Pewaris Juga Perintis

Duta Muda Politik Partai Keadilan Sejahtera
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Salsabiil Firdaus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika pertama kali melihat tagline yang diusung oleh Garuda Keadilan, sayap kepemudaan Partai Keadilan Sejahtera, saya merasa ada sebuah resonansi kuat yang langsung terasa. Kalimatnya yang ringkas namun mendalam seolah memantik rasa penasaran untuk memahami lebih jauh konsep tersebut, hingga akhirnya mendorong lahirnya coretan opini ini. Gagasan ini bukan sekadar urusan kepentingan partai, melainkan sebuah jawaban atas beban sejarah yang kerap kali terasa sunyi dan tidak ringan bagi generasi yang biasa disebut sebagai “anak kader”.
Di ruang-ruang diskusi yang hangat, di meja makan keluarga, hingga di dalam lingkaran-lingkaran liqo’, fenomena sosiologis ini memang sangat akrab dijumpai. “Anak kader” adalah generasi yang bahkan sejak dalam kandungan, secara sadar atau tidak telah diproyeksikan untuk menjadi penerus ideologi, penjaga api perjuangan, dan pelanjut jejak langkah abi serta umi mereka. Mereka tumbuh dengan aroma buku-buku pergerakan, dibesarkan dalam ritme aktivitas dakwah politik orang tua, dan dikepung ekspektasi tinggi untuk melanjutkan estafeta dakwah yang terus berlanjut.
Namun, jika kita mau jujur dan melihat lebih dekat ke dalam ruang psikologis mereka, di balik seragam idealisme yang dikenakan sejak dini, seringkali muncul sebuah dilema eksistensial yang tajam. Ada pertanyaan-pertanyaan mendasar yang sering kali hanya berani dibisikkan dalam hati mereka. Apakah menjadi seorang pewaris berarti harus merelakan diri hidup selamanya di bawah bayang-bayang raksasa kebesaran orang tua? Apakah menjadi pelanjut ideologis secara otomatis menutup hak dan ruang bagi mereka untuk menjadi perintis zamannya sendiri? Mengapa menjadi anak kader seolah-olah harus memikul takdir untuk menjadi replika masa lalu?
Dilema ini tentu bukanlah kecemasan yang mengada-ada. Dalam dinamika internal organisasi atau gerakan, secara bawah sadar seringkali muncul kecenderungan untuk mendidik generasi muda ini menjadi “generasi fotokopi”, yang mana ini adalah sebuah kondisi di mana anak kader diharapkan meniru persis format gerakan, adopsi gaya bahasa, bahkan metodologi pendekatan yang digunakan oleh generasi pendahulu mereka. Ketika ruang dialektika ini disempitkan oleh doktrin kaku yang menganggap bahwa cara masa lalu adalah satu-satunya cara terbaik, di situlah bom waktu stagnasi sedang ditanam.
Risiko dari pemaksaan takdir ideologis ini sangat nyata. Generasi fotokopi ini pada akhirnya rentan menjadi gagap dan terasing ketika dihadapkan pada realitas disrupsi zaman yang bergerak secara eksponensial. Lanskap hari ini tidak lagi sama dengan dekade lalu. Kita sedang hidup di era yang dimana Artifical Intelligence (AI) ini mendefinisikan ulang cara kerja manusia, ekonomi digital mengubah struktur sosial, dan generasi muda, khususnya Gen Z dan Alpha memiliki bahasa politik yang jauh lebih cair, visual, dan kritis. Menuntut anak kader bergerak dengan formula lama di tengah ekosistem modern saat ini sama saja dengan mengirim pasukan ke medan perang modern bersenjatakan tombak kayu. Mereka mungkin menang dalam hal loyalitasnya, tetapi mereka akan kalah dalam hal relevansi.
Untuk menjembatani jurang pemisah antargenerasi inilah, gagasan “Pewaris juga Perintis” yang ditawarkan oleh Garuda Keadilan ini menjadi sebuah sintesis yang kuat. Konsep ini tidak boleh berhenti sebagai jargon dan tagline semata. Gagasan ini harus diletakkan sebagai sebuah resolusi eksistensial, sebuah jalan keluar bagi anak kader untuk menemukan kembali kedaulatan berpikir dan identitas otentik mereka tanpa harus kehilangan akar sejarah.
