Konten dari Pengguna

Demi Nilai, Mahasiswa Rela Jadi Detektif Lapangan

Salma Muthia Khairunnisa

Salma Muthia Khairunnisa

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Salma Muthia Khairunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Mahasiswa sedang Melakukan wawancara kepada Pustakawan Perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah, sumber : dokumen pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Mahasiswa sedang Melakukan wawancara kepada Pustakawan Perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah, sumber : dokumen pribadi

Bagi sebagian mahasiswa, perpustakaan mungkin terasa seperti tempat nostalgia masa KKN—tenang, sepi, dan sering terlupakan. Tapi itu berubah drastis ketika saya dan tim kecil berlabel “mahasiswa observasi” menjejakkan kaki di perpustakaan FITK UIN Jakarta. Awalnya demi tugas, tapi ujung-ujungnya kami malah betah nongkrong di antara rak buku dan layar monitor.

Siapa sangka, di balik suasana hening dan bau buku khas, perpustakaan ini menyimpan segudang inovasi digital? Mulai dari katalog online (OPAC) yang bisa diakses sambil rebahan, hingga layanan bimbingan referensi digital yang bikin cari jurnal tak lagi bikin stres. Serius, kami sempat bertanya-tanya, “Kenapa baru tahu sekarang?”

Saat mengamati struktur pengelolaan, kami menemukan fakta menarik: meski kepala institusi memegang kendali utama, para pustakawanlah yang menjalankan operasional harian dengan penuh dedikasi. Bisa dibilang, mereka ini semacam 'pasukan khusus' yang memastikan roda perpustakaan tetap berputar dengan mulus.

Layanan? Wah, jangan remehkan. Selain peminjaman dan pengembalian buku yang serba digital, ada juga fitur cek plagiarisme via Turnitin, akses ke jurnal nasional dan internasional, repository karya ilmiah, hingga bimbingan pemustaka. Dan semua itu bisa dinikmati secara daring atau datang langsung—tinggal pilih sesuai mood.

Satu hal yang bikin kami terkesan: akses 24 jam lewat e-library. Artinya, tak ada lagi alasan “perpustakaannya tutup” saat dosen kasih tugas tengah malam. Bahkan sistem peminjaman sudah digital sepenuhnya—cukup dengan kartu identitas, mahasiswa bisa bawa pulang tiga buku selama tujuh hari. Tapi hati-hati, telat sehari saja bisa bikin dompet menipis karena denda!

Dari sisi perawatan koleksi, perpustakaan ini nggak main-main. Buku disampul rapi, disimpan di ruang ber-AC, dan sebagian mulai didigitalisasi. Ada pula edukasi ringan tentang mencintai buku, semacam 'doktrin lembut' untuk menghormati bahan pustaka.

Sebagai 'detektif lapangan' yang awalnya datang karena tugas, kami justru pulang dengan banyak wawasan. Harapan kami sederhana: semoga perpustakaan ini terus berinovasi, memperluas koleksi digital, dan menjadi ruang belajar yang relevan di era TikTok dan deadline mendadak ini.