Bupati Gunungkidul Respons Warga Jual Ternak demi Beli Air Bersih: Dropping Air

Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, angkat bicara soal sejumlah warga Dusun Kemesu, Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop, yang menjual ternak untuk membeli air bersih akibat kekeringan.
Endah mengatakan telah berkoordinasi dengan banyak kapanewon atau kecamatan di Gunungkidul untuk mengeluarkan anggaran dropping air.
"Hari ini beberapa panewu (camat) sudah melaporkan, bahkan Pak Kapolres juga sudah memberikan laporan bahwa Kapolsek dan Danramil, panewu ini sudah mulai mengidentifikasi titik-titik rawan dengan di-dropping air bersih. Jadi anggaran untuk dropping air bersih itu kami cantolkan di kecamatan atau kapanewon, Badan Penanggulangan Bencana, dan kami ada BTT juga," kata Endah ditemui di Kompleks Kepatihan Pemda DIY, Kamis (30/7).
Endah mengatakan anggaran di BPBD Gunungkidul mencapai Rp 500 miliar lebih. Sementara itu, masing-masing kapanewon menganggarkan lebih dari 100 tangki.
Dengan langkah ini, Endah berharap tidak ada lagi warga yang sampai menjual ternaknya untuk membeli air bersih.
"Harapan kami seperti itu (warga tidak sampai jual ternak)," katanya.
Menurut Endah, Pemkab Gunungkidul juga menggandeng pihak lain untuk membantu mengatasi persoalan kekeringan. Salah satunya menggandeng Baznas.
"Seperti Baznas membantu, ini untuk tahun yang pertama, membantu penampungan air. Jadi di titik-titik tertentu ada 5.000 liter penampungan air sehingga nanti dropping-nya di penampungan itu. Supaya warga yang tidak punya penampungan itu bisa mengakses untuk tidak perlu mencari sumber-sumber air yang wilayahnya sangat sulit," katanya.
Kemarau Lebih Awal
Endah mengatakan kemarau tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Kali ini kemarau terjadi lebih awal.
"Karena kemarau di tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Tahun lalu kami tidak seperti ini, karena ini kemaraunya lebih awal, sehingga lebih panjang. Nah ini yang menjadi persoalan, dan tadi kami sudah matur juga dengan Ngarso Dalem bahwa kondisi kekeringan Gunungkidul sampai saat ini insyaallah masih bisa tertangani, BTT masih utuh, dana di Badan Penanggulangan Bencana juga masih, akan kita dropping yang anggaran di masing-masing kapanewon," katanya.
Beberapa Kapanewon Mengalami Kekeringan
Endah menuturkan ada beberapa kapanewon yang mengalami kekeringan.
"Yang parah itu Tepus, kemudian Rongkop, Panggang, itu parah. Tetapi kemarin dari Balai Besar Serayu Opak juga hadir, rencananya dengan Pak Dirjen SDA, tapi beliau batal menghadiri. Ya. Mohon doanya kita bisa menangani ini," pungkasnya.
Sejauh ini belum ada rencana modifikasi cuaca untuk menangani kekeringan.
"Belum ada (rencana itu)," pungkasnya.
Kerap Kesulitan Air Bersih
Diberitakan sebelumnya, kekeringan melanda Dusun Kemesu, Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop, Gunungkidul. Hal ini memaksa warga menjual hewan ternaknya, seperti ayam, demi membeli air bersih.
Kondisi kekeringan dirasakan warga di sana sejak April 2026 atau ketika musim hujan berakhir. Dusun Kemesu setidaknya dihuni 68 kepala keluarga.
"Bulan April atau mungkin sudah selesai di musim hujan. Kami mempunyai tandon-tandon pribadi untuk memasukkan air hujan ke dalam tandon. Akan tetapi tandon tersebut hanya mampu memberikan pasokan mungkin satu bulan saja. Setelah itu, kami harus berpikir untuk bisa membeli air tangki begitu," kata Sutopo (46), salah seorang warga Kemesu, melalui sambungan telepon dengan wartawan, Selasa (28/7).
Sutopo menjelaskan dusunnya memang kerap kesulitan air bersih. Selama ini, warga hanya mengandalkan penampungan air hujan. Sementara itu, PDAM yang ada di tiga titik mengalir sepekan sekali.
Setelah tandon pribadi yang digunakan untuk menampung air hujan habis, warga kemudian membeli pasokan air tangki seharga Rp 120 ribu. Air itu dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga selama dua pekan.
"Dari untuk mandi, mencuci, memasak, kemudian memberikan air minum untuk ternak," ujar Sutopo.
Terpaksa Jual Ternak
Kondisi ini memaksa warga merogoh kocek lebih dalam. Sebagian besar warga merupakan petani dan peternak. Mereka pun menjual sebagian ternaknya. Mayoritas lahan pertanian merupakan tadah hujan sehingga hasilnya tak maksimal.
"Untuk bisa membeli (air) dari warga kami karena mayoritas para petani, mereka mempunyai ternak ayam ataupun ternak yang lainnya, ya memang harus menjual untuk membeli (air) tersebut," kata Sutopo.
Ternak yang dijual warga mayoritas ayam kampung. Sementara itu, ternak bernilai tinggi seperti kambing dan sapi tetap dipertahankan sebagai tabungan jangka panjang.
"Tidak menjual sapi ataupun jual kambing. Hanya kami kurangi satu atau ternak ayam kami jual kurangi begitu, ya bisa membeli (air) begitu," katanya.
