Semarang Catat 240 Kasus HIV Baru, Terbanyak dari Kelompok Gay

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi obat antivirus HIV. Foto: Thinkstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi obat antivirus HIV. Foto: Thinkstock

Dinas Kesehatan Kota Semarang mencatat ada 240 kasus HIV baru selama Januari hingga Mei 2026. Kasus terbanyak berasal dari kelompok laki-laki seks dengan laki-laki (LSL) atau gay.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Moch Abdul Hakam mengatakan, temuan tersebut merupakan hasil dari peningkatan kegiatan skrining, perluasan akses layanan tes HIV, serta penguatan penemuan kasus secara aktif (active case finding) di fasilitas pelayanan kesehatan dan kelompok masyarakat yang memiliki faktor risiko.

"Tingginya temuan kasus HIV di Kota Semarang menunjukkan semakin banyak masyarakat yang berhasil dijangkau layanan pemeriksaan dan deteksi dini, bukan semata-mata mencerminkan peningkatan penularan HIV di masyarakat," ujar Hakam, Kamis (4/6).

Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Kesehatan Kota Semarang, kelompok risiko dengan proporsi temuan tertinggi berasal dari laki-laki seks dengan laki-laki (LSL) sebesar 44%, diikuti pasien Tuberkulosis (TBC) 12%.

"Kemudian pasangan risiko tinggi 11%, populasi umum 11%, pasien Infeksi Menular Seksual (IMS) 9%, pelanggan pekerja seks 5%, dan wanita pekerja seks 2%," sebut dia.

Menurut Hakam, masyarakat juga perlu memahami perbedaan antara peningkatan temuan kasus dengan peningkatan penularan kasus.

"Peningkatan jumlah kasus yang ditemukan tidak selalu berarti penularan HIV meningkat. Justru hal ini menunjukkan bahwa layanan skrining semakin menjangkau kelompok yang sebelumnya belum terdeteksi," tegas Hakam.

Pihaknya juga memiliki program LIDYA DIMARI (Layanan Tes HIV dan Layanan ARV di malam hari) untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan waktu untuk mengakses layanan kesehatan pada jam kerja.

Informasi jadwal pelaksanaan dan lokasi puskesmas penyelenggara dapat dilihat melalui akun Instagram resmi Dinas Kesehatan Kota Semarang @dkksemarang.

"Saat ini HIV sudah dapat dikendalikan dengan pengobatan yang tepat dan teratur. Karena itu, kami mengajak masyarakat untuk tidak takut melakukan pemeriksaan HIV. Semakin cepat diketahui, semakin baik hasil pengobatannya dan semakin kecil risiko penularannya kepada orang lain," ucap Hakam.

Dia juga meminta masyarakat untuk tidak memberikan stigma maupun diskriminasi kepada Orang Dengan HIV (ODHIV). Sebab, HIV tidak menular melalui kontak sosial sehari-hari seperti berjabat tangan, berpelukan, berbagi peralatan makan, bekerja bersama, maupun aktivitas sosial lainnya.

"ODHIV dapat tetap hidup sehat, produktif, dan beraktivitas normal selama menjalani pengobatan ARV secara rutin sesuai anjuran tenaga kesehatan," kata Hakam.