Konten dari Pengguna

Qompetensia: Diagnosis Gap Kompetensi ASN Berbasis AI

Salman Al Farizi

Salman Al Farizi

ASN di Provinsi Jawa Barat

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Salman Al Farizi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi belajar AI. Foto: Digineer Station/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi belajar AI. Foto: Digineer Station/Shutterstock

Pengembangan kompetensi ASN selama ini sering dimulai dari pertanyaan, “Pelatihan apa yang perlu diselenggarakan?” Pertanyaan tersebut penting, tetapi ada pertanyaan yang seharusnya hadir lebih dahulu: “Kompetensi apa yang sebenarnya perlu dikembangkan?”

Di sinilah muncul sebuah persoalan dalam pengembangan sumber daya manusia. Pelatihan dapat diselenggarakan dengan baik, peserta hadir, materi tersampaikan, bahkan sertifikat diterbitkan. Namun, apakah pelatihan tersebut benar-benar menjawab kesenjangan kompetensi setiap ASN? Jika diagnosis kebutuhannya kurang tepat, pengembangan kompetensi berisiko menjadi kegiatan yang baik secara administratif, tetapi belum tentu tepat secara substantif.

Qompetensia: Diagnosis Gap Kompetensi ASN Berbasis AI hadir sebagai sebuah inovasi untuk mengubah paradigma tersebut. Inovasi ini dikembangkan oleh Salman Al Farizi, ASN BPSDM Provinsi Jawa Barat, dan telah digunakan secara terbatas. Gagasannya sederhana tetapi fundamental: pengembangan kompetensi harus dimulai dari diagnosis yang tepat.

Portal Qompetensia saat ini memosisikan dirinya sebagai Smart Assessment System untuk diagnosis kompetensi berbasis AI dengan prinsip tepat peran, tepat level, dan tepat konteks organisasi.

Dari Pelatihan Berbasis Asumsi Menuju Diagnosis Berbasis Data

Salah satu tantangan pengembangan kompetensi adalah kecenderungan memberikan solusi pelatihan sebelum akar masalahnya dipastikan. Ketika terdapat kesenjangan kinerja, respons yang muncul sering kali langsung berupa pelatihan. Padahal, masalah kinerja tidak selalu disebabkan oleh kekurangan kompetensi. Dalam buku Blind Spot Competency menekankan pentingnya membedakan masalah Skill, Will, dan Hill—apakah seseorang tidak mampu, tidak mau, atau terdapat hambatan sistem yang membuatnya tidak dapat bekerja optimal.

Karena itu, pelatihan seharusnya tidak menjadi titik awal, melainkan salah satu bentuk intervensi setelah kebutuhan pengembangan diketahui.

Qompetensia membawa perubahan cara berpikir tersebut ke dalam proses digital. Asesmen tidak dibuat generik, tetapi mempertimbangkan tiga dimensi penting: jabatan, level jabatan, dan konteks organisasi. Ketiga unsur tersebut digunakan untuk membuat hasil diagnosis lebih relevan dengan tuntutan pekerjaan nyata.

Bagaimana Qompetensia Bekerja?

Proses dimulai ketika ASN mengisi informasi berupa nama, jabatan, level jabatan, serta konteks organisasi atau isu strategis. Data tersebut menjadi konteks bagi sistem untuk menyusun asesmen.

Dengan memanfaatkan AI, Qompetensia menghasilkan 20 pertanyaan esai secara dinamis sesuai profil ASN. Peserta memiliki waktu 120 menit untuk menyelesaikan asesmen. Pendekatan ini membuat peserta tidak sekadar menjawab tes pengetahuan yang seragam, tetapi menghadapi pertanyaan yang dikaitkan dengan peran dan lingkungan kerjanya.

Setelah asesmen diselesaikan, AI melakukan analisis terhadap jawaban dan menghasilkan skor, umpan balik per butir, profil kekuatan dan gap kompetensi, serta rekomendasi pengembangan. Secara umum, Qompetensia dirancang untuk menghasilkan diagnosis dan rekomendasi secara langsung setelah peserta menyelesaikan asesmen.

Dalam mekanisme yang digunakan, skor di atas 140 diberikan predikat Kompeten, sedangkan skor di bawah 140 mendapatkan predikat Perlu Pengembangan Kompetensi.

Bukan Sekadar Memberikan Nilai

Kekuatan utama inovasi ini bukan pada munculnya sebuah angka, melainkan pada makna di balik angka tersebut.

