China Memperkuat Sektor Keuangan, Akankah Mendorong Pertumbuhan Ekonomi?

Mahasiswa Manajemen S1 Universitas Pamulang
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Salsa Virliyana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Keyla Al Zahira, Nadia, dan Salsa Virliyana
Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang
6 Oktober 2026 | Waktu baca ±7 menit
China kembali menjadi perhatian ketika membicarakan kondisi perekonomian dunia. Negara ini memiliki peran besar dalam perdagangan internasional dan juga menjadi salah satu mitra ekonomi penting bagi Indonesia. Hubungan tersebut bisa dilihat dari aktivitas perdagangan kedua negara. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang 2025 nilai ekspor Indonesia ke Tiongkok mencapai sekitar US$67,04 miliar, sedangkan impor dari Tiongkok mencapai sekitar US$87,54 miliar. Artinya, hubungan ekonomi Indonesia dengan China bukan sesuatu yang kecil dan perubahan kondisi ekonomi China juga bisa ikut memberikan dampak bagi Indonesia.
Di sisi lain, perekonomian China sendiri sedang menghadapi sejumlah tantangan. International Monetary Fund (IMF) mencatat bahwa ekonomi China tumbuh 5 persen pada 2025, tetapi pertumbuhan tersebut masih dibayangi lemahnya permintaan domestik dan tekanan deflasi. IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi China pada 2026 akan melambat menjadi sekitar 4,5 persen.
Situasi tersebut membuat pemerintah China perlu mencari cara agar kegiatan ekonomi tetap bergerak. Salah satu bagian yang mendapat perhatian adalah sektor keuangan. Bank dan lembaga keuangan diharapkan tetap mampu memberikan pembiayaan kepada dunia usaha sehingga perusahaan masih memiliki ruang untuk berinvestasi dan menjalankan kegiatan produksinya.
Mengapa China Memperkuat Sektor Keuangan?
Kalau dibayangkan secara sederhana, kegiatan ekonomi membutuhkan uang untuk terus berputar. Sebuah perusahaan yang ingin membeli mesin baru, membangun pabrik, atau memperluas usahanya membutuhkan modal. Tidak semua perusahaan memiliki dana yang cukup dari kas sendiri. Di sinilah bank memiliki peran melalui penyaluran kredit.
Ketika bank mampu memberikan kredit kepada perusahaan, perusahaan tersebut mempunyai kesempatan untuk melakukan investasi. Investasi kemudian dapat meningkatkan produksi dan membutuhkan tenaga kerja. Dari sisi masyarakat, pendapatan yang diterima pekerja dapat kembali digunakan untuk membeli barang dan jasa.
Rangkaian seperti ini menunjukkan bahwa sektor keuangan memiliki hubungan yang cukup dekat dengan pertumbuhan ekonomi. Karena itu, kondisi bank menjadi penting ketika pemerintah ingin menjaga perekonomian agar tetap berjalan.
Penelitian Zhang dan Zhang (2022) mengenai bank credit channel di China menunjukkan bahwa kebijakan moneter dapat memengaruhi kemampuan bank dalam memberikan pinjaman, yang kemudian berpengaruh terhadap investasi dan output ekonomi. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa cara kredit dialokasikan antar sektor ikut menentukan dampaknya terhadap pertumbuhan.
Dengan kata lain, memperkuat sektor keuangan bukan hanya soal membuat bank memiliki modal yang lebih kuat. Ada tujuan yang lebih besar, yaitu memastikan sistem keuangan tetap mampu menjadi penghubung antara dana dan kegiatan ekonomi.
Apa yang Sedang Diperkuat?
China berusaha memperkuat sistem keuangannya sekaligus menjaga agar risiko yang ada tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar. IMF dalam penilaian sektor keuangannya menyebutkan bahwa China telah membuat kemajuan dalam pengawasan dan regulasi keuangan. Namun, masih terdapat kerentanan yang perlu diperhatikan, terutama dari sektor properti dan lembaga pembiayaan pemerintah daerah atau local government financing vehicles (LGFV).
Penguatan perbankan juga menjadi perhatian. Dalam laporan IMF 2026 disebutkan bahwa empat bank milik negara menerima suntikan modal pada 2025. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat neraca bank dan meningkatkan kemampuan mereka dalam menyalurkan kredit.
