaan sosial yang tepat, semisal adalah rasa berbahagia ketika pesta pernikahan atau acara berbahagia lainnya. Sedangkan lainnya juga mungkin memiliki kesulitan dalam pengidentifikasian emosi mereka.

Dari sebuah jurnal yang diterbitkan BMC Psychiatry, dijelaskan bahwa mereka yang mengidap Alexithymia umumnya memiliki lima fitur dominan, yakni:

(1) Kesulitan dalam mengidentifikasikan emosi seseorang; (2) Kesulitan mendeskripsikan perasaan didalam diri mereka secara verbal; (3) Mengalami penurunan atau ketidakmampuan untuk merasakan emosi; (4) Kecenderungan untuk sulit menggambarkan emosi orang lain, atau gaya kognitif yang berorientasi eksternal; (5) Sulitnya kapasitas untuk berfantasi atau melayangkan pemikiran simbolik.

Sebuah jurnal dari The American Journal of Psychotheraphy pernah mengatakan bahwa ketika pasien Alexithymia ditanyai mengenai perasaan mereka, mereka umumnya tidak dapat menjelaskan apa yang mereka alami. Pengamatan lebih dalam mengungkapkan bahwa, seperti orang buta warna, mereka menyadari defisiensi mereka akan emosi dan mereka pun belajar untuk mengambil petunjuk dari sekeliling mereka dan kemudian mereka dapat menyimpulkan apa yang tidak dapat mereka ketahui.

Menurut Runcan (2020) terdapat beberapa jenis Alexithymia yang telah ditemukan oleh para ahli, yakni:

- Alexithymia Primer adalah hasil dari faktor genetik dan keluarga perkembangan, faktor kerentanan untuk penyakit mental.

- Alexithymia Sekunder adalah konsekuensi dari penyakit mental yang mungkin memiliki mekanisme psikologis dan/atau somatik.

- Alexithymia Organik atau kebutaan emosional yang didapat sebagai subtipe dari Alexithymia Sekunder, gejala Alexithymia yang terjadi pada pasien yang mengalami cedera otak.

Selain itu ditemukan juga Alexithymia maskulin normatif, yang dimana menjelaskan mengenai ketidakmampuan pria untuk mengungkapkan emosi ke dalam kata-kata sebagai hasil dari sosialisasi peran dan norma maskulin tradisional di masyarakat.

Dari pemaparan penjelasan diatas, maka dapat dimengerti bahwa orang-orang yang sulit mengekspresikan emosi dan mengungkapkan perasaan mereka mengalami suatu sifat kepribadian yang dinamakan Alexithymia. Alexithymia sendiri memiliki jenis dan tipe yang berbeda-beda, serta faktor penyebab yang bervariasi. Mereka yang mengidap sifat kepribadian ini juga mungkin sekali dapat menjalani hidup mereka tanpa menyadari bahwa mereka memiliki defisiensi akan pengekspresian emosi.

Referensi

Cherney, K. (2020). All About Alexithymia, or Difficulty Recognizing Feelings. Healthline. https://www.healthline.com/health/autism/alexithymia#:~:text=People%20who%20do%20have%20alexithymia,don't%20necessarily%20have%20apathy.

Chen, J., Xu, T., Jing, J. et al. (2011). Alexithymia and emotional regulation: A cluster analytical approach. BMC Psychiatry 11, 33. https://doi.org/10.1186/1471-244X-11-33.

Krystal, Henry (1979). Alexithymia and Psychotherapy. American Journal of Psychotherapy, 33(1), 17–31. doi:10.1176/appi.psychotherapy.1979.33.1.17

Kirmayer, L. J. (1987). Languages of Suffering Healing: Alexithymia as a Social and Cultural process. Transcultural Psychiatry, 24(2), 119–136. DOI:10.1177/136346158702400204.

Runcan, R. (2020). Alexithymia in Adolescents: A Review of Literature. 1/2020. 20-28. https://www.researchgate.net/publication/343125841_Alexithymia_in_Adolescents_A_Review_of_Literature

Sifneos, P.E. (1973). The Prevalence of ‘Alexithymic’ Characteristics in Psychosomatic Patients. Psychotherapy and Psychosomatics, 22(2-6), 255–262. DOI:10.1159/000286529.

Swart, M., Kortekaas, R., Aleman, A. (2009). Dealing with Feelings: Characterization of Trait Alexithymia on Emotion Regulation Strategies and Cognitive-Emotional Processing. PLOS ONE 4(6): e5751. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0005751.