Konten dari Pengguna

Ketika Perasaan Tak Pernah Selesai Dibicarakan dalam Nonversation

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Salsa Dhea Safitri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Resensi Novel “Nonversation” Karya Valerie Patkar

Novel Nonversation karya Valerie Patkar. Foto: Dokumentasi pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Novel Nonversation karya Valerie Patkar. Foto: Dokumentasi pribadi.

Pernah nggak, kamu punya seseorang yang terasa lebih dekat dari sekadar teman, tapi hubungan kalian juga nggak pernah benar-benar bisa disebut cinta? Perasaan seperti ini bisa menjadi rumit ketika tidak pernah benar-benar dibicarakan. Ada keinginan untuk jujur, tetapi di sisi lain muncul rasa takut bahwa kejujuran itu justru akan mengubah hubungan yang sudah terjalin.

Hal itulah yang menurut saya menjadi salah satu hal menarik dari Nonversation karya Valerie Patkar. Novel ini tidak hanya bercerita tentang cinta dan persahabatan, tetapi juga menghadirkan persoalan tentang kehilangan, keluarga, keberanian, serta perasaan yang tidak pernah benar-benar disampaikan.

Tentang Nonversation

Nonversation menceritakan hubungan tiga tokoh utama, yaitu Theala, Dirga, dan Trian. Cerita bermula ketika Theala bertemu dengan Dirga dalam kehidupan perkuliahan. Pertemuan mereka tidak berlangsung dengan baik, tetapi justru membuat Dirga penasaran terhadap Theala. Seiring berjalannya waktu, keduanya menjadi dekat dan membangun sebuah hubungan persahabatan.

Namun, hubungan tersebut tidak sesederhana yang terlihat. Theala masih memiliki perasaan terhadap Trian, seseorang yang memiliki hubungan dengan masa lalunya. Kehadiran Trian membuat hubungan antara Theala dan Dirga semakin rumit. Dirga yang mulai menyimpan perasaan terhadap Theala harus menghadapi kenyataan bahwa orang yang disukainya justru memiliki perasaan terhadap orang lain.

Yang menarik dari novel ini, konflik yang muncul bukan hanya soal cinta segitiga, tetapi juga karena ketiga tokoh tersebut memiliki cara masing-masing dalam menghadapi perasaannya. Ada yang memilih diam, ada yang berusaha mempertahankan hubungan sebagai sahabat, dan ada yang harus berhadapan dengan masa lalu.

Karena itu, konflik dalam novel ini menurut saya terasa lebih banyak berasal dari pergulatan batin para tokoh daripada pertengkaran atau kejadian besar. Justru hal-hal yang tidak dikatakan oleh para tokohnya menjadi bagian yang membuat hubungan mereka semakin rumit.

Analisis

Salah satu hal yang membuat saya tertarik dengan Nonversation adalah cara Valerie Patkar mengembangkan tema yang sebenarnya cukup dekat dengan cerita romantis yang sebenarnya cukup familiar. Persahabatan yang kemudian berkembang menjadi perasaan mungkin bukan tema yang benar-benar baru, tetapi novel ini tidak berhenti pada persoalan siapa menyukai siapa.

Hubungan Theala dan Dirga, misalnya, memperlihatkan bagaimana seseorang bisa memiliki perasaan yang besar, tetapi memilih menyimpannya karena takut kehilangan hubungan yang sudah dimiliki. Dari sini, saya merasa konflik dalam novel tidak hanya berasal dari kejadian eksternal, tetapi juga dari pilihan mereka sendiri untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya mereka rasakan.

Hal tersebut juga terasa dari judulnya. Nonversation dapat dikaitkan dengan percakapan yang tidak pernah benar-benar terjadi. Ada banyak hal yang sebenarnya ingin disampaikan oleh para tokoh, tetapi justru disimpan karena berbagai alasan. Bagi saya, inilah yang membuat judul novel terasa sesuai dengan konflik yang dibangun sepanjang cerita.

Dari segi penokohan, Theala, Dirga, dan Trian memiliki karakter serta persoalan masing-masing. Theala digambarkan sebagai seseorang yang cukup tertutup dalam menghadapi perasaannya. Dirga merupakan tokoh yang memiliki perasaan kuat terhadap Theala, tetapi kesulitan mengungkapkannya secara langsung. Sementara itu, Trian menjadi bagian penting dalam hubungan ketiganya karena keberadaannya membuat konflik perasaan antara Theala dan Dirga semakin kompleks.