Langkah awalnya sederhana, kita harus berani mendefinisikan ulang apa itu “warisan”. Generasi abi dan umi, sebagai orang tua sekaligus murabbi, perlu berlapang dada bahwa warisan terbaik mereka itu bukanlah format dakwah yang kaku, gaya komunikasi yang “islami”, ataupun cara-cara lama yang sudah tidak cocok dengan hari ini. Warisan sejati yang tidak akan pernah kedaluwarsa adalah prinsip nilai (core values) kita sebagai seorang muslim, bangsa Indonesia, serta manusia, karena nilai inilah yang harga mati dan tidak boleh bergeser sedikit pun. Sedangkan urusan ushlub dakwah, arah gerak politik, strategi, sampai bahasa komunikasi adalah hal-hal fleksibel yang harus dibebaskan dari masa lalu agar bisa bernapas mengikuti paru-paru zaman.
Setelah tugas memeluk nilai sebagai pewaris selesai, anak kader memiliki hak penuh, bahkan kewajiban sejarah untuk berdiri tegak sebagai perintis (the pioneers). Menjadi perintis menuntut keberanian emosional yang besar untuk keluar dari zona nyaman nama besar orang tua. Anak kader harus berani turun ke gelanggang-gelanggang baru yang mungkin belum pernah dipetakan atau bahkan belum pernah dibayangkan oleh generasi abi dan umi mereka. Mereka harus masuk ke ruang ekonomi kreatif, komunitas lingkungan hidup, dunia digital, hingga ruang-ruang kultural yang selama ini dianggap tabu atau tersisih dari radar gerakan konvensional.
Merintis juga berarti memberikan ruang bagi lahirnya otokritik yang sehat dan juga konstruktif. Gerakan yang sehat tidak boleh alergi terhadap evaluasi dari dalam. Anak kader, dengan perspektif zaman mereka yang lebih segar, harus diizinkan untuk melihat apa yang kurang dari generasi yang terdahulu, memperbaikinya, dan merumuskan narasi baru yang bisa diterima oleh generasi mereka jsendiri. Menjadi perintis juga berarti tidak takut membuat kesalahan-kesalahan baru. Sebab, dari kesalahan yang otentik itulah, sebuah kedewasaan dalam berpikir dan inovasi dari gerakan yang sesungguhnya akan lahir. Kita tidak memerlukan generasi muda yang hanya dapat mengangguk setuju, kita membutuhkan generasi yang mampu berpikir kritis demi keberlangsungan ideologi.
Sederhananya, hubungan antara pewaris dan juga perintis ini mirip seperti sebuah pohon. Menjadi “Pewaris” itu ibarat akarnya. Akar inilah yang bertugas menjaga pohon tetap tegak, menyerap nilai moral, ideologi, dan pelajaran sejarah agar kita tidak gampang goyah saat diterpa badai zaman. Sementara menjadi “Perintis” adalah dahan baru, daun hijau, dan buah segar yang tumbuh bebas ke atas. Dahan baru inilah yang memberi keteduhan dan manfaat nyata buat orang-orang di sekitar. Pohon tanpa akar yang kuat pasti langsung tumbang saat ditiup angin. Tapi pohon yang menolak menumbuhkan dahan baru juga bakal kering, mandul, lalu mati. Keduanya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
Bagi saya, anak kader tarbiyah ini tidak boleh dibiarkan, atau membiarkan dirinya tumbuh menjadi replika yang pasif dari masa lalu. Setiap anak muda punya keunikannya sendiri yang Allah ta’ala tetapkan untuk melanjutkan estafet dakwah ini. Kita dikirim bukan untuk menjadi penonton pasif, melainkan untuk mengarungi samudra tantangan zaman yang ombaknya justru semakin bergolak, sehingga perlu melangkah keluar dan merintis arah jalan-jalan kebaikan yang baru. Karena janji Allah itu nyata dan tidak pernah meleset. Siapapun yang mengambil peran untuk menolong agama-Nya, Allah pasti akan menolong, menguatkan, dan memenangkan setiap langkah perjuangannya. Di atas fondasi warisan nilai dakwah yang abadi inilah, masa depan dakwah ini sedang dirancang dan dimenangkan.