Contoh laporan asesmen menunjukkan bagaimana hasil dapat dibedah sampai tingkat kompetensi. Misal, dalam laporan seorang ASN sebagai Statistisi Ahli Pertama, diperoleh skor total 135 dengan predikat Perlu Pengembangan. Namun, laporan tidak berhenti pada predikat tersebut. Sistem memberikan umpan balik terhadap masing-masing kompetensi.

Beberapa aspek menunjukkan kekuatan, seperti pemecahan masalah, etika data, berpikir kritis, dan pembelajaran berkelanjutan. Sebaliknya, terdapat area yang membutuhkan pengembangan lebih lanjut. Lebih jauh, sistem menghasilkan narasi rekomendasi pengembangan yang mengarahkan area mana yang perlu diperkuat.

Dengan demikian, informasi yang diperoleh bukan sekadar “ASN ini nilainya rendah”, tetapi “kompetensi apa yang sudah kuat, kompetensi apa yang masih memiliki gap, dan arah pengembangan apa yang relevan.”

Dari Diagnosis Menuju Pengembangan

Di sinilah Qompetensia diarahkan menjadi lebih dari sekadar aplikasi asesmen. Hasil diagnosis menjadi titik awal sebuah siklus pengembangan:

Asesmen Qompetensia → Profil Gap Kompetensi → Rekomendasi Pengembangan → Pelatihan/Coaching/Mentoring/Belajar Mandiri → Implementasi → Evaluasi → Re-assessment.

Artinya, ASN tidak lagi diarahkan mengikuti pelatihan hanya karena program tersebut tersedia. Intervensi pengembangan diharapkan dipilih berdasarkan kebutuhan yang teridentifikasi.

Pendekatan ini juga membuka peluang bagi organisasi untuk mengembangkan program yang lebih personal, efisien, dan relevan. Qompetensia secara resmi menyebut hasil asesmennya dapat digunakan sebagai dasar perencanaan pelatihan, talent development, dan kebijakan SDM.

AI sebagai Pengungkit Layanan Publik

Nilai inovasi Qompetensia bukan semata-mata karena menggunakan Artificial Intelligence. AI ditempatkan sebagai pengungkit agar proses diagnosis yang sebelumnya membutuhkan waktu dan tenaga besar dapat dilakukan dengan lebih cepat, personal, dan berpotensi diterapkan dalam skala besar.

Dengan pendekatan ini, teknologi tidak menggantikan peran pengelola pengembangan kompetensi. Sebaliknya, teknologi membantu menyediakan informasi yang lebih terstruktur sebagai dasar pengambilan keputusan.

Tujuan akhirnya adalah meningkatkan relevansi program pengembangan kompetensi ASN. Ketika kebutuhan individu dapat dipetakan dengan lebih baik, organisasi memiliki dasar yang lebih kuat untuk menentukan prioritas pengembangan, sementara ASN memperoleh arah pengembangan yang lebih sesuai dengan tuntutan pekerjaannya.

Menjadikan Diagnosis sebagai Budaya

Qompetensia pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah portal atau teknologi AI. Esensi inovasinya adalah membangun kebiasaan baru dalam pengembangan ASN: jangan memberikan intervensi sebelum memahami kebutuhan.

Pengembangan kompetensi yang efektif bukan dimulai dari banyaknya pelatihan yang diselenggarakan, melainkan dari seberapa tepat organisasi memahami gap kompetensi pegawainya.

Karena itu, Qompetensia membawa sebuah pesan sederhana:

“Jangan mulai dari pelatihan. Mulailah dari diagnosis.”

Dengan diagnosis yang lebih cepat, objektif, personal, dan kontekstual, pengembangan kompetensi ASN diharapkan bergerak dari sekadar memenuhi kebutuhan administratif menuju pengembangan yang benar-benar relevan dengan kebutuhan individu, jabatan, dan organisasi.

Pada akhirnya, inovasi pelayanan publik tidak selalu harus berupa layanan yang sepenuhnya baru. Inovasi juga dapat berupa cara baru yang lebih cerdas dalam memberikan layanan yang sudah ada. Qompetensia menawarkan cara tersebut: menjadikan data dan AI sebagai fondasi untuk memastikan bahwa setiap upaya pengembangan kompetensi ASN dimulai dari kebutuhan yang benar.