Tentang Keluarga, Impian, dan Perjalanan Waktu dalam Twinkling Watermelon

Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi, Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Salsa Dhea Safitri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Resensi Drama Korea Twinkling Watermelon (2023)

Identitas Karya
Judul: Twinkling Watermelon
Tahun Rilis: 2023
Sutradara: Son Jong-hyun & Yoo Beom-sang
Penulis: Jin Soo-wan
Pemain: Ryeoun, Choi Hyun-wook, Seol In-ah, Shin Eun-soo
Genre: Fantasy, romance, coming-of-age, time travel
Jumlah Episode: 16 Episode
Awalnya, saya mengira Twinkling Watermelon hanya akan menjadi drama remaja dengan cerita perjalanan waktu dan kisah percintaan. Ternyata, semakin mengikuti ceritanya, semakin banyak hal yang membuat drama ini menarik untuk diperhatikan, terutama hubungan antara anak dan orang tua.
Cerita menjadi menarik ketika Ha Eun-gyeol, seorang remaja yang tumbuh dalam keluarga tuli, tiba-tiba kembali ke tahun 1995. Di sana, ia justru bertemu dengan ayahnya ketika masih muda. Yang membuatnya terkejut, ayahnya yang selama ini dikenal sangat membenci musik ternyata pada masa mudanya justru bisa mendengar, berbicara dengan lancar, bahkan sangat menyukai musik.
Dari sini, perjalanan Eun-gyeol bukan hanya tentang kembali ke masa lalu. Ia juga mulai mengenal orang tuanya sebagai manusia biasa yang pernah menjadi remaja, memiliki impian, menyukai sesuatu, jatuh cinta, dan menghadapi masalah mereka sendiri.
Sinopsis
Ha Eun-gyeol adalah seorang remaja yang tumbuh sebagai satu-satunya anggota keluarga yang dapat mendengar. Sebagai seorang CODA (Child of Deaf Adults), ia terbiasa membantu keluarganya berkomunikasi dengan orang lain. Eun-gyeol juga dikenal sebagai anak yang berprestasi, bertanggung jawab, serta berusaha memenuhi harapan orang tuanya.
Namun, Eun-gyeol memiliki sisi lain yang tidak diketahui oleh keluarganya. Ia sangat menyukai musik dan memiliki kemampuan bermain gitar. Kecintaannya terhadap musik tersebut tidak mendapat dukungan dari ayahnya. Sang ayah justru sangat menentang keinginannya untuk bermusik dan menginginkan Eun-gyeol lebih berfokus pada pendidikan. Bagi Eun-gyeol, sikap tersebut terasa cukup membingungkan karena musik merupakan sesuatu yang sangat ia sukai.
Suatu hari, setelah mengalami masalah dengan ayahnya karena kecintaannya terhadap musik, Eun-gyeol menemukan sebuah toko musik misterius. Dari tempat tersebut, ia tiba-tiba melakukan perjalanan waktu ke tahun 1995. Di sana, ia bertemu dengan ayahnya, Ha Yi Chan, ketika masih remaja. Pertemuan tersebut membuatnya terkejut karena ayahnya pada saat itu dapat mendengar dan berbicara dengan lancar. Tidak hanya itu, ayahnya yang ia kenal sangat membenci musik di masa depan ternyata merupakan seorang remaja yang sangat menyukai musik dan bahkan bergabung dengan sebuah band.
Melihat perbedaan tersebut, Eun-gyeol mulai penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi pada ayahnya sampai akhirnya ia menjadi orang yang sangat berbeda di masa depan?
Eun-gyeol kemudian berusaha mencari tahu alasan yang membuat ayahnya berubah dan bagaimana kehidupan ayahnya di masa muda. Dalam prosesnya, Eun-gyeol juga bertemu dengan ibunya ketika masih remaja serta orang-orang lain yang memiliki peran penting dalam kehidupan kedua orang tuanya.
Bersama teman-teman yang ditemuinya di masa lalu, Eun-gyeol kemudian terlibat dalam kehidupan sebuah band dan berbagai peristiwa yang terjadi pada masa tersebut. Perjalanannya di tahun 1995 perlahan membuatnya memahami bahwa kehidupan orang tuanya jauh lebih kompleks daripada yang selama ini ia ketahui. Pada saat yang sama, ia juga mulai memahami dirinya sendiri, keinginannya, serta hubungan yang selama ini ia miliki dengan keluarganya.
Analisis
Hal yang paling menarik bagi saya dari Twinkling Watermelon justru bukan sekadar perjalanan waktunya, melainkan alasan mengapa Eun-gyeol harus kembali ke masa lalu.
Selama ini, Eun-gyeol hanya mengenal ayahnya sebagai sosok yang keras dan tidak menyukai musik. Karena itu, ketika ia bertemu dengan ayahnya saat masih remaja, ia seperti melihat orang yang sama sekali berbeda. Ayahnya ternyata bisa mendengar, sangat menyukai musik, bergabung dengan band, dan memiliki semangat besar untuk mengejar sesuatu yang disukainya.
