Sopir yang Dibakar Bosnya di Karangasem: Usia 20 Tahun, Tulang Punggung Keluarga

Keluarga IGS (20), sopir yang dibakar hidup-hidup oleh bosnya di Karangasem, datang ke RSUP Prof Ngoerah Denpasar untuk melihat kondisi IGS, Selasa (22/9).
Di tengah kekhawatiran atas kondisi IGS, keluarga juga memikirkan kehidupan mereka setelah IGS yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga harus menjalani perawatan.
Paman IGS, I Nengah Sridana, mengungkap IGS merupakan anak pertama dari dua bersaudara. IGS selama ini menjadi tulang punggung keluarga. Sementara itu, ayah dan ibunya merupakan petani yang bekerja di ladang.
Selain harus menunggu kesembuhan IGS, mereka juga kesulitan memenuhi biaya pengobatan akibat luka bakar yang dideritanya.
"Jadi untuk biaya, pasti kurang banyak. Keluarga tidak berada, enggak bisa buat berobat. Ini juga mengandalkan donasi dari teman-teman," kata Sridana yang mendampingi ibu IGS, Ni Komang Sri Maryati, di Instalasi Luka Bakar, RSUP Prof. Ngoerah Denpasar, Selasa (22/9).
IGS diketahui bekerja sebagai sopir truk milik IPCP (37), bosnya yang kini menjadi tersangka dalam kasus pembakaran tersebut. Pekerjaan itu menjadi salah satu sumber penghasilan bagi keluarga IGS.
Sewaktu kejadian, ibu IGS sedang berjualan makanan ringan karena terdapat acara adat di dekat sana. IGS sedang berada di rumah bersama dengan nenek dan kakeknya, serta sepupunya.
Sridana mengatakan, sebelum dibakar bosnya, IGS sempat tidak bisa bekerja karena sakit selama dua hari.
Sridana juga baru mengetahui IGS dibakar hidup-hidup oleh bosnya saat diberitahukan mengenai kondisi IGS di Puskesmas.
"Saat itu korban lagi sakit, panas dan kepalanya sakit. Itu setoran selama 15 hari. Namun, saya tidak mengetahui persisnya karena korban juga enggak pernah cerita masalah ini. Ke orang tua juga tidak pernah karena dia tertutup orangnya," jelasnya.
Menurut Sridana, IGS merupakan sosok yang tertutup dan tidak pernah menceritakan persoalan yang dihadapinya kepada orang tua. Keluarga pun baru mengetahui persoalan setoran setelah kejadian tersebut.
Sridana mengungkap, pelaku sudah berstatus sebagai tersangka dan ditangkap oleh Polres Karangasem. Pihak keluarga juga sudah menerima surat permohonan maaf dari pelaku dengan lapang dada.
Namun, persoalan keluarga belum selesai. IGS masih harus menjalani perawatan intensif di RSUP Prof. Ngoerah Denpasar, sementara keluarga harus memikirkan biaya pengobatannya.
Keluarga mengalami kendala dalam pembiayaan karena menggunakan jalur umum. Status IGS yang merupakan korban tindakan kriminal menyebabkan BPJS tidak berlaku.
"Karena termasuk kriminal, enggak ditanggung. Status pasien untuk sekarang umum. Per hari ini, dari mulai masuk sampai hari ini, rincian Rp 63 juta total pengeluaran," ungkapnya.
Besarnya biaya pengobatan menjadi beban tersendiri bagi keluarga IGS. Terlebih, selama menjalani perawatan, IGS belum dapat kembali bekerja sebagai sopir untuk mencari nafkah.
Sridana mengatakan, keluarga pelaku sempat meminta keluarga korban untuk mencabut laporan dan menangguhkan penahanan untuk pelaku. Namun, keluarga korban menolak karena kondisi IGS yang masih dirawat intensif.
Keluarga korban juga sempat menanyakan pertanggungjawaban pengobatan IGS saat tindakan pertama selesai dilakukan. Akan tetapi, keluarga pelaku mengatakan tidak sanggup membayar.
"Kalau memang ada (penangguhan penahanan), dia tanggung (biaya berobat) sampai tuntas. Kemarin saya juga tanyakan saat pihak dokter memberi tahu tindakan pertama dengan biaya Rp 19 juta sekian, enggak sanggup katanya," terang Sridana.
Sridana berharap IGS cepat sembuh dan pulang ke keluarga di Karangasem. Selain itu, dia berharap biaya pengobatan IGS dapat diringankan.
Diketahui, IGS dibakar hidup-hidup oleh bosnya yang berinisial IPCP (37) di rumahnya yang terletak di Banjar Dinas Susut, Desa Muncan, Karangasem, Bali. Motif dari pembakaran tersebut diduga karena IGS menunggak membayar uang setoran kepada IPCP. Saa ditagih itu, IGS dalam kondisi sakit sehingga tidak bisa bekerja selama 2 hari.
“Diduga karena korban menunggak setoran sebanyak Rp 8,5 juta kepada pelaku. Korban bekerja sebagai sopir truk milik pelaku,” ungkap Kasi Humas Polres Karangasem, Ipda I Nengah Artono, dalam keterangannya pada Jumat (18/9).
Saat ini, IGS dirawat di RSUP Prof. Ngoerah Denpasar karena luka bakar yang mencapai 68 persen. Luka tersebut dominan berada di bagian dada (toraks) dengan area terdampak melingkar ke belakang.
