Konten dari Pengguna

Benarkah Semua Bakteri Itu Jahat?

Salsabiil Firdaus

Salsabiil Firdaus

Journalist - Opinion Columnist - Politician - Young Political Ambassador of the Prosperous Justice Party

·waktu baca 6 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Salsabiil Firdaus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar: Ilustrasi Bakteri (Sumber: Dokumentasi Penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar: Ilustrasi Bakteri (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Apa yang biasanya muncul di kepala kita ketika mendengar kata “bakteri”? Sebagian dari kita mungkin langsung membayangkan sebagai suatu makhluk tak kasat mata yang siap menyerang tubuh, membawa penyakit, dan harus dibasmi secepat mungkin dengan sabun antibakteri. Yap, hal itu sangat wajar, karena sejak kecil kita dibesarkan dengan persepsi seperti “jangan pegang itu nanti ada bakterinya!” atau “cuci tangan biar bakterinya hilang!”. Akhirnya, tanpa sadar kita memelihara anggapan bahwa bakteri adalah musuh utama manusia.

Namun, apakah benar semua bakteri itu jahat? Atau justru selama ini kita hanya mengenal satu sisi dari dunia mikroba yang sebenarnya jauh lebih kompleks? Faktanya, sebagian besar bakteri itu bukanlah musuh, bahkan banyak yang menjadi “pahlawan tanpa tanda jasa” di dalam tubuh dan kehidupan sehari-hari kita. Anggaplah mereka seperti pemain latar yang jarang kita sadari kehadirannya, padahal merekalah yang membuat “pertunjukan kehidupan” bisa berjalan lancar sesuai dengan semestinya.

Secara ilmiah, bakteri merupakan kelompok mikroorganisme yang sangat beragam. Menurut berbagai perkiraan mikrobiologi global, jumlah spesies bakteri yang ada di bumi bisa mencapai jutaan hingga miliaran, dan hanya sebagian saja yang pernah berhasil diidentifikasi jenisnya. Dari jumlah spesies bakteri yang sudah berhasil diidentifikasi, hanya sekitar beberapa persen saja yang diketahui bersifat patogen bagi manusia.

Analisis mikrobiologi tahun 2022 juga menunjukkan bahwa ada sekitar 500-an spesies bakteri yang dapat menyebabkan penyakit dalam tubuh manusia. Angka ini merupakan jumlah yang sangat kecil jika memang dibandingkan keberagaman bakteri di alam. Dari fakta tersebut kita dapat mengetahui bahwa sebagian besar bakteri lainnya adalah bakteri yang netral atau malah justru bermanfaat. Fakta ini saja sebenarnya sudah cukup untuk menggoyangkan mitos bahwa bakteri selalu jahat dan menganggu.

Salah satu bagian paling menakjubkan dari hubungan kita dengan bakteri adalah keberadaan mikrobioma, yaitu komunitas bakteri yang hidup di tubuh kita. Dalam tubuh manusia, jumlah sel bakteri diperkirakan hampir sebanding dengan jumlah sel manusia itu sendiri. Sebuah studi yang diterbitkan dalam PLOS Biology tahun 2016 menunjukkan bahwasanya di tubuh manusia mengandung sekitar 38–39 triliun sel bakteri, sementara sel tubuh manusia berjumlah sekitar 30 triliun. Wow, berarti bisa dibilang kita sebenarnya setengah manusia setengah bakteri dong?

Nah, dari triliunan spesies bakteri itu, kira-kira berapa sih bakteri yang benar-benar berbahaya? Menurut tinjauan di Nature Reviews Microbiology dan laporan Effective Health Care Program (AHRQ) tahun 2011, bahwa jumlah spesies bakteri patogen yang dapat menyebabkan penyakit hanyalah kurang dari 1% dari seluruh spesies bakteri yang diketahui. Lalu bagaimana dengan bakteri lainnya? Yap, sisanya adalah bakteri yang netral, atau bahkan sangat menguntungkan bagi tubuh manusia.

Mungkin, salah satu jenis bakteri yang seringkali kita dengar adalah bakteri yang ada di dalam sistem pencernaan kita, seperti Lactobacillus dan Bifidobacterium yang membantu memecah makanan, memproduksi vitamin (misalnya vitamin K dan beberapa vitamin B), dan juga dapat memperkuat sistem imun tubuh kita. Riset John F. Cryan tahun 2018 juga menunjukkan bahwa komposisi bakteri usus bisa memengaruhi kesehatan mental, metabolisme tubuh, hingga risiko penyakit kronis. Jadi, kalau selama ini kita mengira bakteri hanyalah membuat sakit perut saja, pada kenyataannya justru mereka yang memastikan pencernaan bekerja sebagaimana mestinya.

Tidak hanya di tubuh manusia, bakteri juga punya peran besar di lingkungan. Dalam ekosistem, bakteri berfungsi sebagai pengurai yang membantu mengembalikan unsur hara ke dalam tanah. Mereka memecah sisa-sisa organisme mati sehingga nutrisi penting dapat digunakan kembali oleh makhluk hidup lainnya. Selain itu, jenis spesies bakteri tanah seperti Nitrosomonas dan Nitrobacter juga berperan dalam proses nitrifikasi, yaitu mengubah amonia menjadi nitrit lalu menjadi nitrat yang mudah diserap akar tanaman dengan baik.