Perbedaan ini membuat saya semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Yi-Chan. Bukan hanya Eun-gyeol yang ingin mencari tahu jawabannya, tetapi penonton juga dibuat terus bertanya-tanya mengenai kejadian yang akan menghubungkan kehidupan Yi-chan di masa lalu dengan sosoknya di masa depan.
Menurut saya, perjalanan waktu dalam drama ini juga digunakan dengan cukup menarik. Eun-gyeol tidak sekadar kembali ke masa lalu untuk mengubah sesuatu, tetapi justru mendapatkan kesempatan untuk mengenal orang tuanya sebelum mereka menjadi orang tua. Ada perasaan yang berbeda ketika seseorang melihat orang yang selama ini dikenal sebagai ayah atau ibu ternyata pernah menjadi remaja yang memiliki impian, masalah, perasaan, dan pilihan hidupnya sendiri. Hal inilah yang membuat hubungan Eun-gyeol dengan orang tuanya terasa lebih dalam.
Konflik Eun-gyeol dengan ayahnya juga sebenarnya bukan hanya tentang musik. Di balik perbedaan pendapat tersebut terdapat dua orang yang sama-sama merasa sedang melakukan hal yang benar. Eun-gyeol merasa ayahnya tidak memahami keinginannya, sementara sang ayah memiliki alasan sendiri untuk menentukan apa yang menurutnya terbaik bagi anaknya.
Setelah mengetahui kehidupan ayahnya di masa lalu, Eun-gyeol mulai melihat sikap ayahnya dengan cara yang berbeda. Ia perlahan memahami bahwa ada pengalaman dalam kehidupan orang tuanya yang selama ini tidak pernah ia ketahui.
Perjalanan Eun-gyeol juga membuat perkembangan karakternya terasa cukup jelas. Sejak awal, ia terbiasa mengutamakan keluarganya. Sebagai satu-satunya anggota keluarga yang dapat mendengar, ia merasa memiliki tanggung jawab besar untuk membantu keluarganya. Ia berusaha menjadi anak yang bisa diandalkan sampai terkadang lupa memikirkan dirinya sendiri. Menurut saya, bagian ini cukup relatable. Ada kalanya seseorang terlalu sibuk memenuhi harapan orang lain sampai lupa bertanya kepada diri sendiri mengenai apa yang sebenarnya ia inginkan. Perjalanan Eun-gyeol akhirnya membuatnya belajar bahwa menyayangi keluarga tidak selalu berarti harus mengorbankan keinginannya sendiri.
Selain hubungan keluarga, kehidupan Eun-gyeol di tahun 1995 juga menjadi bagian yang membuat drama ini terasa menyenangkan untuk diikuti. Suasananya berbeda dengan kehidupan Eun-gyeol di masa depan. Interaksi para tokoh yang masih remaja membuat banyak adegan terasa ringan dan lucu, terutama ketika Eun-gyeol harus menghadapi ayahnya sendiri yang tidak mengetahui bahwa orang di depannya sebenarnya adalah anaknya di masa depan.
Bagian ini juga membuat hubungan antartokohnya terasa menarik. Eun-gyeol memang berada di masa lalu bersama orang tuanya, tetapi pada saat itu mereka semua berada di usia yang hampir sama. Meski begitu, pada beberapa adegan tetap terasa chemistry seperti hubungan seorang anak dengan ayah atau ibunya. Bagi saya, hal tersebut menjadi salah satu bagian yang menarik karena perasaan bahwa Eun-gyeol sedang melihat orang tuanya dari sisi yang selama ini tidak pernah ia kenal.
Pada akhirnya, Twinkling Watermelon bukan hanya cerita tentang seorang anak yang kembali ke masa lalu untuk mengetahui apa yang terjadi pada ayahnya. Perjalanan tersebut justru membuat Eun-gyeol lebih memahami keluarganya sekaligus dirinya sendiri.
Kelebihan
Hal pertama yang menurut saya menjadi daya tarik Twinkling Watermelon adalah konsep ceritanya. Perjalanan waktu sebenarnya bukan konsep yang benar-benar baru, tetapi drama ini memberikan alasan yang cukup menarik untuk membawa tokoh utamanya kembali ke masa lalu. Eun-gyeol tidak hanya bertemu dengan orang-orang dari masa lalu, tetapi justru bertemu dengan kedua orang tuanya ketika mereka masih remaja.
Saya juga suka dengan perpaduan antara kehidupan Eun-gyeol sebagai anak dari keluarga tuli dengan kecintaannya terhadap musik. Dua hal tersebut terasa seperti bagian yang bertolak belakang, tetapi justru menjadi salah satu dasar cerita yang membuat saya penasaran.
