Doa untuk Dokter Icha dan Seribu Lilin Duka Menyala di Depan Kantor DPRD TTU

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ratusan tenaga kesehatan dan warga masyarakat Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar aksi duka dan doa bersama sekaligus membakar lilin di halaman depan Kantor DPRD TTU, Kefamenanu, Rabu (1/7/2026).  Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Ratusan tenaga kesehatan dan warga masyarakat Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar aksi duka dan doa bersama sekaligus membakar lilin di halaman depan Kantor DPRD TTU, Kefamenanu, Rabu (1/7/2026). Foto: Dok. Istimewa

Massa tenaga kesehatan dan warga masyarakat Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), menggelar aksi duka dan doa bersama sekaligus membakar lilin di halaman depan Kantor DPRD TTU, Kefamenanu, Rabu (1/7/2026) malam.

Kegiatan ini sebagai bentuk penghormatan terakhir dan ungkapan keprihatinan mendalam atas meninggalnya dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau yang akrab disapa dr. Icha.

Mereka datang membawa lilin, papan ucapan belasungkawa, serta spanduk bertuliskan dukungan untuk keluarga dan tuntutan keadilan. Suasana berlangsung khidmat, diiringi tangis haru dari rekan sejawat dan warga yang merasa kehilangan sosok dokter muda yang berdedikasi tinggi.

Koordinator kegiatan, yang juga salah satu perwakilan tenaga kesehatan, Robi Banase, mengatakan aksi ini bukan untuk memprovokasi, melainkan bentuk ekspresi rasa kehilangan dan kepedulian.

“Kami berkumpul di sini untuk mendoakan almarhumah agar diterima di sisi Tuhan, sekaligus menyuarakan agar kasus ini diselidiki secara transparan dan tuntas,” ujarnya.

Selain berdoa bersama, para nakes juga menyampaikan harapan agar keamanan dan perlindungan bagi seluruh tenaga kesehatan di daerah ini benar-benar dijamin. Mereka menegaskan bahwa profesi medis membutuhkan rasa aman saat menjalankan tugas kemanusiaan, tanpa harus merasa tertekan atau terancam.

Pantauan di lokasi, petugas keamanan dan kepolisian tampak hadir untuk mengawasi jalannya kegiatan agar tetap kondusif dan tertib. Para peserta diminta menjaga ketertiban dan tidak melakukan tindakan yang melanggar aturan hukum.

Sebelumnya, dr. Icha mengakhiri hidupnya pada Jumat (26/6/2026) di rumah orang tuanya di Desa Baumata, Kabupaten Kupang. Keluarga menuding kepergian dokter Icha terkait tekanan psikologis berat yang dialami setelah insiden dugaan intimidasi saat menangani pasien di RS Leona Kefamenanu pada pertengahan Juni lalu.

Saat ini, penyelidikan kasus masih berlangsung, dan tiga orang anggota DPRD TTU yang diduga terlibat intimidasi itu telah dipanggil untuk diperiksa oleh penyidik Polres TTU. Masyarakat berharap proses hukum berjalan adil dan keadilan segera terwujud.