Di dunia industri, bakteri juga dimanfaatkan untuk membuat keju, yoghurt, cuka, hingga dapat membantu proses bioremediasi untuk membersihkan limbah minyak. Berkat kemampuan metaboliknya yang unik, bakteri dapat mengubah bahan mentah menjadi produk bernilai tinggi melalui proses fermentasi yang sudah digunakan manusia sejak ribuan tahun lalu. Proses ini tidak hanya meningkatkan rasa dan daya simpan makanan saja, tetapi juga menjadi dasar dari berbagai inovasi industri modern, seperti produksi enzim, bioetanol, hingga bahan baku ramah lingkungan.

Para ilmuwan bahkan sedang mengeksplorasi kemampuan bakteri tertentu untuk bisa memakan plastik, seperti Ideonella sakaiensis, yang ditemukan tahun 2016 dan mampu mendegradasi PET, jenis plastik yang paling banyak kita gunakan, sehingga membuka peluang solusi baru terhadap masalah sampah plastik yang semakin mengkhawatirkan. Penemuan ini dianggap sebagai terobosan penting karena jenis bakteri tersebut menghasilkan enzim khusus yang dapat memecah struktur kimia PET menjadi komponen yang lebih sederhana.

Keren sekali bukan? Lalu, kalau begitu, kenapa persepsi bahwa bakteri itu jahat masih bertahan begitu kuat? Alasan yang pertama, manusia cenderung mengingat hal-hal yang menimbulkan ancaman. Secara psikologis, kita lebih mudah takut pada hal-hal tak kasat mata. Bakteri, virus, atau mikroorganisme lain terdengar mengancam karena kita tidak bisa melihatnya. Alhasil, kita menyamaratakan semua jenis mikroorganisme sebagai bahaya ataupun ancaman bagi kita.

Kedua, media dan iklan juga berperan membentuk persepsi negatif. Kita mungkin juga sering mendengar produk-produk pembersih, seperti sabun mandi atau lainnya sering memakai narasi “membunuh 99% kuman dan bakteri” yang seolah semua bakteri harus dihapus dari permukaan apa pun. Padahal, banyak studi dan juga teori seperti hygiene hypothesis yang menunjukkan bahwa lingkungan yang terlalu steril justru dapat melemahkan sistem imun, terutama pada anak-anak.

Lalu yang terakhir, sistem pendidikan kita tentang mikroorganisme sering kali disederhanakan secara ekstrem. Di sekolah, sejak kecil kita diajari bahwa bakteri menyebabkan penyakit seperti TBC, diare, atau infeksi kulit. Namun, kita jarang diberi penjelasan tentang bakteri baik yang bekerja untuk kita. Padahal, ada berbagai jutaan spesies bakteri yang justru membantu menjaga keseimbangan tubuh, mendukung kesehatan lingkungan, hingga menunjang industri pangan dan energi. Simplifikasi ini memang memudahkan dalam pengajaran, tetapi juga meninggalkan persepsi yang keliru.

Jadi, apakah kita harus 100% bebas dari bakteri? Tentu saja tidak, karena yang perlu kita hindari adalah bakteri patogen saja, bukan seluruh bakteri. Justru jika semua bakteri ini dibasmi, maka tubuh kita akan kehilangan sistem biologis yang sangat penting. Tubuh kita bergantung pada keseimbangan mikrobioma ini untuk menjaga pencernaan, kekebalan, dan fungsi tubuh secara keseluruhan. Artinya, masalah kesehatan tidak hanya muncul dari bakteri jahat, tetapi juga dari pola hidup kita yang tidak baik sehingga menjadi penyebab ketidakseimbangan bakteri yang seharusnya menjadi sekutu kita.

Referensi:

1. Vos, Michiel. (2022). How Many Bacterial Pathogens are There? Microbiology Society.

2. Sender R., Fuchs S., Milo R. (2016). Revised Estimates for the Number of Human and Bacteria Cells in the Body. PLoS Biol, 14(8). https://doi.org/10.1371/journal.pbio.1002533

3. Whitman et al. (2011). Microbiology by Numbers. Nature Reviews Microbiology: AHRQ Effective Health Care Program (Dept. of Health), 9(9). https://doi.org/10.1038/nrmicro2644

4. Cryan, John F. et al. (2018). The Microbiota-Gut-Brain Axis. Journal of Physiological Reviews, 99(4). https://doi.org/10.1152/physrev.00018.2018

5. Yoshida, S. et al. (2016). A Bacterium that Degrades and Assimilates Poly (Ethylene Terephthalate). The Journal of Science: The National Library of Medicine, 351(6278). https://doi.org/10.1126/science.aad6359

6. Strachan, D. P. (1989). Hay Fever, Hygiene, and Household Size. BMJ: National Library of Medicine, 299(6710). https://doi.org/10.1136/bmj.299.6710.1259