Rektor UNY Ungkap Ospek di Kampusnya: Maba Kami Perlakukan Seperti Raja dan Ratu

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Prof Sumaryanto. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Prof Sumaryanto. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Pengenalan kampus kepada mahasiswa baru atau ospek di Universitas Negeri Padang (UNP) jadi sorotan setelah beredar video mahasiswa baru (maba) disuruh jalan jongkok saat hendak memasuki kampus.

Sejumlah kampus berpandangan berbeda terhadap ospek maba. Seperti yang disampaikan oleh Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Prof. Sumaryanto. Menurutnya praktik-praktik perpeloncoan sudah tidak ada di kampusnya sejak lama.

Ospek di UNY dikenal dengan nama Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB).

"Sejak saya Staf Ahli Direktorat tahun 2000, Dekan Fakultas Olahraga 2003, Wakil Rektor Kemahasiswaan, Rektor. Alhamdulillah ini (tahun ini ospek) paling kondusif, kooperatif. Karena kami tanamkan tidak boleh ya ada kekerasan baik verbal maupun nonverbal," kata Sumaryanto saat ditemui di kampusnya, Kamis (20/8).

Suasana Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Foto: Dok. UNY

Menurutnya, maba kini diperlakukan bak raja dan ratu. Terlebih banyak maba datang dari luar Yogyakarta dan berbagai penjuru Indonesia.

"Perlakukan adik-adik (maba) itu sebagai bahkan tamu raja ratu. Ngarsa Dalem (Sri Sultan) kan ngarahkan luar daerah datang ke Jogja itu siapa pun kami perlakukan sebagai raja ratu, termasuk mahasiswa kami," katanya.

Sumaryanto mengatakan tahun ini ada 182 ribu pendaftar UNY dengan 12 ribu di antaranya diterima berkuliah di UNY.

"Bayangkan dari 182 (ribu) ya kita atau kami terima 12 (ribu). Sungguh kami mengapresiasi. Harus kami perlakukan raja ratu," ujarnya.

Gunakan Mobil Dinas untuk Evakuasi

Sumaryanto mengatakan beberapa waktu lalu dia juga mengerahkan mobil dinas untuk mengevakuasi mahasiswa yang sakit.

"Bahkan kemarin ada yang sakit, secara khusus pakai mobil dinas saya. Kami evakuasi. Ya, sekali lagi tidak boleh ada kekerasan verbal ya, kekerasan nonverbal. Apa pun harus humanis ya, apa pun harus wise, bijak," tuturnya.

Suasana Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Foto: Dok. UNY

Manusiawi dan Tak Boleh Sampai Malam

Lanjutnya, jam ospek juga harus manusiawi dan tidak boleh sampai malam hari.

"Kami batasi. Tidak boleh sampai sore. Bahkan dari tahun ke tahun kemarin pukul 11.00 harus sudah selesai. Pukul 13.00 harus clearance, nggak boleh ada lagi ada kegiatan. Kegiatan yang di tingkat fakultas, departemen juga kita batasi. Supaya tidak berpeluang sakit, cedera, atau accident," tuturnya.

Suasana Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Foto: Dok. UNY

Tidak Ada Tugas Nyeleneh

Maba di UNY tetap diberikan tugas. Namun, tugasnya bersifat edukatif.

"Hanya mendatangi Ormawa di tingkat universitas bahkan fakultas karena kali ini kita buat display prestasi mahasiswa. Nah, tahun ini satu keping emas entah olahraga, seni, penalaran khusus, minimal nasional saya kasih hadiah dari saya pribadi Rp 10 juta. Nah, kalau UNY ya harus lebih banyak," katanya.

"Spirit apa yang dibangun? Berprestasi. Belajar, berlatih, bertanding. Belajar, berlatih, bertanding di bawah panji-panji Ormawa," katanya.

Harapan Sumaryanto, maba nyaman dan tidak takut menjalani ospek di UNY.

"Kalau ada (yang ketakutan) mohon saya diberi tahu untuk kami tindak lanjuti. Nah, kami melibatkan beberapa dosen, mahasiswa senior relawan, untuk memperlakukan manusiawi, tidak boleh ada kekerasan," katanya.