Dari sini terlihat bahwa pemerintah tidak hanya ingin menjaga bank agar tetap aman, tetapi juga ingin memastikan bank tetap bisa menjalankan fungsinya ketika dunia usaha membutuhkan pembiayaan.
Kredit Bisa Membantu, Tapi Tidak Bisa Bekerja Sendiri
Di sinilah persoalannya menjadi lebih menarik. Apakah ketika bank diperkuat dan kredit semakin mudah diberikan, ekonomi China otomatis akan kembali tumbuh lebih cepat?
Jawabannya tentu tidak sesederhana itu.
Bayangkan sebuah perusahaan mendapatkan pinjaman untuk menambah kapasitas produksi. Kalau permintaan masyarakat sedang tinggi, keputusan tersebut bisa memberikan hasil yang baik. Produksi meningkat, pekerja dibutuhkan, pendapatan naik, dan kegiatan ekonomi ikut bergerak.
Namun, kalau masyarakat justru sedang mengurangi belanja, perusahaan bisa kesulitan menjual produk yang sudah diproduksi. Artinya, tambahan kredit saja belum tentu menghasilkan pertumbuhan yang besar.
IMF juga mencatat bahwa permintaan domestik swasta China masih lemah. Kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa China perlu mendorong pertumbuhan yang lebih banyak berasal dari konsumsi masyarakat, bukan hanya dari investasi dan ekspor.
Jadi, tantangan China bukan hanya bagaimana membuat kredit tetap mengalir, tetapi juga bagaimana membuat dana tersebut benar-benar menghasilkan aktivitas ekonomi.
Sektor Properti Masih Menjadi Perhatian
Ada alasan lain mengapa penguatan sektor keuangan harus dilakukan dengan hati-hati, yaitu masalah properti.
Sektor properti memiliki hubungan dengan banyak kegiatan ekonomi. Ketika pembangunan rumah dan gedung meningkat, berbagai sektor ikut mendapatkan pekerjaan, mulai dari konstruksi, bahan bangunan, transportasi, hingga jasa keuangan.
Namun, ketika sektor properti mengalami tekanan, masalahnya juga dapat menyebar ke sektor lain. Perusahaan properti dapat mengalami kesulitan keuangan, sementara bank harus menghadapi risiko dari pinjaman yang berkaitan dengan sektor tersebut.
IMF menilai bahwa penurunan sektor properti dan tingginya tekanan pada LGFV masih menjadi kerentanan utama dalam sistem keuangan China. Risiko tersebut perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi kualitas aset perbankan.
Karena itu, pemerintah China menghadapi situasi yang cukup rumit. Di satu sisi, kredit dibutuhkan untuk membantu perekonomian. Di sisi lain, kredit yang terlalu longgar dapat meningkatkan risiko apabila disalurkan ke sektor yang sedang bermasalah.
Bagaimana Dampaknya bagi Indonesia?
Kalau ekonomi China mengalami perubahan, Indonesia juga punya alasan untuk memperhatikannya. Hubungan perdagangan kedua negara cukup besar.
Data BPS menunjukkan bahwa pada 2025 Tiongkok menjadi salah satu tujuan utama ekspor Indonesia dengan nilai sekitar US$67,04 miliar. Pada saat yang sama, nilai impor Indonesia dari Tiongkok mencapai sekitar US$87,54 miliar.
Produk yang diperdagangkan juga beragam. BPS mencatat ekspor Indonesia ke Tiongkok banyak berasal dari komoditas seperti besi dan baja, bahan bakar mineral, serta produk nikel. Sementara itu, impor dari Tiongkok banyak berupa mesin dan peralatan mekanis, mesin dan perlengkapan elektrik, serta kendaraan dan bagiannya.
Artinya, kondisi ekonomi China dapat memiliki pengaruh terhadap kegiatan perdagangan Indonesia. Kalau aktivitas industri China meningkat, kebutuhan terhadap bahan baku dan komoditas dari negara lain juga dapat ikut meningkat. Sebaliknya, jika pertumbuhan China melemah, permintaan terhadap sejumlah produk ekspor Indonesia bisa ikut terkena dampaknya.
Hal ini membuat kebijakan China dalam menjaga pertumbuhan ekonomi menjadi sesuatu yang juga layak diperhatikan dari sisi Indonesia.