Kelebihan lainnya adalah suasana cerita di masa lalu. Banyak adegan komedi yang muncul dari interaksi para tokoh, sehingga ceritanya terasa ringan. Tingkah laku mereka ketika masih remaja juga membuat suasana tahun 1995 terasa hidup dan menyenangkan.
Menurut saya, perpaduan genre dalam drama ini juga cukup berhasil. Ada fantasi, romance, komedi, persahabatan, dan drama keluarga. Meskipun terdapat unsur romance, bagian tersebut tidak sampai mengambil alih cerita. Hubungan keluarga, persahabatan, dan perjuangan para tokoh untuk mengejar impian tetap mendapatkan porsi yang besar. Selain menghibur, drama ini juga memberikan cukup banyak hal untuk direnungkan. Salah satunya adalah cara kita melihat orang tua. Kadang-kadang kita hanya mengenal mereka sebagai ayah dan ibu tanpa mengetahui seperti apa kehidupan mereka sebelum menjadi orang tua. Melalui perjalanan Eun-gyeol, penonton diajak melihat bahwa orang tua juga pernah menjadi anak muda yang memiliki impian dan menghadapi berbagai masalah.
Hal lain yang saya suka adalah chemistry antarpemainnya. Interaksi para tokoh terasa hidup, terutama ketika mereka berada di masa lalu. Walaupun Eun-gyeol dan kedua orang tuanya berada pada usia yang sama ketika bertemu, pada beberapa adegan tetap terasa chemistry antara anak dengan ayah atau ibunya. Menurut saya, hal tersebut membuat hubungan mereka terasa lebih emosional.
Kekurangan
Meskipun secara keseluruhan saya menikmati ceritanya, ada beberapa bagian dari Twinkling Watermelon yang menurut saya masih terasa kurang. Salah satunya adalah penyelesaian cerita yang terkesan terburu-buru. Setelah berbagai konflik dibangun sepanjang drama, beberapa bagian menjelang akhir terasa seperti diselesaikan dalam waktu yang singkat. Akibatnya, ada beberapa cerita dan perkembangan karakter yang sebenarnya menarik untuk dibahas lebih jauh.
Saya juga merasa perjuangan Ha Yi-chan setelah mengalami perubahan besar dalam hidupnya kurang mendapatkan porsi yang cukup. Perubahan tersebut merupakan bagian penting dalam cerita dan menjadi salah satu alasan Eun-gyeol ingin memahami masa lalu ayahnya. Namun, proses yang dilalui Yi-chan setelah mengalami kejadian tersebut tidak terlalu banyak diperlihatkan. Menurut saya, kalau bagian ini mendapat lebih banyak waktu, perjalanan karakter Yi-chan akan terasa lebih lengkap.
Terakhir, menurut saya 16 episode masih terasa cukup singkat untuk cerita dengan karakter dan konflik sebanyak ini. Twinkling Watermelon membawa banyak hal sekaligus, mulai dari keluarga, persahabatan, romansa, perjalanan waktu, hingga impian masing-masing karakter. Karena itu, saya merasa beberapa bagian akan lebih baik jika mendapatkan tambahan waktu untuk dikembangkan. Bahkan, beberapa cerita sampingan atau kehidupan para karakter setelah peristiwa utama rasanya masih menarik untuk dilihat.
Jadi, kekurangan utama drama ini bukan karena ceritanya tidak menarik, tetapi justru karena ada beberapa bagian yang menurut saya masih bisa dikembangkan lebih jauh. Setelah mengikuti perjalanan para karakternya dari awal, ada rasa ingin tahu terhadap kehidupan mereka yang belum sepenuhnya terjawab.
Kesimpulan
Bagi saya, Twinkling Watermelon bukan hanya drama tentang perjalanan waktu. Justru bagian yang paling berkesan adalah bagaimana perjalanan tersebut membuat Eun-gyeol melihat orang tuanya dengan cara yang berbeda.
Awalnya, ia hanya ingin mengetahui mengapa ayahnya yang dulu sangat menyukai musik akhirnya menjadi seseorang yang begitu membencinya. Namun, semakin jauh ia mengenal kehidupan orang tuanya di masa lalu, semakin banyak hal yang ia pahami tentang keluarganya dan dirinya sendiri.
Saya juga menikmati bagaimana drama ini bisa berpindah dari adegan yang emosional ke adegan lucu tanpa terasa terlalu berat. Hubungan keluarga, persahabatan, impian, dan romansa juga dapat berjalan bersamaan tanpa membuat salah satunya terasa benar-benar menghilang.
Dengan demikian, menurut saya, Twinkling Watermelon adalah cerita tentang belajar mengenal orang yang kita sayangi, termasuk ketika orang tersebut ternyata menyimpan kehidupan yang tidak pernah kita ketahui. Perjalanan Eun-gyeol ke masa lalu pada akhirnya bukan hanya membantunya memahami ayah dan ibunya, tetapi juga membantunya memahami dirinya sendiri dan menentukan jalan yang ingin ia pilih.
