Konten dari Pengguna

Menemukan Cerita di Balik Gerak: Pengalaman Menonton Wayang Orang Sriwedari

Salsa Dhea Safitri

Salsa Dhea Safitri

Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi, Universitas Sebelas Maret

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Salsa Dhea Safitri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Resensi Pementasan Wayang Orang Sriwedari "Rukma-Ugrasena Krama"

Pementasan Wayang Orang Sriwedai dengan lakon "Rukma-Ugrasena Krama" pada 19 November 2025.
zoom-in-whitePerbesar
Pementasan Wayang Orang Sriwedai dengan lakon "Rukma-Ugrasena Krama" pada 19 November 2025.

Pertunjukan seni tradisional mungkin bukan pilihan hiburan yang paling sering terpikirkan saat ingin menghabiskan waktu bersama teman. Namun, pengalaman menonton wayang orang di Gedung Wayang Orang Sriwedari, Surakarta, pada 19 November 2025 justru memberikan pengalaman yang berbeda bagi saya.

Malam itu, saya datang bersama beberapa teman kuliah untuk menyaksikan pementasan Rukma-Ugrasena Krama. Hal pertama yang menarik perhatian saya bahkan sebelum pertunjukan dimulai adalah jumlah penontonnya. Saya sempat mengira pertunjukan seperti ini akan lebih banyak dihadiri oleh orang-orang yang sudah akrab dengan kesenian tradisional. Ternyata, cukup banyak anak muda yang juga datang. Ruang pertunjukannya pun terasa besar. Meskipun kursi yang terisi malam itu belum sampai penuh, jumlah penonton tetap cukup banyak untuk membuat suasana terasa hidup.

Ketika pertunjukan dimulai, saya mulai menyadari bahwa menikmati wayang orang membutuhkan cara yang sedikit berbeda dari menonton pertunjukan pada umumnya. Saya tidak terlalu memahami bahasa Jawa halus yang digunakan dalam percakapan antartokoh. Karena itu, saya tidak selalu bisa menangkap maksud dialog secara utuh. Untungnya, terdapat sinopsis yang ditampilkan sehingga saya masih dapat mengetahui gambaran cerita yang sedang berlangsung. Selebihnya, saya lebih banyak memperhatikan apa yang terjadi di atas panggung.

Lakon Rukma-Ugrasena Krama sendiri berkisah tentang Rukma dan Ugrasena, dua tokoh yang menghadapi berbagai peristiwa hingga akhirnya cerita berlanjut pada perkawinan mereka dengan pasangan masing-masing. Dalam pertunjukan, jalan cerita tidak hanya ditampilkan melalui percakapan, tetapi juga melalui gerakan, ekspresi, kostum, tata rias, musik, dan berbagai adegan di atas panggung. Bagi saya, unsur-unsur tersebut menjadi semacam petunjuk tambahan untuk memahami cerita ketika ada percakapan yang tidak sepenuhnya saya mengerti.

Hal yang paling membantu saya adalah bahwa saya bisa mengenali perbedaan karakter melalui penampilan mereka. Kostum dan tata rias membuat tokoh-tokoh di atas panggung memiliki ciri yang kuat. Gerakan pemain juga membantu menunjukkan suasana dalam suatu adegan. Ketika suasana berubah menjadi lebih tegang, misalnya, perubahan gerak dan ekspresi pemain memberikan gambaran mengenai konflik yang sedang terjadi meskipun saya tidak memahami seluruh dialognya.

Namun, bagian yang paling saya ingat justru bukan adegan utama dalam cerita, melainkan ketika Punakawan muncul di tengah pertunjukan. Kehadiran mereka menjadi selingan yang membuat suasana terasa lebih santai. Para Punakawan membawakan adegan komedi sekaligus berinteraksi dengan penonton. Bagian ini terasa lebih dekat dengan saya karena bahasa yang digunakan lebih sehari-hari sehingga lebih mudah dipahami dibandingkan dengan bagian cerita utama.

Interaksi tersebut juga membuat suasana di dalam gedung terasa lebih hidup. Penonton tidak hanya duduk diam menyaksikan cerita, tetapi sesekali diajak merespons apa yang terjadi di atas panggung. Bagi saya, bagian Punakawan menjadi salah satu titik yang membuat pertunjukan terasa lebih ringan dan tidak terlalu sulit diikuti. Setelah sebelumnya cukup berkonsentrasi untuk memahami cerita, saya bisa menikmati bagian tersebut dengan lebih santai.

Di luar ceritanya, iringan gamelan juga menjadi bagian yang cukup menonjol. Musik, gerakan tari, kostum, dan tata panggung berpadu dengan akting para pemain sehingga pertunjukan terasa sebagai pengalaman yang lebih dari sekadar menyaksikan drama. Ada banyak hal yang bisa diperhatikan bahkan ketika dialog tidak seluruhnya dapat dipahami.

Namun, ada beberapa hal yang menurut saya dapat menjadi tantangan bagi penonton, terutama bagi mereka yang baru pertama kali menyaksikan wayang orang. Penggunaan bahasa Jawa yang cukup sulit dipahami membuat beberapa bagian cerita tidak mudah diikuti. Sinopsis yang ditampilkan memang membantu, tetapi beberapa percakapan yang cukup panjang juga menjadi tantangan tersendiri. Pertunjukan yang saya saksikan malam itu berlangsung hingga sekitar pukul 23.00. Bagi penonton yang belum terbiasa dengan pertunjukan berdurasi panjang, waktu tersebut cukup lama untuk mempertahankan konsentrasi, terlebih ketika ada bagian cerita yang tidak sepenuhnya dapat dipahami.

Meski demikian, durasi panjang tersebut juga membuat penonton memiliki kesempatan untuk menikmati berbagai unsur pertunjukan secara lebih lengkap. Bagi penonton yang memang tertarik dengan wayang orang, panjangnya pertunjukan mungkin justru menjadi bagian dari pengalaman menikmati keseluruhan cerita. Menurut saya, tantangannya lebih terletak pada bagaimana pertunjukan mempertahankan perhatian penonton yang baru mengenal wayang orang.

Justru di tengah tantangan tersebut, kehadiran Punakawan menjadi salah satu bagian yang menurut saya efektif dalam menjaga keterlibatan penonton. Selain menghadirkan humor, interaksi mereka membuat pertunjukan terasa lebih dekat dengan penonton dan memberikan jeda dari alur cerita utama yang cukup serius.

Pada akhirnya, saya datang ke Gedung Wayang Orang Sriwedari dengan bayangan bahwa saya mungkin akan kesulitan menikmati pertunjukan karena tidak terlalu memahami bahasa yang digunakan. Ternyata, pengalaman menonton Rukma-Ugrasena Krama menunjukkan hal yang sedikit berbeda. Saya memang tidak memahami setiap percakapan, tetapi tetap bisa mengikuti dan menikmati pertunjukan melalui berbagai unsur yang ada di atas panggung.

Mungkin saya tidak bisa mengingat seluruh dialog atau menjelaskan setiap bagian cerita secara lengkap setelah pertunjukan selesai. Namun, saya masih mengingat suasana gedung yang cukup ramai, banyaknya anak muda yang hadir, kemunculan Punakawan yang menghidupkan suasana, serta bagaimana gerak, musik, dan visual membantu saya memahami cerita. Dari sana, saya justru menemukan bahwa menikmati pertunjukan tradisional tidak selalu harus dimulai dari kemampuan memahami setiap kata. Kadang, cerita juga bisa ditemukan melalui apa yang terlihat, terdengar, dan terasa di atas panggung.