TNI AD Ungkap Hasil Investigasi Jembatan di Pangandaran Anjlok Usai Diresmikan

TNI Angkatan Darat (TNI AD) telah menyelesaikan investigasi terkait kerusakan Jembatan Gantung Garuda di Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Jembatan itu ambruk usai diresmikan pada Minggu (30/8).
Hasil pemeriksaan ditemukan sejumlah faktor teknis pada sistem jembatan serta kondisi pembebanan yang melebihi kapasitas penggunaan.
Kerusakan terjadi pada sistem sling saat pelaksanaan peresmian jembatan. Berdasarkan hasil investigasi, tim memeriksa berbagai bagian konstruksi dan sistem pendukung jembatan.
Sejumlah kondisi teknis ditemukan, antara lain pengait block anchor yang mengalami patah, konfigurasi dan posisi block anchor terhadap pylon, sistem roller dan turnbuckle, konfigurasi sling bawah, serta perbedaan elevasi pada pylon.
Kelebihan Beban
Selain faktor teknis tersebut, jembatan menerima beban secara bersamaan dari sekitar 50 orang saat kejadian. Berdasarkan hasil analisis TNI AD, kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kinerja struktur jembatan.
Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad), Brigjen TNI Donny Pramono, mengatakan Jembatan Gantung Garuda merupakan jembatan perintis yang dibangun untuk membantu akses masyarakat, khususnya di wilayah dengan kondisi geografis yang menyulitkan pembangunan jembatan beton.
“Jembatan perintis memiliki batas kemampuan atau kapasitas tertentu. Karena itu, aspek pembebanan menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam penggunaannya. Pada jembatan tersebut juga telah dicantumkan ketentuan mengenai batas jumlah orang yang dapat berada di atas jembatan,” jelasnya, Jumat (4/9/2026).
TNI AD menyebut telah melakukan upgrade terhadap sistem sling pada jembatan-jembatan perintis yang dibangun. Peningkatan tersebut mencakup kekuatan sling sekitar 20 hingga 30 persen.
Meski demikian, peningkatan kekuatan sling tidak menghilangkan ketentuan mengenai batas kapasitas jembatan. TNI AD menegaskan seluruh sistem jembatan tetap harus digunakan sesuai kapasitas dan ketentuan yang telah ditetapkan.
“Kami tidak ingin menyalahkan siapa pun. Kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi kami untuk memastikan seluruh aspek teknis dan ketentuan penggunaan benar-benar dipahami dan dipatuhi,” lanjutnya.
TNI AD juga menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tersebut kepada masyarakat yang terdampak. Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak sebelumnya menyatakan pihaknya bertanggung jawab atas kejadian tersebut.
“Saya selaku Kepala Satgas jembatan yang ditunjuk oleh Presiden, saya pribadi bersama anggota memohon maaf atas kejadian tersebut. Kami bertanggung jawab atas kejadian tersebut,” ujar Maruli.
Sebagai tindak lanjut hasil investigasi, TNI AD akan melakukan penanganan dan penyempurnaan secara menyeluruh terhadap bagian-bagian yang berkaitan dengan sistem struktur jembatan.
Evaluasi juga akan mencakup konfigurasi, keseimbangan, distribusi beban, serta penerapan ketentuan keselamatan pada jembatan perintis lainnya.
Sebelum kembali dimanfaatkan masyarakat, Jembatan Gantung Garuda akan menjalani pemeriksaan dan pengujian teknis sesuai kebutuhan untuk memastikan kelayakan penggunaannya.
TNI AD menyatakan hasil investigasi tersebut akan menjadi bahan evaluasi dan penyempurnaan dalam pembangunan jembatan ke depan. Keselamatan masyarakat menjadi prioritas dalam memastikan infrastruktur yang dibangun dapat digunakan secara optimal, aman, dan berkelanjutan.
