Kemunculan 'Salju' di Gunung Bromo dan Fenomena Mbediding di Malang
·waktu baca 4 menit

Hawa dingin mulai melanda Malang Raya pada malam hari dalam beberapa hari terakhir hingga memunculkan fenomena 'salju'. Kemunculan fenomena salju ini terlihat di beberapa lokasi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), yang berada di empat wilayah, termasuk Kabupaten Malang.
Di wilayah Malang Raya, cuaca dingin begitu terasa pada malam hari. Warga Malang sering menyebut fenomena ini dengan istilah mbediding, yakni kondisi cuaca yang sangat dingin saat malam hingga pagi hari.
Di beberapa lokasi, suhu udara pada malam hari bahkan menyentuh angka 16 derajat Celsius. Namun, cuaca akan terasa panas menyengat ketika siang hari.
Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Malang Linda Fitrotul Muzayanah mengungkapkan, perbedaan suhu yang cukup terasa di Malang Raya antara siang dan malam hari disebabkan oleh faktor tutupan awan. Menurutnya, wilayah Malang Raya saat ini memasuki musim kemarau yang ditandai dengan penurunan intensitas hujan.
"Saat ini kita berada di musim kemarau, di mana secara klimatologis intensitas hujan menurun dan kondisi cuaca cenderung cerah, atau bisa dikatakan terjadi pengurangan tutupan awan, sehingga pada siang hari tidak terdapat penghalang penyinaran matahari untuk mencapai permukaan bumi," kata Linda Fitrotul Muzayanah saat dikonfirmasi pada Rabu (10/6).
Linda menjelaskan, cuaca terik dan kering ini dipengaruhi oleh angin timur yang bertiup dari Australia melintasi Samudera Hindia dan membawa massa udara kering menuju daratan Asia. Kondisi ini semakin terasa karena wilayah Malang bagian selatan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.
Akibatnya, suhu udara di Indonesia cenderung meningkat pada siang hari. Fenomena ini biasanya terjadi mulai awal Juni dan berlangsung sekitar tiga bulan ke depan.
"Iya, ini rutin terjadi. Untuk suhu udara tertinggi tercatat mencapai 33,8 derajat Celsius. Saat ini masih awal Juni dan fenomena ini akan terus berlangsung," ungkap Linda.
Ketika malam tiba, berkurangnya tutupan awan juga mempengaruhi suhu udara. Sebab, pada malam hari terjadi pelepasan energi panas secara maksimal dari permukaan bumi menuju atmosfer tanpa adanya penghalang berupa awan.
"Makanya terasa lebih dingin pada malam hari. Ini secara rutin terjadi seperti itu, bukan karena faktor El Niño," kata Linda..
Fenomena "Salju" alias Embun Upas
Sementara itu, Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS) Rudijanta Tjahja Nugraha menyatakan, fenomena mbediding juga terjadi di kawasan Gunung Bromo dan sekitarnya hingga memunculkan fenomena yang kerap disebut "salju" di beberapa titik.
Menurutnya, fenomena ini terjadi pada musim kemarau ketika tutupan awan berkurang sehingga panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih mudah terlepas ke atmosfer pada malam hari.
"Kondisi tersebut menyebabkan suhu udara, terutama pada malam hingga dini hari, menjadi lebih rendah dibandingkan biasanya. Di kawasan pegunungan tinggi seperti Bromo dan Semeru, penurunan suhu udara dapat berlangsung lebih ekstrem," ujar Rudijanta Tjahja Nugraha saat ditemui terpisah di kantornya.
Saat ini suhu udara di kawasan Gunung Bromo pada malam hari mulai turun drastis. Di beberapa titik dan waktu tertentu, suhu udara bahkan mendekati 0 derajat Celsius. Suhu ini dapat lebih rendah lagi di permukaan tanah sehingga memungkinkan terbentuknya lapisan kristal es tipis yang dikenal sebagai "embun upas" dan menyerupai salju.
"Fenomena embun upas umumnya dapat dijumpai pada area-area terbuka yang mengalami pendinginan udara secara intensif pada malam hari. Di kawasan Bromo, embun upas berpotensi muncul di Laut Pasir, Pusung Gedhe, serta Savana Lembah Watangan. Sementara di kawasan Semeru, fenomena ini kerap dijumpai di Desa Ranupani dan sekitar Ranu Kumbolo," jelasnya.
Embun upas terbentuk ketika uap air yang berada di permukaan rumput, daun, pasir, maupun tanah membeku akibat suhu yang sangat rendah. Lapisan kristal es yang terbentuk sering kali membuat permukaan kawasan tampak berwarna putih sehingga kerap disalahartikan sebagai salju.
Rudijanta menekankan embun upas dan salju adalah dua hal yang berbeda. Peristiwa ini membuat kawasan Gunung Bromo ramai dikunjungi wisatawan.
"Embun upas berbeda dengan salju karena terbentuk langsung di permukaan tanah dan bukan berasal dari presipitasi di atmosfer. Fenomena (embun upas) ini merupakan bagian dari dinamika alam yang lazim terjadi di kawasan pegunungan tropis Indonesia pada musim kemarau dan menjadi salah satu daya tarik wisata alam yang dinantikan pengunjung," paparnya.
