Beri Orasi di Undip, KDM Cerita Upaya Hidupkan Kembali Budaya Sunda di Jabar

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) memberikan orasi budaya dalam perayaan Dies Natalis ke-61 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. KDM meminta masyarakat kembali pada budaya bangsa.
Dalam orasinya, KDM mendorong pentingnya merawat identitas kebudayaan di tengah gempuran modernisasi. Ia menyebut kebudayaan bukan sekadar artefak atau peninggalan masa lalu.
"Saya konsisten untuk untuk bicara politik itu adalah kebudayaan, pembangunan itu adalah kebudayaan," ujar KDM, Selasa (13/10).
Ia menyoroti budaya Sunda yang mulai hilang di tengah kehidupan bermasyarakat. Padahal, budaya tersebut merupakan identitas yang kuat bagi masyarakat Jawa Barat.
"Tentunya karena bicara itu di Tanah Jawa Barat yang sudah lama masyarakatnya kehilangan watak ideologinya karena bubarnya Pajajaran. Itu menjadi hal yang memiliki tantangan berat di tengah-tengah kerangka pemahaman puritanisme tentang agama," jelas dia.
Sebagai pejabat publik, KDM mengaku sudah melakukan berbagai cara untuk mengembalikan budaya Sunda, mulai dari memakai ikat kepala sehingga ia dijuluki Cepot.
"Sehingga saya mengalami betul ketika tahun 2003 saya pakai ikat, ikatnya waktu itu masih warna hitam. Maka gelar pertama saya adalah Cepot, Cepot ini kalau orang Jawanya Bagong," kelakar KDM.
Kemudian, ia juga mengubah panggilan formal "bapak" menjadi akang atau kang. Panggilan kang itu membuatnya dituding sebagai perusak birokrasi.
"Saya mengganti panggilan terhadap pemimpin termasuk saya, biasanya Bapak, saya bilang saya cukup Kang Dedi saja. Keluar lagi bahasa, ini orang merusak tatanan birokrasi, engga ada dalam ilmu birokrasi kalimat Akang pada yang lebih tinggi kedudukannya," jelas dia.
KDM juga bercerita bahwa dirinya dituding akan menghidupkan budaya wiwitan lantaran mengucapkan Sampurasun sebagai salam pembuka. Padahal, menurut dia, budaya wiwitan merupakan cikal bakal kebudayaan Sunda.
"Saya katakan orang Sunda memang harus kembali pada wiwitan, kalau enggak kembali pada wiwitan dia enggak akan tahu masa depan," tegas dia.
Kebijakan-kebijakan yang ia lakukan itu juga tidak lepas dari perundungan masyarakat. Bahkan, anak kandungnya sempat mengalami trauma lantaran mendapat ancaman pembunuhan.
"Mobil saya pernah dilemparin, saya pernah dikejar oleh 25 orang di Garut dengan membawa pedang. Semuanya adalah satu kecurigaan pada saya dianggap akan menghidupkan budaya masa lalu dan dianggap sebagai ancaman," ungkap KDM.
KDM juga sempat diminta agar mengubah budaya Sunda yang ia bawa ke pemerintahan, tetapi ia bergeming. Ia menegaskan bahwa budaya adalah ideologi pembangunan bangsa.
"Saya katakan, saya lebih baik tidak terpilih tapi berpegang teguh pada prinsip kebudayaan yang saya jadikan wacana ideologi pembangunan daripada saya berganti judul hanya untuk sebuah kekuasaan," kata KDM.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Alamsyah mengungkapkan alasannya mengundang KDM dalam acara tersebut. Ia menyebut KDM merupakan pemimpin sekaligus budayawan yang berhasil.
"Kita ingin mengetahui perspektif budaya dari seorang budayawan Sunda dan kebetulan beliau adalah salah satu tokoh nasional. Dengan kita mengetahui perspektif budayanya saya yakin dalam kepemimpinan akan mengarah pada hal-hal yang benar karena kebudayaan itu kan tidak hanya sekadar kesenian dan bahasa," imbuh Alamsyah.
Pihaknya juga ingin masyarakat lebih dekat dengan budaya bangsa melalui pameran Tosan Aji atau benda dan senjata pusaka. Pameran ini akan digelar selama dua hari, mulai 13 hingga 14 Oktober 2026, di Art Center Fakultas Seni Budaya Undip.
"Kita ingin menggeser kebudayaan tosan aji, keris itu menjadi yang semi akademik. Ada makna filosofi, ada perjalanan peradaban, dan ada sejarah yang ada di dalamnya. Tidak selalu melulu dengan mistik dan eh klenik-klenik seperti itu supaya dekat dengan generasi muda," kata dia.