Jangan Sampai Penguatan Keuangan Justru Menambah Utang
Ada satu hal yang tidak kalah penting. Mendorong pertumbuhan melalui pembiayaan memang bisa membantu dalam jangka pendek, tetapi jika tidak dikelola dengan baik, utang bisa menjadi masalah baru.
IMF mencatat bahwa China masih menghadapi tekanan utang, termasuk yang berkaitan dengan pemerintah daerah dan perusahaan. Karena itu, penguatan sektor keuangan perlu dilakukan bersamaan dengan upaya mengendalikan risiko dan memperbaiki kualitas pembiayaan.
Kredit seharusnya tidak hanya dilihat dari jumlahnya. Yang lebih penting adalah apakah kredit tersebut digunakan untuk kegiatan yang menghasilkan nilai ekonomi.
Misalnya, pembiayaan yang digunakan untuk mengembangkan teknologi, meningkatkan kapasitas produksi, atau membuka kegiatan usaha baru memiliki peluang memberikan dampak yang lebih luas. Sebaliknya, jika pembiayaan hanya digunakan untuk menutup masalah lama tanpa memperbaiki kondisi usaha, dampaknya terhadap pertumbuhan bisa lebih terbatas.
Lalu, Akankah Sektor Keuangan Mendorong Pertumbuhan China?
Penguatan sektor keuangan memang dapat membantu China menjaga aktivitas ekonominya. Bank yang memiliki kondisi lebih kuat dapat memberikan ruang bagi dunia usaha untuk memperoleh pembiayaan. Perusahaan pun memiliki kesempatan untuk tetap berinvestasi dan mempertahankan kegiatan produksi.
Namun, penguatan sektor keuangan bukanlah satu-satunya jawaban.
China masih perlu menghadapi persoalan permintaan domestik, sektor properti, utang, serta perubahan kondisi perdagangan global. IMF bahkan menilai bahwa China perlu bergerak menuju model pertumbuhan yang lebih didorong oleh konsumsi masyarakat.
Kalau masyarakat mulai lebih yakin terhadap kondisi ekonomi, konsumsi dapat meningkat. Ketika permintaan naik, perusahaan memiliki alasan untuk meningkatkan produksi. Pada akhirnya, kebutuhan tenaga kerja juga bisa bertambah.
Jadi, hubungan antara sektor keuangan dan pertumbuhan ekonomi sebenarnya seperti sebuah rantai. Bank menyediakan pembiayaan, perusahaan menggunakan dana untuk melakukan kegiatan ekonomi, pekerja mendapatkan pendapatan, lalu masyarakat menggunakan pendapatan tersebut untuk membeli barang dan jasa.
Kalau rantai tersebut berjalan dengan baik, penguatan sektor keuangan dapat memberikan dorongan yang lebih nyata terhadap pertumbuhan.
Bukan Sekadar Membuat Bank Lebih Kuat
Pada akhirnya, pertanyaan mengenai apakah penguatan sektor keuangan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi China tidak bisa dijawab hanya dengan melihat seberapa besar modal yang dimiliki bank.
Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah dana tersebut disalurkan.
Apakah perusahaan menggunakannya untuk melakukan investasi? Apakah produksi meningkat? Apakah lapangan kerja bertambah? Apakah masyarakat kembali percaya diri untuk berbelanja? Dan yang tidak kalah penting, apakah risiko utang tetap bisa dikendalikan?
Jika jawabannya mengarah pada kondisi yang positif, penguatan sektor keuangan bisa menjadi salah satu penopang pertumbuhan China.
Namun, jika kredit hanya bertambah tanpa diikuti peningkatan permintaan dan produktivitas, dampaknya mungkin tidak sebesar yang diharapkan. Karena itu, China tidak cukup hanya memperkuat bank. Negara tersebut juga perlu memperkuat sisi lain perekonomiannya.
Bagi Indonesia, perkembangan tersebut juga penting untuk diperhatikan. Besarnya hubungan perdagangan dengan China membuat perubahan ekonomi di negara tersebut dapat ikut memengaruhi aktivitas perdagangan Indonesia.
Pada akhirnya, keberhasilan kebijakan China akan sangat bergantung pada bagaimana sektor keuangan digunakan untuk mendukung kegiatan ekonomi yang produktif. Bukan sekadar berapa banyak uang yang beredar, tetapi seberapa jauh uang tersebut benar-benar mampu menggerakkan perekonomian.