Hal lain yang saya perhatikan adalah gaya bahaya yang digunakan oleh Valerie Patkar. Bahasa yang digunakan cenderung ringan dan dekat dengan percakapan sehari-hari, sehingga mudah untuk diikuti, tetapi ada bagian tertentu di mana penulis menggunakan kalimat yang lebih puitis untuk menggambarkan perasaan tokoh. Perpaduan tersebut membuat novel ini tetap terasa ringan sebagai bacaan romance, tetapi memiliki beberapa bagian yang membuat saya berhenti sejenak untuk memikirkan kembali hubungan antarmanusia.

Penggunaan tiga sudut pandang juga menjadi salah satu unsur yang menarik bagi saya. Pembaca tidak hanya melihat cerita dari sisi Theala, tetapi juga dapat memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh Dirga serta Trian. Dengan begitu, pembaca dapat memahami alasan di balik tindakan masing-masing tokoh dan melihat konflik dari perspektif yang berbeda.

Hal yang Menjadi Kekuatan Novel

Menurut saya, salah satu kekuatan Nonversation terletak pada pengembangan hubungan antartokohnya. Konflik tidak selalu dibangun melalui kejadian besar, tetapi juga melalui percakapan, sikap, dan perasaan yang tidak disampaikan secara langsung.

Karakter-karakter juga memiliki konflik dan perasaan yang cukup kuat. Hal ini membuat setiap tokoh tidak sekadar menjadi bagian dari konflik romantis, tetapi memiliki alasan masing-masing dalam mengambil keputusan.

Penggunaan sudut pandang juga membuat cerita menjadi lebih menarik. Pembaca bisa melihat bahwa satu kejadian tidak selalu memiliki arti yang sama bagi setiap orang.

Selain itu, gaya bahasa yang ringan dan puitis membuat novel ini cukup nyaman untuk dibaca. Tema yang diangkat juga dekat dengan kehidupan, seperti persahabatan, perasaan yang dipendam, kehilangan, dan hubungan yang tidak memiliki kepastian.

Saya juga menyukai bahwa Nonversation tidak hanya berfokus pada kisah cinta. Persoalan keluarga dan kehidupan pribadi para tokoh turut mendapat ruang sehingga cerita terasa lebih luas daripada sekadar hubungan romantis.

Kekurangan Novel

Meski memiliki beberapa kelebihan, Nonversation juga memiliki bagian yang mungkin kurang cocok bagi sebagian pembaca.

Karena cerita cukup banyak berpusat pada hubungan dan perasaan antartokoh, alurnya terkadang terasa panjang. Bagi pembaca yang lebih menyukai perkembangan cerita yang cepat, beberapa bagian mungkin terasa seperti berputar pada persoalan yang sama.

Hal tersebut terutama terjadi karena beberapa konflik muncul dari keputusan tokoh untuk memendam perasaan dan tidak berkomunikasi secara terbuka. Di satu sisi, hal ini memang sesuai dengan gagasan utama novel. Namun, di sisi lain, saya sempat merasa bahwa beberapa persoalan sebenarnya bisa menjadi lebih sederhana apabila para tokohnya dapat berkomunikasi dengan baik atau mau berbicara secara terbuka.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, Nonversation bagi saya bukan hanya membahas kisah percintaan, tetapi juga menggambarkan persahabatan, kehilangan, keluarga, dan kesulitan seseorang dalam mengungkapkan perasaan.

Hubungan antara Theala, Dirga, dan Trian menjadi pusat cerita sekaligus menunjukkan bahwa hubungan antarmanusia tidak selalu berjalan sederhana. Terkadang, masalah bukan muncul karena seseorang tidak memiliki perasaan, tetapi justru karena perasaan tersebut terlalu lama disimpan.

Meskipun beberapa konflik terasa cukup panjang dan perpindahan sudut pandangnya membutuhkan perhatian lebih, Nonversation tetap menarik bagi pembaca yang menyukai cerita romansa, persahabatan, dan konflik emosional dengan latar kehidupan anak muda.

Bagi saya, salah satu hal yang paling bisa dibawa setelah membaca novel ini adalah bahwa memahami perasaan orang lain memang penting, tetapi memahami dan berani mengakui perasaan sendiri juga tidak kalah penting. Sebab, ada kalanya sesuatu yang tidak pernah dibicarakan justru menjadi hal yang paling lama tinggal di dalam sebuah hubungan.